Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
22 : Sandiwara dan Melepas Tanggung Jawab


__ADS_3

“Binar, ... Binar ingat yah. Mulai sekarang, Binar harus jaga Mamah. Biar wajah Mamah enggak sakit-sakit lagi,” ucap Sepri sengaja memberi Binar misi rahasia.


“Iya, Om. Aku bakalan jagain Mamah. Biar Mamah enggak sakit gitu lagi. Wajah Mamah jadi serem, tapi itu kenapa?” balas Binar yang jadi sibuk bertanya-tanya dalam benaknya. Kenapa wajah sang mamah bisa begitu?


Sepri yang masih jongkok di hadapan Binar, berangsur menghela napas panjang sekaligus dalam. “Sudah saatnya kamu bahagia, Mbak. Sudah saatnya kalian bebas dari Budi sekeluarga. Lebih baik menjadi janda sekaligus orang tua tunggal, daripada punya suami, tapi terus makan hati. Kamu dijadikan ATM berjalan, terus dipoligami, diKDRT, hah ... beneran enggak ada enaknya. Yang kamu dapat hanya air mata pernikahan. Aku doakan kamu cepat cerai lah. Enggak apa-apa, meski jika karena cerai, kemungkinan kamu dikejar-kejar Ojan, makin besar,” batin Sepri. Ia berangsur mengajak Binar ke alfa terdekat.


“Binar mau beli jajan apa? Om yang beliin,” ucap Sepri.


“Enggak, Om. Kata Mamah, aku enggak boleh jajan sembarangan, selain aku yang enggak boleh asal menerima hadiah,” santun Binar.


“Enggak apa-apa. Kalau sama Om kata Mamah boleh. Kan Mamah juga kerja di klinik, Om, kan?” lembut Sepri sambil terus menuntun Binar.


“Ciiieee Sepri! Cieeee! Menjandakan istri orang demi dinikahi sendiri! Asyiiiik! Inspirasi baru ini! Memang istrimu semangatku sih. Istri tetangga wajib digoda biar dapat jandanya! Wuaasyiik!” heboh Ojan sambil lari meninggalkan teras rumah.


Sepri yang sudah melangkah hingga depan gerbang rumah, sudah langsung panik. Sepri refleks lari sambil tetap menyertakan Binar yang ia gandeng.


“Om Sepri, yang namanya Om Ojan kok gitu, ya. Suka ngomong sama senyum sendiri. Aku takut, Om Sepri! Eh, Om, si Om Ojan jatuh!” ucap Binar tak kalah panik dari Sepri.


“Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Orang kayak Ojan susah matinya kok. Sudah biarin saja, dia itu punya banyak stok nyawa!” yakin Sepri yang kemudian menyesali balasannya. “Ya ampun kok bahasaku kayak pas aku sama Azzam. Duh, pasti Binar langsung kepo maksud aku apa!” sesalnya dalam hati.


“Memangnya kalau jatuh, bisa mati, yah, Om? Terus, maksudnya om Ojan punya banyak stok nyawa, apa?” tanya Binar, benar-benar seperti yang Sepri khawatirkan.

__ADS_1


“Ya Allah mulutku, beneran mulut yang enggak cocok ngobrol sama anak-anak,” batin Sepri benar-benar menyesali keadaan.


“Priiiiiii, tolongin aku Priii, sakit Pri!” rengek Ojan, tapi ia tetap ditinggal. Sepri tampak jelas tidak mau ia ganggu.


***


Beres menjalani perawatan wajah, Suci sengaja membawa Binar pulang. Namun, Suci tetap memakai cadar. Acara pulang yang Suci jalani pun untuk sekadar formalitas agar ia dan Binar tidak benar-benar tidak pulang ke rumah orang tua Budi, terlebih Suci memang belum izin.


Sekitar pukul dua siang, motor Nurma sudah ada di teras rumah keluarga Budi. Nurma sudah pulang dan membuat mulut ibu Syamsiah tidak bisa diam.


“Kamu lagi, kenapa jam segini sudah pulang, bukannya kerja cari uang?!” semprot ibu Syamsiah sambil menatap kedua mata Suci yang tidak ditutup cadar.


“Hah, ... apaan sih. Kamu ngomong apa, enggak jelas?!” semprot ibu Syamsiah yang sebenarnya mencoba menolak kenyataan. Karena jika bos saja bekerja sangat keras, kenapa Nurma yang ada di bawahnya dan baru kerja, justru mirip nyonya?


“Memang si Mbah bude*g yah, Mbah? Masa Mamah bilang kayak tadi, Mbah bilang enggak jelas?” ucap Binar dengan jujurnya dan sudah langsung membuat ibu Syamsiah mendelik.


