
“Pri, ini beneran Pri?! Kamu beneran mau sama mbak Suci? Et dahhh, enggak kabar-kabar!” heboh Azzam. Terlalu bahagia lantaran akhirnya, Sepri si jomlo sejati memutuskan untuk pensiun dari kesendirian.
Azzam sudah langsung memeluk Sepri, tapi yang dipeluk justru terkecoh memandangi jelmaan berdaster pink yang juga memakai payung di hadapannya. Sosok tersebut dalam keadaan membelakanginya, hingga ia jadi bertanya-tanya.
“Apa?” tanya Azzam lantaran yang ia beri selamat malah sibuk sendiri. Dan bahkan mengawasi Ojan dari ujung kaki hingga kepala, turun lagi ke ujung kaki. Terus saja begitu.
“Itu siapa, sih? Pakaian sama kerudungnya sih punya mamah, tapi sandalnya kok ... Ojan banget, ya? Payungnya pun Ojan, berdiri enggak bisa diam juga masih Ojan!” bisik Sepri kepada Azzam.
“Kembaran mamah Septi mungkin, ... hahahahaha. Mendadak merasa durhakem kalau gini caranya. Hahahaha!” Azzam jadi tidak bisa berhenti tertawa dan bagi Sepri justru sangat mencurigakan.
Karenanya, Sepri berusaha memastikan, tapi baru ditahan lengan kirinya, sasaran langsung kabur. Kendati demikian, Sepri tak menyerah dan segera menyusul, lari. Sepri mendapatkan kerudung pink yang detik itu juga ia tarik hingga lepas dari kepala sosok dan ia curigai sebagai Ojan. Benar, itu memang Ojan!
“Hahahahaha!” Azzam terpingkal-pingkal menyaksikan Ojan berkumis tegar, ketakutan karena dipepetkan oleh Sepri.
“Kan bener! Kamu ngapain pakai punya mamah Septi?!” omel Sepri.
“Pinjem lah, Pri!” balas Ojan kembali mengambil kerudung instannya dari tangan kanan Sepri, tapi pria itu tak memberikannya.
“Beneran, ini kamu pinjam?” tanya Sepri memastikan.
Sadar, ia memang belum benar-benar meminjam kepada ibu Septi, Ojan pun jadi tidak bisa menjawab dan malah menunduk murung.
__ADS_1
“Ih kamu yah, ... lain kali jangan sembarangan. Oke, mungkin sepele, hanya baju, kerudung, atau apa pun. Apalagi mamah punya banyak. Masalahnya, kalau barang-barang yang asal kamu ambil justru punya makna atau malah dari orang yang sangat berharga gimana?” Pada kenyataannya, Sepri sudah mengajari Ojan untuk jauh lebih menghargai barang orang lain dan tak asal meminjamnya apalagi merusa*knya.
“Aku juga setuju sama kamu Pri. Walau niatnya cuma buat lucu-lucuan. Aku sendiri, andai apa yang aku kasih ke Sundari malah buat mainan sama Ojan, parahnya Sundari enggak tahu apalagi enggak kasih izin, aku juga marah,” ucap Azzam yang langsung serius.
“Nah iya, ... kan aku sudah bilang ke kamu Jan. Sudah sana pamit ke mamah Septi, bilang kamu pakai itu. Boleh enggak, atau bagaimana?” ucap Sepri kembali menceramahi Ojan lagi.
“Iya deh, iya ... besok aku beli daster sama kerudung juga. Buat main-main sama seru-seruan!” sebal Ojan nyaris menangis.
“Dibilangin jangan sewot. Didengerin itu si Sepri!” omel Azzam tak segan menjewer kumis tegar Ojan.
Ojan sudah langsung merengek kesakitan. Namun pria itu memilih pergi meminta izin kepada ibu Septi karena sudah memakai pakaian sekaligus kerudungnya.
“Eh, Pri! Kamu beneran mau nikah sama mbak Suci? Dalam waktu dekat? Berarti dalam waktu dekat, Sundari pulang, dong?” ucap Azzam bersemangat.
“Lah, Pri. Kenapa bukan dalam waktu dekat saja sih? Sumpah sudah kangen berat ke si Ndari!” rengek Azzam.
