
Sudah menunggu hampir sepuluh menit, tapi niat baik mereka belum juga ditanggapi. Rumah Budi mirip tak berpenghuni padahal pak RT maupun tetangga yang datang yakin, harusnya Budi di rumah. Terbukti, mobil Budi saja masih di halaman depan.
Azzam yang mendadak lelah karena kerusuhan sekarang dan itu perihal tetangga maupun pak RT yang yakin Budi sekeluarga ada di rumah, sengaja berdeham.
“Jangan didobrak ... jangan didobrak. Pri, mobil bawa pergi Pri. Biar kesannya kita enggak jadi bertamu. Terus yang lain diem dulu, biar aku yang urus. Kalau sudah begini memang harus pakai jurus kib*ul!” ucap Azzam.
Semuanya sudah langsung memberi Azzam kesempatan untuk menunaikan jurus kibu*lnya. Dari rombongan yang kompak diam termasuk itu Nurma, juga Sepri yang sengaja membawa pergi mobilnya agar Budi sekeluarga yang mereka yakini ada di dalam rumah, percaya mereka sudah pergi.
“Pakeeeet!”
“Permisi, paket!”
Azzam benar-benar beraksi. Di dalam rumah, ibu Syamsiah yang awalnya mendadak linglung gara-gara renungan yang dilakukan sang suami, langsung terusik.
“Mbak Suci. Nama ibu mertua Mbak siapa?” bisik Azzam kepada Suci.
“Paket untuk ibu Syamsiah ... pakeet!”
“Si Jam-jam cocok jadi kang paket!” lirih Ojan terkikik.
Mendengar itu, Azzam sudah langsung mendelik. “Pegangin saja si Nurma, jangan sampe lepas!” bisiknya yang kemudian berkata, “Paket!”
__ADS_1
“Iyaaa ... ibu Syamsiah ....”
Ibu Syamsiah benar-benar termakan tipuan Azzam. Wanita itu begitu sangat bersemangat lari ke luar dan sudah langsung membuka kunci sekaligus pintu rumahnya.
“Paket!” seru Azzam sambil tersenyum manis tak lama setelah pintu dibuka oleh ibu Syamsiah. Wanita itu tampak kebingungan dan perlahan juga menjadi syok, panik.
“Paket komplit untuk ibu Syamsiah. Ada tetangga, Pak RT, Pak RW, aparat desa, dan juga pak Kades terhormat selaku tamu undangan!” ucap Azzam cepat sekaligus ceria layaknya sales yang sangat jago menggaet hati target.
“Jangan lupa, Jam. Menantu kesayangan, si ibu manajer gadungan Nurma yang tukang parkir di depan alpa tapi nyali kib*ulnya segede gaban!” timpal Ojan dan langsung membuat Azzam tersenyum miris.
“Bisa-bisanya ngi*bul kok sampe bawa-bawa pabrik aku!” ucap Azzam benar-benar merasa tak habis pikir.
“Jadi, ini aku ditipu? Aku kena jebakan batman?!” batin ibu Syamsiah antara kesal tapi juga sangat ngenes. Ingin marah, tapi ia tak mungkin melakukannya. Terlebih semua yang ada di sana dan awalnya akan ia kibu*li, sudah menatapnya sambil menggeleng tak habis pikir. Termasuk jga dengan pak Kades yang sampai kembali dibawa-bawa.
“Nurma ... semua ini salah Nurma. Semua ini gara-gara Nurma!” batin ibu Syamsiah benar-benar dendam. Terlebih ia sungguh baru tahu jika sebelum dengan Bandi Salam, Nurma pernah pacaran dengan Budi, tapi Nurma selingkuh dengan Bandi. Masalahnya sebelum dengan Bandi, Nurma juga sempat nyaris memiliki anak ketika masih SMA, tapi sengaja digugurkan.
“Harus dijeb*ak dulu, baru mau keluar? Takut karena sadar sudah salah?!” seru Sepri yang melangkah mendekat dan masih di jalan.
Ibu Syamsiah langsung terusik dengan sindiran pedas Sepri. Ia menghela napas dalam sambil melirik Nurma penuh peringatan.
