
Budi menatap dalam kedua mata Suci. Namun tatapan Suci berangsur turun menghindari tatapannya.
“Binar ingin kita terus sama-sama,” ucap Budi yang curiga, Suci hanya sedang mencari-cari alasan untuk berpisah darinya.
Suci sudah tidak minat melanjutkan obrolan mereka karena baginya, semuanya sudah jelas. Terlebih dari awal, Budi juga yang meru*sak semuanya. Budi yang berkhianat, Budi yang berzina, menikah lagi, dan tak segan ringan tangan dalam menyelesaikan emosinya. Kenyataannya memang begitu, tapi karena Budi sekeluarga bahkan Nurma justru menyalahkan semua itu kepada Suci, Suci juga jadi kena mental.
Kenyataan Budi sekeluarga termasuk Nurma yang mengecap Suci sebagai istri gagal, istri yang tidak bisa menjaga, istri yang tidak bisa membahagiakan sekaligus memuas*kan suami, semua kenyataan tersebut membuat mental Suci tidak baik-baik saja.
“Aku tahu sebuah perseling*kuhan ada karena banyak faktor. Tak selamanya perselingku*han dalam pernikahan murni salah pasangan termasuk itu salah istri yang diselingkuh*i. Alasan mereka menyalahkan aku tak ubahnya alibi sekaligus membela diri. Namun ... semua ini sudah telanjur membuatku merasa gagal,” batin Suci. Ia menyambut bangunnya Binar dengan senyuman. Badannya terasa meriang karena selain menahan sakit lahir batin, dari kemarin ia juga tidak bisa tidur.
“Mamah, Pa—pah ...?” Binar mencari papanya, tapi kali ini, pria itu ada di sebelahnya. Budi masih tidur lelap dan sampai mendengkur. Alasan yang menjadi penyebab dirinya tersenyum lega sambil menatap mamahnya.
“Alhamdullilah, Ma!” batin Binar yang kemudian memeluk erat Suci. “Alhamdullilah akhirnya aku masih punya papah mamah!” ucap Binar lagi sebagai wujud dari rasa syukurnya.
Ulu hati Suci sudah langsung terasa sangat sakit hanya karena mendengarnya. “Sabar ya Binar sayang. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Karena setelah keluar dari lingkungan ini yang sangat toxic, insya Allah Mamah sanggup antar kamu mengikuti jejak mbak Sundari. Mamah sanggup usaha biar kamu bisa jadi dokter yang sukses seperti cita-cita kamu!” sumpah Suci dalam hatinya. “Mamah tahu, Mamah jauh dari sempurna. Namun demi kebaikan sekaligus kebahagiaan kamu, Mamah akan melakukan apa pun!” yakin Suci sambil membingkai wajah Binar menggunakan kedua tangannya.
“Makasih banyak Mah!” balas Binar makin bahagia. Ia menatap sang mamah penuh cinta. Namun sejauh ini, yang ia tangkap, Suci akan kembali bersama Budi. Mereka bertiga tanpa Nurma. Alasan yang akan selalu menjadi sumber kebahagiaannya. “Selamanya kita akan begini. Aku, Mamah, Papah, kita akan selalu saling sayang!” batin Binar optimis.
“Hari ini kita libur, Binar mau jalan-jalan apa gimana?” tanya Suci.
“Kalian mau jalan-jalan ke mana?” ucap Budi yang terbangun dan berangsur duduk.
__ADS_1
Ikutnya Budi dalam obrolan mereka benar-benar menambah kebahagiaan Binar. Binar yang kegirangan sudah langsung memeluk Budi.
“Kita jalan-jalan, tapi hanya bertiga ya, Pah!” sergah Binar.
“Mau pakai motor apa mobil? Tapi nanti malam, Papah mau antar orang ke Jakarta. Lumayan, ada tujuh penumpang,” ucap Budi.
Di luar, Nurma yang sengaja bangun lebih awal, termangu menatap pintu kamar Suci. Gara-gara Budi tidur di kamar Suci, ia memang tidak bisa tidur. Apalagi sebelumnya, pemberon*takan yang Binar lakukan, membuat Budi tidak mengakui hubungan mereka. Budi bahkan terkesan akan membuang Nurma, dan Nurma sangat takut, hal itu benar-benar akan terjadi. Terlebih kini, dari dalam terdengar suara Binar yang sangat ceria sedang mengobrol dengan Budi. Suara Budi membalas dengan lembut dan terdengar sangat menyayangi Binar.
“Ancaman nyata ini. Bahaya. Mereka mendadak tak terpisahkan!” batin Nurma ketar-ketir.
