
“Sejak kapan, KDRT jadi penyelesai masalah dalam rumah tangga, Mas?” ucap Suci penuh ketenangan sambil membel*ai kepala Binar yang tidur di pangkuannya.
Budi baru datang setelah tiga puluh menit berlalu. Suci dan Binar juga sudah salat isya tanpa Budi. Terlebih semenjak menikahi Nurma khususnya setelah Budi mengaku mati rasa sekaligus jiji*k kepada Suci, Suci dan Binar sudah terbiasa tanpa Budi. Budi sudah kerap mengabaikan Binar khususnya ketika Binar bersama Suci, selama tiga minggu ini. Kenyataan yang terjadi lantaran Budi mati rasa sekaligus merasa jiji*k kepada Suci, sebelum Budi tahu kalau sekarang Suci sudah cantik lagi.
Cara Budi yang mengabaikan Binar itu juga yang membuat Binar terbiasa. Binar yang awalnya tidak bisa tanpa Budi, menjadi mulai terbiasa tanpa Budi. Jadi, semacam salat, sikat gigi sebelum tidur, termasuk juga dengan tidur, Binar sudah mulai bisa melakukannya tanpa Budi.
Budi menatap tak percaya Suci yang sudah kembali memakai cadar. Suci tetap menutup wajahnya dan seolah sengaja menjaganya darinya. Bahkan alasan Budi, Nurma sekaligus orang tua Budi tahu keadaan terbaru wajah baru Suci, juga karena Suci baru beres wudu dan belum sempat menutupi wajahnya lagi.
“Mas jangan lupa, Mas punya anak perempuan. Mas terima andai Binar juga memiliki suami berbakat KDRT?” lanjut Suci. “Jangan karena Mas menganggap perempuan lemah, Mas bisa seenaknya mengha*jar perempuan bahkan walau itu istri Mas. Istri itu tanggung jawabnya suami, bukan tulang punggung apalagi bahan tinj*u! Pelac*ur saja mau mela*yani karena dibayar, lumrah istri minta lebih karena istri hanya mengabdikan hidupnya pada satu laki-laki yaitu suami!”
“Andai Mas merasa istri Mas enggak tahu diri, ya diarahkan. Jangan lupa, demi Nurma ... Mas pernah nyaris merenggu*t nyawaku. Mas pernah mencintainya tanpa syarat hingga Binar Mas korbankan! Selain itu, Mas juga jangan lupa kalau Mas terlahir dari perempuan!” Suci mengakhiri ucapannya dengan dada yang terasa sangat pegal. Napasnya juga menjadi tersengal-sengal, tak habis pikir dan benar-benar geram.
Suci membiarkan air matanya berlinang hingga cadarnya mulai basah. Di depan pintu sana, Budi masih belum bisa menjawab. “Nurma itu wanita pilihan Mas. Wanita terbaik, mantan terindah, wanita yang bisa memua*skan Mas lahir dan batin. Mas jangan lupa itu. Bagaimana Mas meratukannya, menganggapnya tak ubahnya berha*la dan bagi Mas sempurna. Bahkan demi Nurma pula, Mas meru*sak kehidupan Binar!”
__ADS_1
“Akan seperti apa masa depan Binar, jika kelakuan Mas terus begini? Mas beneran enggak kasihan ke Binar, Mas?” rintih Suci tersedu-sedu. Menggunakan tangan kanannya yang mengepal, ia memuku*l-muku*l dadanya demi meredam rasa pegal di sana.
“KDRT dan selingkuh ibarat penyakit, sebagai korban, aku merasa begitu. KDRT dan selingkuh kamu lakukan dengan sadar. Kamu menikmat*inya, bahkan kamu memamerkannya termasuk kepada Binar. Dan di sini ... aku beneran enggak lebih dari ibu Binar karena kamu pun sudah beberapa kali menegaskan, bahwa kepadaku, kamu mati rasa. Kamu jiji*k kepadaku Mas!” Berlinang air mata, Suci mengatakan itu sambil menatap marah kedua mata Budi.