“Maaf, Bu. Karena saya tidak memiliki banyak waktu, biarkan kami bertemu mas Budi sekeluarga termasuk Ibu. Banyak hal yang harus dijelaskan sekaligus diselesaikan. Saya ingin mengakhiri semuanya dengan baik-baik, meski selama menjalani hubungan ini terlebih semenjak diprediksi hamil anak perempuan, saya sudah langsung diperlakukan tidak baik!” tegas Suci yang berucap cepat tanpa meledak-ledak. “Tolong biarkan mas Budi maupun suami Ibu untuk menyaksikan ini juga. Jika memang Ibu tidak bersedia kami masuk ke dalam, di sini pun tidak apa-apa.”
__ADS_1
Sekitar lima menit kemudian, meski setengah hati, Budi dan pak Munasir ikut serta di sana. Tampak Budi yang masih kesakitan dan sampai detik ini masih tidak sudi menatap Suci. Suci sendiri memilih tidak duduk karena ia tetap berdiri, terlalu sakit hati.
“Sekarang saya ingin keadilan. Saya tidak terima difitnah sembarangan oleh Nurma. Bahkan Nurma dengan tega, kebangetan, tidak punya hati bahkan otak, memperlihatkan foto sekaligus video s*y*urnya dengan pak Budi! Dan saya benar-benar sangat tidak terima karena Nurma sampai memu*kuli Binar anak saya!” Mulai detik ini, Suci memutuskan untuk membatasi hubungannya dengan Budi. Termasuk sekadar panggilannya kepada pria itu, ia sungguh sudah langsung mengubahnya.
Mendengar itu, Budi merasa sangat tertampar. Perihal fitnah yang Suci sampaikan, ia sama sekali tidak terusik apalagi iba lantaran ia telanjur cemburu. Namun ketika Suci menyinggung Nurma yang sampai memperlihatkan foto bahkan video s*yu*r yang dimaksud, jantungnya sudah langsung tak karuan. Marah, Budi benar-benar marah dan sudah sampai gemetaran karena menahannya.
“Nurma, cepat jelaskan sejelas-jelasnya, jika kamu tidak mau dipenjara!” ucap Sepri yang juga tidak duduk layaknya Suci. Lebih tepatnya, ia, Suci, mas Aidan, dan juga Azzam, memutuskan untuk berdiri. Aparat setempat lah yang turut duduk bersama Budi sekeluarga termasuk Nurma yang detik ini malah sedang dicabuti ubannya oleh Ojan.
Belum apa-apa, Nurma sudah lemes, ia terlalu takut terlebih dari semua yang sudah langsung menatapnya tak habis pikir, Budi terlihat sangat marah. Kedua mata Budi sudah berubah menjadi merah sekaligus basah.
“Masih kamu berani mengulur-ulur waktu, NURMA!” lirih Suci sangat geregetan. Dadanya makin bergemuruh hebat, benar-benar pegal.
Meski kemarahan Suci terlihat sangat lepas, bagi Nurma cara Budi menatapnya jauh sangat menakutkan.
“Ibu Nurma, tolong dijelaskan. Jangan membuat keadaan makin runyam apalagi status Ibu Nurma ini tahanan kota. Saking mudahnya Ibu Suci menjebloskan Ibu Nurma maupun Pak Budi sekeluarga ke penjara! Mohon kerja samanya!” ucap pak Kades angkat suara.
Nurma benar-benar merasa terdesak. Wanita itu menunduk, sadar nasibnya ada di ujung tanduk. Maju salah, mundur, bahkan minggir pun salah karena apa yang ia lakukan memang fatal. “Iya ... tapi aku melakukannya karena aku enggak mau kehilangan Mas Budi!” ucapnya sambil terus menunduk.
“NURRRRRRR ....!” ucap Budi berat sekaligus gemetaran. Kedua tangannya sudah langsung mengepal dan nyaris mendarat di kepala Nurma andai Suci tidak histeris.
“Fokus ke keadilan yang saya minta dulu. Keadilan untuk saya terlebih keadilan untuk Binar! Bocah seusia Binar sudah harus melihat foto bahkan video lak-n-at kalian! Saya tidak terima dan kalian wajib membayar denda sebagai konsekwensinya!” tuntut Suci meledak-ledak bersama air matanya yang berlinang.
__ADS_1
“Denda ...?” batin ibu Syamsiah makin pusing.