Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
45 : Pasangan Impian


__ADS_3

“Nurmaaaa, masa jam segini belum ada makan malam! Kamu, ya!” teriak ibu Syamsiah.


Nurma yang tengah masak di dapur langsung mendengkus kesal dan tetap memilih membelakangi sang ibu mertua. Ia tetap mengaduk sup bakso di panci yang masih tahap masak. Terlepas dari semuanya, alasan pakaian bahkan tubuhnya ko*to*r, tentu karena magrib tadi, Nurma baru pulang dari sawah.


Kenyataan Nurma yang tak memiliki keahlian khusus, juga mencari pekerjaan yang memang sulit, membuat Nurma terpak*sa bekerja ikut tetangga ke sawah. Bisa kalian bayangkan bagaimana perjuangan Nurma yang biasa santai, kini justru bekerja di sawah dari pagi hingga maghrib, padahal Nurma tengah hamil muda.


Sebenarnya Nurma tidak mau melakukan pekerjaan di sawah karena pekerjaan di rumah Budi pun, masih serba dirinya yang urus. Ditambah lagi, denda kepada Suci juga memakai tanah maupun sawah orang tua Nurma. Namun karena mulut ibu Syamsiah terus mengoceh dan seolah menyemburkan kobaran api yang juga bera*cun, Nurma memutuskan nyempil ke rombongan ibu-ibu tetangga di sana, terjun ke sawah. Tentu, kenyataan tersebut juga tak luput dari kicauan para tetangga sekaligus ibu-ibu satu pekerjaannya, yang telanjur menganggapnya sebagai ‘wanita tidak benar’, wanita perus*ak rumah tangga orang.


“Sepertinya memang benar kata mereka, aku sedang menelan kar*ma dari apa yang aku perbuat ke Suci. Malahan sepertinya, lepas dari sini justru membuat awal mula kebahagiaan Suci!” batin Nurma sudah langsung melirik jengkel ibu Syamsiah. Tidak merasa masak, tapi sudah langsung membawa dua mangkuk dan menghabiskannya sendiri di meja makan.


Ketika akhirnya kedua anak Nurma masuk dapur pun, ibu Syamsiah yang mendadak berdiri, buru-buru mengambil baskom kemudian memindahkan sebagian besar sup bakso di panci, ke mangkuk tersebut. Ibu Syamsiah hanya menyisakan dua butir bakso dan sedikit bihun, selain kuah supnya yang kiranya hanya satu mangkuk.


“Mbah, itu mau buat apa? Buat kami? Jadi kami tinggal ambil nasi?” tanya El bersemangat mengikuti sang nenek yang kembali menghampiri meja makan.


“Buat kalian bagaimana? Ini buat Mbah, buat nanti malam. Itu kalian makan yang di panci saja. Kasih nasi, kalau masih kurang, kasih air sama garam lagi!” balas ibu Syamsiah yang sudah langsung mengomel.


Mendengar itu, tubuh Nurma yang sudah meriang, mendadak seperti dibakar. Nurma yang sudah sangat marah dan telanjur muak, segera bertindak.


“Arrrrrrrrrrrrgggggghhh!” Ibu Syamsiah sudah langsung histeris setelah satu baskom sup bakso panas yang ia amankan justru Nurma guyurkan ke wajahnya.

__ADS_1


“Jadi orang tua makin lama makin enggak tahu diri!” marah Nurma histeris dan tak segan menggunakan baskom di tangannya untuk memuku*li ibu Syamsiah.


Sementara kedua anak laki-laki Nurma yang telanjur kelaparan, memilih cuek kepada sang nenek yang memang makin hari makin kejam kepada mereka. Malahan keduanya sepakat memakan bakso milik sang nenek dan menambahinya dengan nasi.


“Sudah habisin saja kan kaki(kakek) juga lagi kenduri, dan bapak pun masih narik travel ke Jakarta,” ucap Al sengaja memberi arahan kepada sang adik yang juga langsung menurut. Ia tetap tidak peduli kepada sang nenek yang mengaku kesakitan di bagian matanya.


***


Malamnya, Suci yang sudah dibisiki oleh Ratna bahwa kemungkinan besar Sepri menyukainya, jadi gugup ketika pria itu menghampirinya.