Hari demi hari berlalu berganti minggu. Tiga minggu sudah Nurma di rumah dan tak lagi pergi kerja. Nurma terus menggunakan kehamilannya untuk main cantik. Di lain sisi, Suci yang sudah tidak banyak bicara bahkan masa bodo selain kepada Binar, juga main cantik dengan caranya sendiri. Suci masih menjalani rutinitasnya mempercantik diri. Bahkan Suci yang terbiasa menutup sebagian wajahnya menggunakan masker sekaligus kacamata, langsung membuat orang rumah apalagi Budi dan Nurma pangling, ketika wanita itu membukanya. Suci menjadi makin cantik berkat perawatan yang ia terima dari Sundari.


“Mamahku memang yang paling cantik!” ucap Binar ceria dan sengaja memuji sang mamah selepas wanita itu wudu untuk salat isya bersamanya.


“Bentar, aku panggil papah dulu. Biar kita salat bareng!” ucap Binar bersemangat. Ia sudah berlari, tapi ternyata sang papah sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum memandangi wajah cantik Suci. “Ciiieee, Papah!” Binar sengaja menggoda*nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ibu Syamsiah juga melongok dan tampak sangat penasaran. Namun, wajah cantik Suci yang kini tampak glowing mirip wajah artis-artis Korea Selatan, meski beberapa bekas luka masih ada yang terlihat samar, kembali Suci tutup dengan cadar.


“Ci, kamu pakai skincare apaan, sih? Putih mulus gitu?!” kepo ibu Syamsiah yang kemudian berkata, “Bagi-bagi dong ke Ibu. Biar Ibu cantik juga kayak kamu!”


“Ini resep dari dokter, Bu. Calon istrinya mas Azzam kan dokter. Dia yang urus wajah aku. Coba Ibu tanya ke Nurma, dia kan manajer di pabrik mas Azzam. Harusnya mereka dekat, bisa ngobrol-ngobrol!” ucap Suci sengaja membuat Nurma yang selama tiga minggu terakhir, hanya bermalas-malasan di kamar sambil memesan sederet makanan kepada Budi, memiliki beban tambahan.


Ulah Nurma akibat kehamilannya, membuat Budi mengecap Nurma boros. Budi sampai tak mau lagi membelikan keinginan Nurma, meski Nurma berdalih, semua keinginan Nurma itu, efek mengidam.


Main cantik versi malasnya Nurma, membuat tubuh Nurma menggendut dengan sangat cepat. Ditambah lagi, tanpa adanya perawatan karena sudah tidak mendapat jatah uang perawatan, penampilan wajah Nurma juga jauh dari kata menarik dan Nurma menyadari itu.


Kini, diam-diam Nurma mengawasi kebersamaan ibu Syamsiah dan Budi yang berdiri di depan pintu kamar Suci. Ibu Syamsiah yang makin kurus karena tiga minggu terakhir telah menjadi kac*ung di rumahnya sendiri gara-gara Nurma, menatap sangat ingin apa yang ada di dalam sana, dan Nurma tahu, ibu Syamsiah ingin glowing juga mirip Suci.


“Jangankan si Ibu, aku saja pengin pakai banget. Terus itu ngapain juga mas Budi senyum-senyum gitu merhatiin Suci, sih!” kesal Nurma yang kembali bersandiwara. Ia agak jongkok sambil memegangi perutnya yang penuh lipatan, menggunakan kedua tangan.


“Ya ampun Mas Budi ... Mas, perutku sakit banget, Mas! Mas t-tolong, Masssss!” Nurma terus merintih, dan berakhir terduduk.


“Innalilahi lagu lawas andalan PEMALAS!” sinis ibu Syamsiah. “Sudahlah Bud. Kalau gitu terus, sudah antar saja ke rumah orang tuanya. Suruh dia tinggal bareng orang tuanya. Masa iya, berat badan Mamah sampai turun sepuluh kilo dijadikan bab*u di rumah sendiri! Urus rumah, urus dia, urus anak-anak dia. Cang*cut dia saja Mamah yang ngucek. Nadjis banget! Lihat, saking pemalasnya, cele*ng atau bab*i ngepet saja lebih menarik dari wujud Nurma yang sekarang! Banyak kok wanita hamil di luar sana, tapi ya enggak pemalas kayak kamu! Kamu mah sudah kebangetan!”


ucap ibu Syamsiah berkeluh kesah dan benar-benar berisik.


Niat hati bersandiwara untuk melepas tanggung jawab, tampaknya Nurma malah menggali lubang kematian untuk dirinya sendiri—pikir Suci.

__ADS_1


__ADS_2