Nurma yang sadar sudah kalah saing dari Suci dalam segala hal, jadi dendam. Sadar tidak bisa melampiaskannya kepada Suci apalagi Budi, ia berniat melampiaskannya kepada Binar. “Binar! Binar sendiri yang akan memisahkan mas Budi dari Suci!” batin Nurma.
Sekitar pukul enam pagi, Nurma memergoki pintu kamar Suci yang akhirnya dibuka. Tampak Budi yang keluar dari kamar dan langsung keluar rumah. Nurma yakin Budi akan membersihkan mobil atau setidaknya memanasi mesin mobil di depan rumah. Tak lama kemudian, Binar yang terlihat sangat ceria juga tampak akan menyusul Budi. Namun kesempatan itu, Nurma manfaatkan untuk menarik perhatian Binar.
“Sini ...!” yakin Nurma berbisik-bisik sambil melambai-lambaikan tangan kanannya, agar Binar segera mengikuti arahannya.
Meski merasa sangat benci, marah, bahkan dendam kepada Nurma, Binar memutuskan untuk mengikuti ajakan Nurma. Ia segera lari, menyusul Nurma ke dapur dan bermaksud meminta Nurma agar tidak dekat-dekat dengan papahnya.
Ketika Binar sampai dapur dan di sana hanya ada Nurma, Binar memergoki Nurma tengah sibuk dengan ponsel. Wanita itu segera mendekat dan sampai jongkok di hadapannya sambil menyodorkan ponselnya.
“Lihat, ini papah kamu sama Bude. Papah sayang banget ke Bude. Tuh lihat, papah peluk Bude, Bude dic*ium-c*ium. Nah ini vide*o papah sama Bude!” lembut Nurma tak segan menunjukkan koleksi video miliknya dan Budi termasuk video ketika mereka tengah berhubungan se*ks.
__ADS_1
Darah Binar langsung mendidih hanya karena menyaksikan semua itu. Binar benar-benar marah, benci, bahkan dendam. Binar memang tak bersuara, tapi dari kedua matanya yang menatap tajam layar ponsel maupun wajah Nurma yang terus mengumbar senyum bahagia, cairan bening menjadi sibuk mengalir.
Dalam sekejap Binar merebut ponsel Nurma kemudian memban*tingnya sekuat tenaga. Ponsel Nurma sudah langsung pecah di lantai. Nurma yang menyaksikan itu meradang.
“Dasar anak sil*uman!” mak*i Nurma tak segan menggunakan gagang sapu ijuk di sebelahnya untuk memuku*li Binar dengan brut*al.
“Mamaaah sakiiiittt!”
Binar meraung-raung dan langsung menggemparkan seisi rumah, termasuk Suci yang tengah menyiapkan keperluan liburan di kamar. Detik itu juga semuanya terusik, tapi Suci lebih dulu sampai di dapur selaku sumber tangisan Binar.
“Mamah sakit, ampun!”
Jantung Suci seolah dire*mas menyaksikan putri semata wayangnya dipuku*li menggunakan gagang sapu ijuk sekuat tenaga oleh Nurma. Tangan Binar sudah merah-merah dan Suci tidak terima. Suci rebut sapunya kemudian nyaris menghanta*kannya kepada Nurma.
“Mas, lihat Mas! Suci mukul-mukul Binar sampai segitunya, Mas. Lihat ... ya ampun Ci! Kalau kamu sudah punya pacar baru dan Binar enggak izinin, bukan berarti sampai mu*kul brut*al begitu karena kalau kamu enggak mau urus Binar, aku sanggup urus Ci!” sergah Nurma sengaja bergerak cepat terlebih situasi benar-benar sangat menguntungkan melebihi yang ia mau. Tak lupa, ia juga pura-pura menangis sesaat setelah ia memeluk Binar.
Posisi Suci benar-benar tersudut dan fitnah keji yang Nurma layangkan, membuatnya menjadi tersa*ngka untuk kas*us yang awalnya akan Suci hentikan. Terlebih kini, Budi sudah langsung menatap Suci tajam.
“Kamu sudah punya pacar lagi ...?” lirih Budi penuh penekanan. “KAMU PUNYA PACAR LAGI DAN SEKARANG KAMU BERANI MUK*UL-MUKU*L BINAR?!” lanjut Budi yang kali ini marah-marah.
Detik itu juga Binar berhenti menangis. Dengan kedua matanya sendiri, ia menyaksikan sang mamah diamu*k sangat ke*ji oleh Budi yang sebelumnya ia ketahui memiliki hubungan kelewatan dengan Nurma, melalui foto maupun video di ponsel Nurma.
__ADS_1