Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
52 : Mulai Menyiapkan Restu


__ADS_3

“Ya sudah, dijalani saja, ya. Mas Sepri adanya memang begini. Namun bukan berarti kamu harus menerima kekurangannya begitu saja. Karena andai memang masih bisa diubah, ya pelan-pelan sama-sama belajar. Tapi kalau diminta romantis kayak yang lain-lain, kayaknya Mas Sepri kurang atau malah enggak bisa sih,” ucap ibu Septi yang meragukan sang putra.


“Kata siapa?” sergah Sepri menepis anggapan sang mamah. Ia menatap sanksi anggapan sang mamah yang sudah langsung menertawakannya, menyusul dokter Andri yang telah lebih dulu melakukannya. Yang membuat Sepri makin tak habis pikir, di sebelah Binar, ia juga memergoki Suci sibuk menahan tawa. “Kamu ngapain ikut ketawa, Mbak? Yang penting aku kasih nafkah lahir dan batin, selain aku juga wajib bahagiain kamu, kan?”


“Ya tetap saja, Mas. Romantis itu perlu dan kalau bisa wajib. Ibarat masakan, romantis itu bumbu dalam hubungan. Apalagi yang namanya menikah, kan ibarat jadi teman hidup seumur hidup. Lihatlah Mamah sama Papah. Ojan, ... iya, Ojan yang gitu saja romantis banget.”


“Jangan sebut-sebut nama Ojan lah, nanti anaknya pulang. Sinyal janda sama pendengarannya kan tajem banget kalau lagi diomongin!” ujar Sepri dan lagi-lagi sudah langsung membuat yang di sana tertawa. Hanya Binar yang mesem-mesem karena sepertinya, bocah itu belum paham. Terbukti, beberapa detik kemudian, Binar berbisik-bisik kepada Sepri, “Om, sinyal janda itu apa?”


Mendengar pertanyaan terdengar sangat rahasia dari Binar, Sepri langsung mendelik. Sepri terlalu terkejut dan baru menyadari bahwa usia Binar sangat mudah menangkap mengenai apa yang dilihat sekaligus didengar.


“Enggak, bukan apa-apa. Ini habisin saja cokelatnya. Binar suka, kan?” ucap Sepri sengaja mengalihkan fokus perhatian Binar. Ia juga sengaja memangku Binar, membuat bocah itu sibuk dengan permen maupun cokelat di toples.


“Ya Allah, apakah ini awal mula kebahagiaan dalam hubungan kami? Enggak apa-apa sih, mas Sepri enggak romantis. Yang penting tanggung jawab dan pastinya setia,” batin Suci menerima beberapa cokelat kemasan hati dari Sepri.


“Mas enggak harus romantis kayak yang lain-lain kok, Mas.” Suci sengaja angkat suara ketika akhirnya, Sepri mengantarnya Binar. Ia melirik Sepri yang masih melangkah di sebelahnya seiring langkah mereka yang jadi kompak lebih pelan.

__ADS_1


Teras kontrakan Suci tinggal, tinggal beberapa langkah lagi. Tak sampai tiga langkah, harusnya kaki mereka sampai di sana. Hanya saja, apa yang baru saja Suci katakan yaitu membahas romantis, membuat langkah mereka benar-benar berhenti.


“Yang penting tanggung jawabnya, apalagi aku bawa Binar, dan sampai kapan pun, aku enggak bisa tanpa Binar. Aku enggak mau kayak yang udah-udah, sudah janda, mentang-mentang mau nikah lagi, anak malah dititipin bahkan itu meski dititipkannya ke orang tuaku. Karena bagiku, sampai kapan pun, sampai aku mati, Binar tetap tanggung jawabku karena Binar anakku, Mas.” Suci berangsur menatap Sepri. Berhubung Binar sudah sampai tidur dan otomatis, gadis kecilnya tak akan mendengar apa yang mereka bahas, ia sengaja memantapkan niat mereka dalam menjalin hubungan lebih serius.


“Aku enggak minta kamu buat tinggalin Binar atau sekadar menitipkannya. Sampai kaan pun, aku enggak akan pernah memisahkan kalian. Kita nikah, ya otomatis Binar juga ikut kita. Malahan salah satu alasan utamaku ingin cepat-cepat menikah karena aku memang sudah sayang Binar. Aku enggak mau Binar kekurangan kasih sayang seorang papah, setelah apa yang Binar alami dan sampai bikin dia sangat terpukul,” yakin Sepri yang berucap lirih.


