
Sebelumnya aku minta maaf, ini mengenai ada tidaknya wali untuk pernikahan seorang janda. Di bab sebelumnya, aku enggak menegaskan seorang janda sangat boleh menikah tanpa wali, meski ada beberapa hadist sekaligus dalil yang memang memperbolehkan. Aku bikin Suci memutuskan untuk tetap pakai wali nikah di pernikahannya nanti, Suci mau minta bantuan adiknya.
Beberapa pembaca memang kasih tahu di komentar, bahwa janda boleh menikah tanpa wali bapak apalagi alasan mereka komentar begitu, pasti efek bapaknya Suci yang begitu. Namun tolong, cukup fokus ke yang aku tulis. Tolong lebih teliti bacanya, jangan sampai malah ada komentar yang menggiring anggapan, bahwa aku sudah mengajarkan hal yang tidak benar menyangkut agama, melalui tulisanku. Aku trauma karena pernah dianggap rasi*s pas nulis novel : Menjadi Istri Tuanku, hanya karena segelintir komentar yang bikin novel sama akunya babak belur. Asli, dulu aku berhenti nulis di sini karena komentar bar-bar yang enggak nguatin. Anggap saja aku lemah, tapi mentalku memang telanjur kena. Alhamdullilah, itu jadi awal rezekiku makin melimpah. Aku yang begini bisa dapat gaji rasa gaji direktur karena dikontra*ak ekslus*i*f sama P-F berbayar. Ya sudah yah, mohon maaf buat semua kesalahanku 🙏
Jika masih ada yang ingin dibahas, bisa didiskusikan di kolom komentar ya. Soalnya kalau porsi aku, penjelasan Suci akhirnya memilih diwaliin sama adiknya, itu sudah cukup 🙏
***
Kini, ibu Manis jadi tahu kenapa Binar bisa sangat nyaman sekaligus lengkap pada Sepri sekeluarga. Sepri sekeluarga bahkan sekelas Ojan, begitu menyayangi Binar. Termasuk itu dokter Andri yang tak lain bosnya Suci. Pak Andri tak segan duduk di lantai, mencoba menyeimbangi kebersamaan di sana yang makin heboh semenjak kedatangan ibu Septi dan eyang Fatimah.
Hanya saja, efek Suci masih kerja, membuat Sepri sengaja mengajak calon ibu mertuanya keliling area sana. Bukan hanya keliling rumah hingga ke kolam ikan di belakang rumah, tapi juga sampai ke kandang ayam, kandang kambing, sekaligus kandang sapi, dan keberadaannya saling berdekatan.
“Itu kamu punya m*o*nyet juga, Mas? Kok dikasih warna pink gitu. Apa itu yang suka dibawa keliling?” tanya ibu Manis sudah mulai banyak bicara sekaligus mengobrol dengan Sepri. Faktor kenyamanan lah yang menjadi alasannya.
“Itu punyaku, Mbah! Namanya Sepri!” ucap Ojan dengan bangganya sekaligus bersemangat empat lima.
Detik itu juga ibu Manis terdiam tak percaya menatap Ojan dan kemudian ia sebut “mbajug, saru” atau maksudnya kurang sopan dan memang tidak sopan lantaran justru menamai mo*n*yet sama dengan nama Sepri.
Demi mencairkan suasana, Sepri memang sengaja mengajak Ojan, selain Binar yang sampai detik ini masih ia gendong.
“Bu, Suci masih tiga jam lagi baru beres. Kita jalan-jalan ke pasar dulu yah, kalau gitu,” ujar Sepri.
“Asyyyiiiik, dibelanjain sama calon mantu, Bu! Cihuyyyy!” heboh Ojan yang dengan secepat kilat sengaja memepet ibu Manis, kemudian ia berbisik-bisik, “Sudah kubilang, dompet Sepri obesitas! Yoklah kita belanja!”
__ADS_1
Ibu Manis mendelik menatap sebal Ojan. Jujur, ia kesal setengah mati kepada Ojan. Namun tak jarang, sikap Ojan yang ceplas-ceplos sekaligus bar-bar, juga bisa menjadi hiburan tersendiri untuknya yang selalu spaneng.
Jalan-jalan sekaligus belanja ke pasar, Sepri melakukan itu, membawa ibu Manis keliling pasar, walau pada akhirnya ia justru mengajak calon mertuanya itu belanja di toko pakaian besar.
“Priiii, aku juga dibeliin, ya!” Ojan sangat bersemangat.
“ Yang penting jangan yang serba Pink!” ucap Sepri sengaja memberi syarat khusus Ojan, sementara untuk yang lain khususnya ibu Manis, bebas.
“Ahhh, Pri. Itu aku mau jaket sama kemeja pink. Biar aku keren mirip mas Excel!” rengek Ojan.