“Dibilangin nunggu beres masa idah!” semprot Sepri tapi Azzam malah memasang wajah murung.
“Ah ... ini sia-sia dong, aku sepagi ini ke sini?” keluh Azzam.
Setelah terdiam sejenak, Sepri mendadak berkata, “Ke dapur sana. Tadi mamah lagi masak banyak dan kamu mau dikasih.”
__ADS_1
“Ini yakin aku dikasih? Kalau aku dikira nge*m*is terlalu dini gimana?” ucap Azzam.
“Ah kamu sok alim banget, Jam. Biasanya juga kayak lalat ijo nylonong saja enggak permisi!” sindir Sepri dan sudah langsung disambut tawa oleh Azzam.
Kebersamaan mereka berakhir dengan kedatangan Ojan maupun Binar dan Suci. Lain dengan Azzam yang sudah langsung ke dapur menemui ibu Septi. Seperti yang kalian duga, penampilan Ojan sudah langsung membuat Binar tidak bisa berhenti tertawa.
“Sudah ih, Pri. Aku kan sudah minta maaf ke mbak Septi sama mas Andri juga. Soalnya karena semua ini pemberian mas Andri, aku disuruh izin juga ke mas Andri. Tadi mbak Septi cuma bilang, nanti pakaian ini bakalan dicuci pakai kembang tujuh rupa dan salah satunya pakai kembang desa! Hahahaha!” heboh Ojan dan sudah langsung menularkan tawanya kepada Binar.
“Ya sudah Binar, salim dulu ke Mamah. Kita berangkat, takut telat.
“Binar, ... Binar. Hari ini Kak Ojan jadi mamah jadi-jadian! Hahahah. Mamah kan gini, kan. Kalau ngomong apalagi senyum, malu-malu nunduk manis gini!” Ojan sungguh menirukan gaya Suci. Dari senyumnya, lirikannya, juga kedipan matanya ketika sedang menatap Sepri.
Ketika Suci apalagi Binar sibuk tertawa, tidak dengan Sepri yang tidak terima gaya Suci dipelesetkan oleh Ojan.
Terakhir, Sepri mengantar Binar menggunakan motor maticnya. Namun karena Ojan tak mau mengalah, justru Ojan yang duduk membonceng di depan Sepri. Sementara Binar yang tak hentinya tertawa membanggakan kak Ojan, mengalah duduk di belakang Sepri. Binar memang mendekap erat pinggang Sepri menggunakan kedua tangan. Namun sepanjang perjalanan menuju sekolah, tangan kiri Sepri tak hentinya memegangi punggung Binar.
“Priiii, ngebut dong Pri!” berisik Ojan.
“Ngebut kepalamu!” semprot Sepri makin geregetan, tapi di belakangnya, Binar malah makin terbahak-bahak.
Suci yang memang sedang piket pagi jadi sibuk senyum sendiri lantaran tingkah Ojan pagi ini. Bukan hanya karena pria itu menirukan gayanya dan sampai minta dipanggil mamah Suci jadi-jadian. Melainkan kenyataan Ojan yang malah membonceng di depan sementara Binar justru di belakang Sepri.
__ADS_1
Terlepas dari semuanya, diam-diam ada yang sengaja mengawasi perlakuan Sepri kepada Binar. Wanita bercadar hitam itu merupakan ibu Manis yang sengaja menyewa ojek hanya untuk membuktikan tanggung jawab Sepri kepada Binar dan Suci. Namun setelah memastikan, ibu Manis menyaksikan sendiri bahwa Sepri memang setulus itu. Binar saja sampai tak kalah berisik dari Ojan. Iya, Ojan si manusia dan bagi ibu Manis mirip manusia jadi-jadian karena tingkahnya yang di luar nalar.
Sore setelah Suci beres bekerja, Binar masih santai-santai saja diasuh oleh mamah Suci jadi-jadian. Binar diasuh di rumah ibu Septi, sementara seperti jadwal, sore kali ini, Suci dan Sepri akan berkunjung ke rumah bapaknya Suci. Setelah pamit, keduanya berangkat menggunakan motor berbeda. Seperti saat ke rumah ibu Manis, kali ini Sepri juga menyiapkan dua dus khusus sebagai bawaan kedua tangannya.