
“Bu Manis tahu, enggak? Walau tampang Sepri kalah jauh dari saya, duh dompetnya Sepri Bu! Dompet Sepri obesitas sampai ditolak sama bank di kabupaten kita, Bu!” ucap Ojan sambil memu*kul-muk*ul gemas meja kayu di hadapan mereka dan memang memisahkan kebersamaan mereka. “Beruntungnya wanita yang bisa menjadi istri Sepri. Hem, pokoknya, bakalan kalungan emas sampe kepalanya enggak bisa nunduk karena lehernya penuh kalung keroncong. Gelangnya pun bisa sampai lengan penuh semua. Kaki, jari tangan termasuk jari kaki ... pokoknya rematik-rematik efek kebanyakan perhiasan!” Ojan kembali mengge*brak meja di akhir ucapannya. Ibu Manis tampak terkejut lagi, mirip orang nyaris jantungan. Lain dengan Binar yang sengaja memuji Ojan dan baginya lucu.
Di dapur, Sepri dan Suci tengah membuka kardus bawaan Sepri. Ada gula dan paket sembako, ada tiga dus susu khusus usia lanjut, dan juga beberapa herbal kesehatan, selain aneka buah yang masih sangat segar.
“Mas mau dipotongkan buah apa?” tawar Suci.
“Mbak duduk saja, biar aku yang siapin. Binar suka banget kan sama semangka?” Sepri sengaja meraih satu semangka berukuran besar dan tak menjadi bagian dari dus yang ia bawa.
Tepat di saat itu juga, ibu Manis yang awalnya melangkah jengkel menerobos gorden merah selaku penutup pintu ke dapur, langsung diam. Obrolan lirih terdengar penuh perhatian antara Suci dan Sepri menjadi penyebabnya. Kemudian, bersama rasa penasaran yang membuatnya ingin tahu lebih, ia sengaja melongok kebersamaan keduanya. Tampak Sepri yang sudah memotong semangka dengan cekatan dan potongan simpel. Potongan pertama yang Sepri ambil dan itu bagian tengah, pria itu berikan kepada Suci. Tampak Suci yang langsung kikuk, kemudian tersenyum canggung sebelum akhirnya menggunakan kedua tangannya untuk menerima potongan semangka pemberian Sepri.
“Mmmmm!” Gigitan pertama sudah langsung membuat Suci menahan senyum. Buah semangka kuning pemberian Sepri sangatlah manis, dan Suci tahu, itu hasil kebun yang Sepri urus. “Jadi, semangka yang Mas tanam di sawah, semuanya kuning, yah, Mas? Ini manis banget, tuanya pas!”
Sepri hanya tersipu, kemudian mengambil potongan semangka lainnya kepada Suci. Sebab melihat Suci seceria sekarang sambil melahap bahagia potongan semangka pemberiannya dan ekspresinya sangat mirip dengan Binar, kenyataan tersebut benar-benar membuatnya bahagia.
“Pecelnya aman enggak, ya? Es dawet ayunya juga,” sergah Sepri sudah langsung serius dan segera menghidangkan semua makanan siap saji yang ia bawa.
Ibu Manis merasa tertamp*ar atas kenyataan sekarang. Sebab di setiap Suci akan membantu, Sepri selalu melarangnya. Ibaratnya, meski rupa Sepri jauh dari tampan, dan dari parasnya saja, Sepri tampak sangat dingin sangat jarang berbicara apalagi tersenyum, kepada Suci, Sepri sangat manis. Sepri meratukan Suci.
“Priiiii, buatin layang-layang dong Priiii. Aku samping rumah Priiiiii!” Dari sebelah, Ojan benar-benar berisik.
__ADS_1
Sepri, Suci, bahkan ibu Manis yang awalnya tengah mengintip, refleks diam kemudian menggeleng tak habis pikir.
“Itu si Ojan, tenggorokannya ada mic hidupnya apa gimana? Suara kok bisa seberisik itu. Mana Binar akrab banget lagi sama dia. Lama-lama aku jadi takut si Binar ikutan bringas enggak ketulungan kayak Ojan!” batin ibu Manis.
Sekitar setengah jam kemudian, kebersamaan mereka berpindah ke sebelah rumah ibu Manis, selaku lokasi Ojan teriak-teriak. Di sana dan sampai dihiasi bangku kayu tua atau itu risban, angin berembus sangat kencang akibat keberadaan rumah ibu Manis yang ada di tengah-tengah sawah.