“Ini beneran enggak bisa ikut ke acara pengajian mas Akala?” tanya Sepri memastikan dengan nada suara yang terdengar sedih di telinganya sendiri.


“Sinyal jand*aku sedang kuat!” heboh Ojan yang tiba-tiba datang.


Suci yang awalnya sedang menahan napas sekaligus menyiapkan balasan terbaik untuk Sepri langsung kaget. Terlebih, suasana di sana terbilang sepi karena memang sedang minim orang, selain mereka yang wajib menjaga suara demi kenyamanan pasien.


“Ayok Mbak Suci, ikut sama saya! Jadi pasangan saya saja lah, kalau Sepri tetap enggak bilang cinta!” sergah Ojan sengaja men*odong Suci.


Sepri yang berdiri di sebelah Ojan langsung mendorong kepala Ojan sekuat tenaga.

__ADS_1


Ojan yang diperlakukan seperti itu sengaja berdrama, sempoyongan, berputar-putar, kemudian terduduk lalu jungkir balik. Suci yang sempat syok dan berpikir Ojan memang kaget dan berakhir fatal, tak jadi keluar dari konter tempat kerjanya. Karena Binar yang melihat adegan Ojan pun juga langsung ngakak.


“Kak Ojan lucu ... mirip topeng mony*et Sarimin yang sore tadi di depan klinik!” komentar Binar di tengah tawanya.


Sepri yang awalnya tidak tertawa, jadi ikut tertawa. Meski tentu saja, di depan Suci, ia masih jaim. Apalagi ketika lirikannya tak sengaja bertemu dengan tatapan Suci yang juga tengah tersenyum menyikapi interaksi Binar dan Ojan. Rasanya ada sekumpulan burung yang bercicit ditambah sepoy angin yang membuat keadaan di sana sangat segar. Kikuk—rasa itu sungguh Sepri bahkan Suci rasakan.


“Enggak tahu kenapa, di sini, selepas perceraianku dan papahnya Binar, Binar justru makin bahagia. Padahal, orang-orang di sini bukan saudara Binar, kami sama sekali enggak memiliki ikatan darah. Namun memang enggak bisa aku pungkiri, ketulusan dari mereka kepada kami menjadi ikatan kuat sekaligus alasan kami dekat,” batin Suci benar-benar merasa bersyukur.


“Priiiiiiiii!” panik Ojan lantaran sarung pink yang ia jodohkan dengan lengan panjang hitam, lepas. Yang langsung Sepri lakukan adalah mendekap Binar yang sampai ia emban, selain ia yang sengaja berdiri di depan Suci hingga pandangan Suci ke Ojan, terhalang dadanya.


“Pasangan seperti ini juga yang sangat hamba dambakan ya Allah ... ini enggak tahu baper apa bagaimana, tapi rasanya jadi campur aduk. Nelangsa, sedih, senang, tapi cara mas Sepri yang terus saja mengayomi kami, menganyomiku maupun Binar, jadi kebahagiaan tersendiri. Aku tahu rasa ini datang terlalu cepat, terlebih jika melihat masa laluku, rumah tanggaku sebelum ini. Namun jika melihat keadaan, dari Mas Sepri sekeluarga yang sangat baik, juga Binar yang sudah nyaman banget dengan mas Sepri, ya sudah, dijalani saja. Tapi aku mau doa dulu, takutnya mas Sepri mendadak berubah kayak mas Budi,” batin Suci.


“Aku masih pe*rawa*n, Pri!” rengek Ojan sambil memakai sarungnya dengan benar.


Sepri langsung geleng-geleng, tapi mendadak siaga lantaran ada rombongan yang datang dengan tergesa sekaligus wajah panik. Ada pasien yang datang, korb*an kecelakaan, dan itu justru Budi. Sepri yang awalnya akan membantu jadi tidak jadi dan memilih tetap mengamankan Binar. Terlebih, dari kepala, wajah, hingga kaki Budi berlumur d*arah.


“M-mas ...?!” Suci sudah langsung panik dan memang syok mendapati ayah dari anaknya, dalam keadaan seperti itu.


“Tenang, pokoknya kamu tenang!” lirih Sepri yang kemudian membawa Binar dari sana. Ia sengaja membenamkan wajah Binar ke dadanya, tak mau Binar melihat apa yang terjadi kepada Budi. Meski jujur, Sepri jadi penasaran alasan Budi sampai seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2