Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
29 : PECAH!


__ADS_3

“PANTAS KAMU TIBA-TIBA MINTA CERAI, TERNYATA KAMU SUDAH PUNYA PACAR BARU, HAH! DASAR WANITA MURA*HAN! DASAR WANITA JAL*AN*G! PELAC*URRRRRR!”


Gagang sapu ijuk itu terus Budi hanta*mkan ke Suci. Terseok-seok Suci berusaha melarikan diri, tapi tangan kiri Budi yang tidak memegang sapu, kembali berhasil menahan sebelah tangannya.


DENDAM. Binar benar-benar dendam. Mata dan pendengarannya merekam semua kesalahan fatal yang Nurma apalagi Budi lakukan sekarang. Dadanya bergemuruh hebat dan ia nekat menggigit kuat-kuat tangan kanan Nurma yang masih mendekapnya. Darah segar yang terasa asin sampai ia rasa atas ulahnya. Nurma menjerit kesakitan hingga Budi berhenti memuku*li Suci.


Segera Binar pergi, menghampiri Suci, kemudian melepaskan tahanan tangan Budi kepada Suci sekuat tenaga.


“Ayo, Mah. Ayo kita pergi. Nurma dan Papah jahat! Aku malu ... aku enggak mau kenal mereka lagi!” Binar menatap sedih sang mamah, membingkai wajahnya menggunakan kedua tangan, kemudian mengelap setiap air mata yang berlinang dari kedua mata Suci. Tak lama kemudian, tangisnya pecah sepecah-pecahnya. Keadaan sekarang benar-benar membuat Binar merasa sangat hancur.


Binar rebut sapunya dari Budi kemudian meng*hantamnya sekuat tenaga ke wajah, kepala, dan itu pun sudah langsung membuat Budi sempoyongan. Hal yang sama juga Binar lakukan kepada Nurma. Nurma sempat kabur tapi dengan segera, Binar yang kehilangan rasa sakitnya setelah menyaksikan kekejian sang papah kepada Suci, akhirnya berhasil mengejar Nurma. Sebab menghindar Binar, sudah langsung membuat Nurma tersandung dan berakhir jatuh dalam keadaan tengkurap.


Bak ... Bak ... Bak!!! Penuh emosi Binar menghantam kedua kaki Nurma. Terlebih di ingatannya kini, ia teringat foto sekaligus video Nurma dan Budi. Ia ingin Nurma mati—sebuah harapan yang harusnya tidak dirasakan oleh anak kecil seusianya, tapi setelah melihat apa yang Nurma lakukan baik di foto, video, juga saat Nurma memfitnah Suci beberapa saat lalu, ia sungguh ingin Nurma mati. Karena baginya, Nurma yang sudah menghan*urkan hubungan orang tuanya.


Walau belum puas mengamu*k Nurma yang sudah langsung histeris kesakitan, Binar yang sadar sang mamah jatuh pingsan langsung menghampiri.


Binar menangis meraung-raung. Hatinya benar-benar hancur. Hingga tetangga yang terusik silih berganti berdatangan. Bahkan meski kakek neneknya berusaha menghalang-halangi mereka masuk.

__ADS_1


“TOLONGGGGGG! TOLONG MAMAHKU DIPUKULI. MAMAHKU ENGGAK BANGUN-BANGUN. TOLONGGGGGGGG! AKU ENGGAK MAU MAMAHKU MATI!” Binar memberontak. Demi sang mamah, demi keadilan untuk Suci yang telah disakiti oleh Nurma dan Budi.


Setelah tetangga berdatangan masuk, Binar kembali meminta tolong. Satu hal yang Binar ingat, dirinya diminta untuk langsung menghubungi Sepri, jika ada apa-apa. Bersama Sepri, Binar sudah berjanji untuk melindungi Suci.


“Aku harus telepon Om Sepri! Aku enggak mau mamahku mati!” batin Binar buru-buru masuk kamar. Ia mengambil ponsel milik Suci yang ia temukan di tas kerja Suci.


“Om Sepriiiiiiiiii! Ommmmmm!” Binar yang masih berlinang air mata dan emosinya sangat tidak stabil, kembali meraung-raung. Niatnya tentu mengadu, tapi keadaan yang teramat membuat jiwanya terguncang, membuat lidahnya tidak bisa bersuara. Hanya tangis tak jelas yang mampu keluar dari bibirnya, selain ia yang sampai sesenggukan.


“Binar, kamu kenapa? Ada apa, ayo cerita ke Om!”