Menyimak itu, Suci berangsur menghela napas dalam. “Kalau Binar jadi salah satu alasan Mas ingin secepatnya menikahiku, alasan yang lain lagi, ... apa?” Kali ini, ia bertanya dengan hati-hati. Namun berbeda dengan sebelumnya, Sepri mendadak salah tingkah sekaligus tak bisa menjawab.


“Kalau Mas malu buat ngomongnya, Mas bisa kirim lewat WA. Tapi kalau dikirim lewat WA, Binar bisa baca,” lirih Suci yang buru-buru tersenyum tak berdosa ketika akhirnya, Sepri menatapnya.


“Itu tadi beneran mas Sepri?” batin Suci masih sulit untuk percaya, bahkan meski Sepri sudah berlalu dari hadapannya.


“Mbak, kuncinya mana?” seru Sepri dari depan pintu sana masih mengemban Binar yang benar-benar lelap, dan sempat dikira kekenyangan makan cokelat oleh ibu Septi.


“Oh ya, Mas. Bentar,” sergah Suci.yang segera menepi dari lamunannya. Ia segera membuka tas tangannya, kemudian mengambil kunci kontrakannya dari sana. Selain itu, ia juga langsung membuka pintunya.

__ADS_1


“Berarti dalam waktu dekat, kita harus atur waktu buat main ke rumah ibunya Mbak,” ucap Sepri.


Mendengar itu, Suci langsung bengong seiring tatapan beratnya yang tertuju ke wajah Sepri. “Mas, ... bapakku enggak umum orang. ... bapakku baji*nga*n, Mas. Omongannya kasar, ringan tangan, bahkan meski aku sudah segede ini. Makanya aku jarang banget ke dia, tapi dia tetap wajib jadi waliku.” Suci benar-benar bingung jika harus mengingat apalagi berurusan dengan sang bapak yang kelakuannya mirip dakjal itu.


“Berani dia macam-macam ke kamu, aku enggak segan buang dia ke sungai. Apaan sih, kasih nafkah hidup juga enggak, masih saja bertingkah. Sudah, urusan bapak Mbak, jangan dipusingkan. Berani dia rusuh, Mbak cukup diam, biar aku yang urus!” yakin Sepri belum apa-apa sudah emosi. Namun yang ia tahu, dulu Suci juga mirip Binar. Suci kor*b*an kehancura*n rumah tangga orang tua akibat sang bapak yang kerap KDRT, tukang ju*d*i, mab*o*k, dan juga hobi main w*a*nita.


“Tapi kalau pas ke sana, kita enggak usah bawa Binar, yah Mas,” tawar Suci benar-benar memohon, tapi untungnya, Sepri yang masih menyimak dengan saksama, langsung mengangguk-angguk.


“Nanti Binar biar sama mamah saja. Lama-lama, Binar pasti jadi bestie-nya mamah. Kayak Malini sama ibu Arum. Dekat banget mereka,” ucap Sepri sengaja menyarankan.


“Malini? Malini siapa, Mas? Kalau ibu Arum kan, mertuanya mbak Arimbi, kan?” balas Suci yang memang masih merasa asing dengan nama Malini. Ia membiarkan Sepri masuk lebih dulu.


“Malini itu adiknya Nina, istrinya mas Akala. Kayaknya sih, hanya beberapa tahun lebih tua dari Binar. Dia sudah SD kelas satu atau dua gitu, kurang paham. Tapi kemarin aku lihat dia pakai seragam merah putih makan bareng ibu Arum di rumah makan cabang yang sekarang dikelola mas Akala.”


Mendengar penjelasan Sepri, dalam hatinya Suci yakin, ibu Arum yang tak lain mertua dari mbak Arimbi kenalannya, berarti memang orang sangat baik. Buktinya, sekelas adik menantu dan usianya masih anak-anak saja sampai jadi bestie.

__ADS_1


Hanya saja, agenda pertemuan mereka dengan bapak Suci telanjur membuat Suci tidak bisa baik-baik saja, selain Suci yang memang merasa sangat malu pada keadaan watak sang bapak.


__ADS_2