Kalimat terakhir Suci sudah langsung mengusik Budi. Budi yang awalnya menunduk, refleks menatap Suci kemudian mendekatinya. “Ci, untuk yang itu aku benar-benar minta maaf!”
“Yang mana, Mas? Sudah terlalu banyak luka yang Mas berikan. Sudah terlalu sering Mas melukai kami hingga kami terbiasa tanpa Mas. Hingga kami benar-benar ikhlas, ... dan kami bahagia tanpa Mas!” sergah Suci, sampai detik ini masih menjaga suaranya.
Budi yang merasa telah banyak berdosa, langsung tidak bisa menjawab. Terlebih diam-diam, Budi sudah mengkhianati hubungan mereka semenjak Suci hamil Binar. Hubungan terla*rang itu sudah mereka mulai sejak janin yang Suci kandung diprediksi berjenis kelam*in perempuan, dan saat itu Budi sudah langsung jadi bulan-bulanan sang mamah. Saat itu, Nurma memang sudah mulai mengg*oda Budi. Mereka yang dulunya mantan, memang diam-diam CLBK meski mereka masih berstatus pasangan orang dalam hubungan pernikahan.
“C-ci, ... enggak!” ucap Budi sambil menggeleng cepat, menolak permintaan Suci karena ia ingin di sana. Budi tak mau pergi dari sana.
Suci menatap heran Budi. “Enggak kenapa, Mas?”
__ADS_1
“Aku ... aku ....” Budi merasa sangat berat untuk sekadar berucap. Namun setelah ia menatap mata Suci yang tampak sangat jernih dan sekadar kelopak matanya saja tampak sangat putih lembut, ia memutuskan untuk meminta maaf. Suci yang sekarang sungguh berbeda, bukan lagi Suci buru*k rupa sekaligus menjij*ikkan.
“Minta maaf ...?” lirih Suci mengulang ucapan Budi.
Budi mengangguk-angguk sambil menatap Suci penuh harap. “Omong-omong minta maaf, aku juga mau minta maaf ke Mas, Mas. Maaf karena aku bukan istri yang bisa membuat Mas bahagia lahir dan batin. Maaf karena selama bersama, aku hanya membawa sia*l.” Membahas hubungan mereka, lagi-lagi Suci menjadi berlinang air mata.
“C-ci ....” Budi kembali merasa berat. Terlebih biar bagaimanapun, ia sadar dosanya kepada Suci dan Binar, sudah sangat besar.
“Ya sudah Mas, enggak usah dibahas lagi. Mas boleh pergi karena aku pun mau tidur. Musim pancaroba begini bikin klinik penuh pasien. Jadi besok aku harus berangkat lebih pagi. Aku kan bukan manager yang bisa cuti seenaknya seperti istri Mas. Bisa enggak makan aku, kalau cuti selama cutinya Nurma.” Sampai detik ini, Suci memang masih main cantik.
“Oh iya, ya ... kok Nurma cutinya bisa lama banget. Dan selama di rumah pun, dia beneran enggak kerja. Nurma beneran hanya tidur,” pikir Budi yang baru menyadari pekerjaan Nurma andai Suci tak menyinggungnya. Di hadapannya, Suci tengah membaringkan kepala Binar ke bantal.
“Malam ini, aku mau tidur di sini,” sergah Budi, buru-buru tidur di sebelah Binar. Binar menjadi pemisah kebersamaan mereka, layaknya biasa.
__ADS_1
Suci kembali menatap heran Budi yang sampai memakai selimut. Mereka memakai selimut yang sama. “Itu tadi si Nurma Mas apain? Memangnya Mas yakin, Nurma baik-baik saja? Dia lagi hamil loh!” ucapnya sengaja menyindir Budi secara halus.
“Sudah, kami sudah ngobrol,” singkat Budi sambil meringkuk menghadap Suci. Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda Suci akan membuka cadar. Suci yang awalnya duduk selonjor baru saja berangsur mengambil posisi tidur. Hanya saja, selain hanya diam, Suci juga justru memunggunginya.