Seorang anak yang ingin melindungi sekaligus menyelamatkan mamahnya, itulah yang terjadi pada Binar saat ini. Sambil tetap membawa ponsel Suci yang masih terhubung panggilan telepon kepada Sepri, Binar yang kebingungan buru-buru lari keluar dari kamar. Ia berniat menghampiri Suci dan lagi-lagi ia menangis meraung-raung ketika menyaksikan sang mamah dibopong oleh seorang bapak-bapak dalam keadaan tak sadarkan diri.


“Jangan bawa mamahku ke kamar. Bawa ke rumah sakit. Bawa ke klinik, tolong mamahku sakit. Tolong antar kami ke klinik mamah kerja!” Binar memohon-mohon.


“Binar, mamah kamu kenapa? Binar, kasih hapenya ke orang biarkan Om bicara dengan mereka!”


Binar sama sekali tidak merespons Sepri. Namun sekitar setengah jam kemudian, Sepri yang mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, sampai di depan rumah Budi.

__ADS_1


Suasana rumah Budi masih terbilang ramai. Beberapa tetangga masih ada yang duduk-duduk di teras. Mereka yang jumlahnya ada enam orang tampak berat, berduka. Namun, Sepri tak peduli pada kenyataan tersebut. Ia sengaja menerobos masuk tanpa salam, bahkan untuk basa-basi. Sepri bahkan tak melepas sepatu pantofelnya, asal masuk saja. Ia masuki setiap kamar di sana, dan ia sudah langsung menemukan Budi yang duduk di tikar kamar Suci. Tikar yang selama tiga minggu terakhir menjadi tempat tidur Suci dan Binar, selama keduanya tinggal di sana.


Budi yang awalnya terdiam merenung, sudah langsung kebingungan hanya karena didatangi Sepri. Sepri yang terlihat sangat marah, langsung menghampirinya dengan langkah cepat.


Buuuuuuukkkkk!! Bog*em mentah Sepri layangkan ke hidung Budi sekuat tenaga. Budi langsung terkapar dan Sepri juga meringis menahan rasa sakit akibat bogem yang ia lakukan.


Ibu Syamsiah yang sudah buru-buru menyusul kedatangan Sepri karena awalnya ia ada di dapur, langsung histeris. Ibu Syamsiah memang memergoki saat Sepri membogem Budi.


“BANGUN KAMU! BANG*SAT! BAJI*NGAN! BERANINYA CUMA SAMA PEREMPUAN!” Teriak Sepri benar-benar emosi.


Melangkah cepat, Sepri menghampiri Budi yang kiranya tergeletak setengah meter dari keberadaannya. Tak peduli meski ibu Syamsiah sudah berisik, histeris meminta tolong sekaligus memintanya menyudahi apa yang akan Sepri lakukan. Sepri tetap menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Budi dan tanpa pikir panjang memban*tingnya.


“Mamah dibanti*ng, mamah terus dipukuli ....” Sepri teringat aduan Binar saat di tengah jalan tadi. Mereka berpapasan di jalan. Rombongan Binar tengah membawa Suci yang pingsan ke klinik, sementara Sepri memang sudah inisiatif datang ke rumah Budi meski sambungan telepon yang Binar lakukan, tak kunjung memberinya kejelasan.


Tadi, saat mengadu, Binar tampak sangat kacau. Binar tampak jelas terguncang karena sekadar berbicara saja, Binar jadi tidak lancar. Alasan yang juga membuat Sepri nekat menyingkirkan tahanan warga yang berusaha menghalang-halangi ulahnya. Karena sekali lagi, Sepri mengangkat sekaligus memban*ting tubuh Budi yang sudah tak berdaya.


“PENJARA SEUMUR HIDUP TETAP BELUM CUKUP BUAT KAMU. AYO KITA DUEL SAJA. AYO KITA SALI*ING BUNUH. AKU BENERAN ENGGAK TAKUT DIPENJARA ASAL KAMU MAT*I DI TANGANKU!” tegas Sepri. “CEPAT BANGUN! BANGUN DAN LAWAN AKU, JANGAN HANYA BERANI KE PEREMPUAN!”

__ADS_1


“Sabar, Mas. Sabar ....”


“NURMA MANA NURMA! SET*AN MEMANG. BISA-BISANYA MASIH BERULAH DI DEPAN ANAK KECIL. NURMA, KELUAR KAMU! NURMAAAA!” Nurma menjadi target selanjutnya Sepri. Sepri benar-benar mencari Nurma, menggeledah setiap kamar di sana.


__ADS_2