Sajian yang Sepri bawa menjadi teman kebersamaan dan sebagiannya sudah habis dimakan Binar maupun Ojan. Sementara Sepri tampak sibuk membuat layang-layang, menyiapkan kerangka layang-layang terbaik dan sengaja Sepri siapkan untuk Binar maupun Ojan. Karena biar bagaimanapun, Ojan wajib diurus agar mulut yang mengandung pengeras suara, tak membuat yang lain keberisikan.
Diam-diam, dalam hatinya, ibu Manis langsung agak memuji kemampuan Sepri dan baginya kreatif. Apalagi Sepri santai-santai saja ketika Binar yang sibuk makan semangka, bergelendot manja minta Sepri gendong. Sementara ketika ibu Manis melihat Suci yang duduk di sebelahnya, putrinya itu tengah menatap santai cenderung bahagia kesibukan Sepri, maupun interaksi pria itu dengan Binar.
“Sekarang, cinta versi aku ya sudah beda dengan dulu Bu. Sekarang yang terpenting orang itu tanggung jawab dan sayangnya pake banget ke Binar. Syukur-syukur dia mapan karena enggak bisa aku pungkiri, hidup ini butuh uang sekaligus materi buat modal. Agama bagiku memang perlu, termasuk fisik. Tapi ya aku sadar diri, aku ini siapa? Kok sampai tinggi banget kriterianya? Jadi, agama sama fisik beneran bisa dipupuk seiring kebersamaan. Yang penting kan seiman, kan? Kalau sudah, ayo jalani perkuat bareng-bareng. Sempurna versi pasangan kan karena dua jadi satu, dan kedua ini saling melengkapi, sama-sama berjuang, bukan hanya satu pihak saja yang berjuang,” ucap Suci beberapa jam kemudian. Ia masih duduk di risban bersama sang ibu sambil mengawasi kehebohan Binar bermain layang-layang dengan Sepri dan Ojan.
“Pri, layangannya kasih matre dong, biar kalau malam nyala, bagus loh!” ucap Ojan.
Binar yang mendengar itu langsung bengong.
“Batre, bukan matre, Jan. Kalau matre itu mata duitan sama harta. Tuh, janda-jandamu!” semprot Sepri.
“Oalah iya ... janda-jandaku emang kurang duit Pri, makanya mereka matre kan?” balas Sepri dengan jujurnya.
__ADS_1
Sepri hanya geleng-geleng sambil menggulung senar layang-layangnya. Acara layang-layang sekaligus kunjungan ke rumah ibu Manis kali ini sudah usai. Mereka harus pulang karena sudah sore.
“Layang-layangnya mau dibawa, apa di sini saja? Nanti di rumah, Om bikinin lagi. Bikin banyak!” ucap Sepri.
“Priiiii, bantuin aku juga!” rengek Ojan tak mau ditinggal. Baru ia sadari, sejak ada Binar, perhatian Sepri jadi terbagi. Sepri tak lagi melulu fokus mengurusnya.
“Belajar, pelan-pelan, biar nanti kalau kamu punya anak, kamu bisa bahagiain anak. Masa iya pas anak kamu pengin layangan, kamu cari aku buat urus atau malah panggil suami tetangga? Nanti yang ada istri kamu cari suami baru!” ucap Sepri mencoba memberi Ojan pengertian. Ia ingin Ojan mandiri terlebih kalau bisa serba bisa. “Enggak ada ruginya loh jan, jadi orang yang serba bisa.”
“Aku juga serba bisa loh, Pri. Kentut aku saja bisa jadi wabah. Kan itu artinya spesial!” yakin Ojan.
Sepri hanya menggeleng kemudian jongkok. Detik itu juga Ojan bersiap untuk naik ke punggung Sepri.
“Eh, apaan? Ya buat Binar. Masa iya, kamu?” ucap Sepri masih sangat sabar. Walau pada akhirnya, ia yang benar-benar memanggul Binar, juga harus mendengar tangisan Ojan.
“Sudah tua kok malah nangis?!” tegur ibu Manis sengaja balas dendam karena tadi, Ojan sempat mengu*litinya habis-habisan.
“Jan, malu sama kumis tegar kamu!” tegur Sepri sengaja memeluk Ojan, meski ia masih memanggul Binar.
Detik itu juga Suci menyimpulkan. Ada luka tak kasat mata yang Ojan rasakan hanya karena kini, sebagian waktu Sepri bukan hanya untuk Ojan. Terlebih sejauh ini, selama kebersamaan Ojan dan Sepri, ibaratnya, Sepri yang sudah jadi teman, pengurus, bahkan bapaknya Ojan. Iya, Suci paham apa yang Ojan rasakan dan baginya itu ada karena ikatan spesial antara Ojan dengan Sepri. Ikatan Spesial yang juga Binar rasakan karena ketulusan Sepri kepada Binar.
__ADS_1