
Suci tidak bisa tidur. Tak nyaman rasanya jika harus satu ranjang dengan Budi lagi. Apalagi semenjak Budi mengaku mati rasa bahkan jiji*k kepadanya, yang mana biasanya Budi juga akan langsung pergi jika Binar sudah tidur. Kini, bersama Binar yang terbangun merengek layaknya bocah kebanyakan, Suci harus segera balik badan. Ia tidak berani menatap ke arah Budi lantaran pria itu ia yakini tengah mengawasinya, dan terus begitu, dari tadi sejak pria itu memutuskan tidur di sana.
“Mamah, Papah sudah kerja?” rengek Binar.
Karena biasanya, selama mereka kembali tinggal di sana, yang Binar tahu, alasan Budi tak lagi bersama mereka ketika bocah itu terbangun karena Suci mengabarkan Budi sedang bekerja. Suci belum siap mengabarkan hubungan Budi dan Nurma kepada Binar karena melihat papahnya dekat Nurma saja, Binar langsung menga*muk. Binar akan langsung terlihat hancur di setiap ingat kedekatan Budi dengan Nurma. Binar pernah mengatakannya kepada Suci mengenai Nurma yang tak segan memeluk Budi.
“Ci ...?” panggil Budi ketika Binar sudah tidur dalam dekapannya. Setelah Binar sampai memeluknya, Suci kembali memunggunginya. “Kamu kenapa? Kamu sengaja jaga jarak dari aku?”
Suci yang sebenarnya belum bisa tidur, memilih diam.
“Ci, aku tahu kamu belum tidur,” lanjut Budi masih berusaha menarik perhatian Budi.
Suci berangsur berdeham. “Ya sudah, Mas. Maaf. Kalau begitu, aku tidur di tempat lain saja.” Suci bergegas pergi. Bersamaan dengan itu, dalam benaknya kini ia teringat ucapan Budi ketika mengaku mati rasa sekaligus jij*ik kepadanya.
“Aku beneran sudah mati rasa ke suci! Alasan kami masih harus bareng-bareng, beneran semata karena Binar!”
“Jangan buka cadarmu karena wajah kamu bikin jij*ik! Mana bau amis kor*eng gini!”
Kedua kalimat Budi itu benar-benar tidak bisa lupakan. Kalimat yang membuat mental Suci sangat tidak baik-baik saja melebihi luka dari KDRT yang Budi lakukan. Karena gara-gara kedua kalimat tersebut pula, Suci jadi tidak percaya diri, bahkan meski kini, perawatan yang Suci jalani sudah membuatnya kembali cantik lagi. Ditambah lagi, perseling*kuhan Budi dan Nurma, justru menjadikan Suci sebagai penyebab sekaligus sosok yang wajib disalahkan. Terlebih Budi dan orang tuanya sendiri yang berkoar, Suci tidak bisa membahagiakan Budi. Suci bukan istri yang baik apalagi sempurna. Karena sekadar memua*skan suami saja, Suci tidak bisa hingga Budi menemukan itu dari Nurma.
“Ci, ... kamu kenapa, sih?” tegur Budi lantaran Suci sudah nyaris pergi dari kamar. Suci sudah sampai membuka pintu kamar.
__ADS_1
“Sabar Ci, ... meski dia sudah melukai kamu lahir batin, biar bagaimanapun, dia ayah dari putrimu. Yang penting, sudah jangan mau disentuh lagi. Toh kalau sampai ada apa-apa, kamu juga yang disalahkan.” Hati kecil Suci menasihati, dan Suci setuju. Ia akan tetap main cantik demi Binar.
“Sebenarnya, Mas maunya apa? Sudah, katakan saja. Aku sadar diri kok Mas,” ucap Suci berusaha sesabar mungkin.
Budi sadar, Suci masih minder kepadanya. Suci sengaja menjaga jarak karena wanita itu ‘sadar diri’. Karenanya, ia sengaja berdeham kemudian berkata, “Kamu enggak lagi ‘halangan’, kan?”
Ditanya begitu, Suci sudah langsung yakin, Budi ingin dila*yani. “Memangnya kenapa, Mas?” Namun sebelum menjawab, Suci segera berkata, “Sebenarnya dari maghrib aku datang bulan.”
Mendengar itu, Budi yang mengangkat kepalanya, refleks mengernyit. Suci tahu, jika sudah begitu, Budi mulai marah. “Dari maghrib datang bulan bagaimana? Kamu mau menghindari kewajibanmu sementara tadi saja, kamu salat!” omel Budi.