“Mas Excel enggak mungkin pakai pink. Jangan ngada-ngada kamu. Sudah, pilih warna lain selain pink.” Kali ini, Sepri benar-benar mengomel.
“Kalau aku beli baju pink, tapi uang buat bayarnya, ngotang ... eh, ngutang dulu ke kamu, boleh enggak?” tawar Ojan sengaja bersikap manis demi merayu Sepri. Namun, Sepri dengan keputusannya yaitu menolak tegas warna pink hadir dalam hidup Ojan.
“Ayolah Pri, nanti papi Helios yang bakalan bayar. Uang papi aku kan banyak!” Ojan masih berusaha.
“Ya elah Jan. Ini aku lagi memanjakan calon mertua, kamu ya malah rempong terus!” semprot Sepri yang sudah langsung fokus kepada mertuanya.
Sepri menggandeng tangan ibu Manis, membawanya ke deretan pakaian perempuan dewasa. Sepri membiarkan ibu Manis memilih pakaian yang disuka, meski ibu Manis berdalih baru dibelikan gamis oleh Suci.
“Yang dari Suci ya dari Suci, yang dari saya ya saya. Sama-sama dari anak, kan?” ucap Sepri lagi.
“Itu, Mbah. Itu saja yang ungu, cantik!” heboh Binar, masih bertahan dipanggul Sepri. Ia menunjuk kebaya gamis yang baginya cocok dengan sang nenek.
__ADS_1
Namun ketika Binar menoleh ke belakang dan mendapati Ojan sudah mencoba mukena pink, ia langsung tertawa.
“Mirip mamah Suci yah, kalau begini,” ucap Ojan dengan bangganya dan tak hentinya tertawa lepas.
Ibu Manis yang baru untuk pertama kalinya melihat Ojan memakai perlengkapan perempuan, dan sampai menirukan gaya Suci, langsung syok. Ibu Manis langsung lupa bernapas dan itu membuat wajahnya pucat karena oksigen dalam tubuhnya yang tak berfungsi dengan semestinya.
“Yang namanya Ojan ya!” batin ibu Manis berakhir duduk lemas di lantai.
Mendapati itu, Sepri langsung mendelik bahkan mengusir Sepri melalui tatapannya yang melotot-lotot.
Hari ini, Suci memasuki kontrakannya dan pintunya dalam keadaan terbuka sempurna, dengan senyum yang benar-benar lepas. Sebab dari luar pintu saja, ia sudah mendapati Binar tengah dipakaikan baju oleh ibu Manis. Minyak telon khas aroma sereh tercium kuat dari sana dan sukses menenangkan pikiran. Sementara bedak tebal di bagian dahi khas di setiap ibu Manis mendandani putrinya selepas mandi, menjadi alasannya rindu masa-masa kecil. Karena tak beda kepada Binar, dulu, setiap didandani selepas mandi, bedak bayi yang selalu tebal, tak pernah absen di dahinya.
“Assalamualaikum ....?” sapa Suci sambil tersenyum manis.
“Waalaikumsalam, Mamah! Mamah, aku dibeliin banyak pakaian baru. Mbah juga dibeliin banyak, Mamah pun iya sama Om Sepri!” Binar sudah langsung heboh.
Tak ada hal lain yang bisa Suci berikan sebagai tanggapan, selain senyum yang terlahir dari kebahagiaannya. Karena di tengah traumanya kepada kefa*talan sang bapak, hadirnya Sepri dalam hidupnya seolah memberi warna tersendiri tak ubahnya pelangi yang akan datang setelah badai, bahkan walau mendung masih menguasai kehidupan.
Suci tidak melarang Sepri membelikan apa pun dan semua kemewahan untuk anak dan ibunya. Karena Suci yakin, itu menjadi salah satu cara Sepri mencoba merangkul hati keluarga kecil keluarga Suci agar mereka bersama dalam pondasi restu sekaligus kebahagiaan yang sempurna. Dan ia sudah langsung tersenyum bahkan tak segan melambaikan tangannya, kepada Sepri yang tengah mengemudikan truk pengangkut gabah di belakangnya. Gabah-gabah itu baru diangkut dari gudang di sebelah rumah. Sementara klakson truk yang baru terdengar juga menjadi bagian dari balasan Sepri.
Di sore menjelang senja kali ini, Sepri dan Suci berbagi kebahagiaan sekaligus keromantisan melalui tatapan, senyuman, dan juga lambaian tangan. Ibu Manis yang telanjur kepo, langsung berkaca-kaca menyaksikannya.
“Ya Allah, kalau memang Sepri yang terbaik, hamba ikhlas ya Allah!” batin ibu Manis buru-buru menyeka sekitar matanya yang basah. Namun berbeda dari biasanya, kali ini alasannya menangis karena ia terlalu bahagia.
__ADS_1