“Aku salat karena demi nemenin Binar, Mas. Biar Binar terbiasa salat, sementara jika bukan aku, siapa yang menemani? Mas enggak mungkin, bahkan Mas sudah enggak pernah salat, kan?” Setelah berucap demikian, dalam hatinya Suci berujar, memohon ampun kepada Sang Pemilik Kehidupan karena ia telah menolak ajakan wajib dari Budi. “Hamba tahu apa yang hamba lakukan dosa, ya Allah. Namun ini lebih baik, ketimbang hamba menjalaninya setengah hati. Karena jujur, hamba tidak yakin masih mampu ‘berhubungan’ dengan laki-laki bahkan itu mas Budi. Hamba tidak percaya diri.” Yang Suci sadari dari apa yang ia alami, apa yang ia rasa bahkan ia sampai kehilangan kepercayaan diri, ulah Budi telah membuat mentalnya baik-baik saja. Dan Suci wajib menjalani pengobatan agar luka mentalnya tak berakibat fatal.
“Hah!” Budi mendengkus kecewa. “Ya sudah ... biasanya cuma empat harian, kan?” ucapnya pasrah karena mau bagaimana lagi? Yang diajak mengaku datang bulan.
“Kamu gelisah begitu enggak sedang bohongin aku, kan?!” marah Budi karena telanjur curiga.
“E-enggak, Mas. Sebenarnya ....”
“Sebenarnya apa?!”
“Aku mau ngobrol ini ke Mas. Karena sejak diKDRT, aku jadi sering mens ... pengin berobat tapi belum ada uang.” Suci menunduk dalam. Tak seperti sebelumnya, kali ini Budi mendadak melempem. Jelas Budi tidak mau mengurusnya. “Ya Allah, jauhkanlah kami jika mas Budi tidak baik buat hamba bahkan putri kami. Tak peduli meski mas Budi papahnya Binar, hamba siap jadi orang tua tunggal!” batin Suci.
__ADS_1
“Kamu kan kerja di bidang kesehatan, ya tinggal beli obatnya saja, biar enggak boros!” ucap Budi setelah membuat Suci menunggu.
“Masalahnya enggak hanya itu, Mas!” lanjut Suci mencoba jujur.
“Aduh ... apalagi sih, Ci! Kamu yah, kebiasaan. Padahal dulu-dulu kamu enggak begini! Kenapa sekarang jadi ngeluh terus?” omel Budi lagi.
“Yaa ... aku kan bukan Nurma yang bisa leluasa mengeluh ke suami orang, Mas. Lumrah aku ngeluh ke Mas. Toh, enggak dikasih pun, aku juga enggak sampai menuntut meski sebenarnya aku berhak.” Suci menangis. Terlalu menyakitkan jika ia yang terus dituntut, tidak diberi kesempatan untuk sekadar menyampaikan haknya.
Suci sengaja menutup obrolan kali ini. Ia memilih bertahan di depan pintu, duduk meringkuk di sana sambil merenung, sampai kapan ia akan begitu sementara kepada Nurma saja, Budi tak segan KDRT, dan kepadanya saja, Budi tetap kasar.
Keesokan harinya, di jam makan siang, Suci sengaja membawa Binar makan di kantin. Karena seperti biasa semenjak mereka kembali tinggal di rumah Budi, setetes air minum pun tidak mereka konsumsi apalagi bawa dari sana.
“Sayang ...?”
Panggilan lembut Suci kepada Binar sudah langsung mengusik seorang Sepri yang awalnya sedang mencari-cari serius bahkan emosi ke sudut kantin.
Sepri refleks menoleh kebersamaan di sudut depan sana dan memang jauh dari keramaian. Ia memergoki Suci yang tampak berat menatap Binar.
“Iya, Mah?” jawab Binar menatap saksama kedua mata mamahnya yang tak memakai cadar.
“Enggak apa-apa, kan, kalau kita enggak sama papah?” ucap Suci.
__ADS_1
Kali ini, suara Suci terdengar sengau khas orang menangis. Hati Sepri seolah teriris hanya karena mendengarnya. Sekelas Suci yang sangat penyabar, sampai berinisiatif jujur kepada Binar? Sepri yakin, keadaan justru makin tidak baik-baik saja hingga Suci nekat menarik Binar dari prahara rumah tangganya.