Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
72 : Ke Rumah Budi


__ADS_3

“Kamu kelihatan bahagia banget, Pri,” ucap Azzam sembari memegangi baki yang sedang Sundari rias.


Sepri yang turut duduk sila di lantai sambil memangku Binar, hanya tersenyum semringah. Ia sengaja mengambil waktu untuk istirahat sambil mengasuh Binar sekaligus menyaksikan penyusunan baki di kamar Sundari.


“Yang ... wajah Sepri jadi glowing gara-gara sering senyum! Sudah enggak sabar banget pengin nikah sama mbak Suci nih kayaknya! Hahahaha!” Azzam sungguh tidak bisa untuk tidak tertawa, terlebih baginya, hal lucu yang bisa membuatnya tertawa bahagia, sangatlah sederhana. Karena melihat orang yang biasanya kaku mendadak kasmaran layaknya apa yang kini menimpa Sepri, juga menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya yang juga jadi ingin selalu jail.


“Dasar ipar durjana! Bahkan manggilnya masih Sap-Sep-Sap-Sep!” ucap Sepri yang kini mengomel.


“Lah, aku harus panggil apa? Kamu juga mau kayak Ojan? Sudah maksa Helios sama Chole buat angkat dia jadi anak, terus mendadak ganti nama jadi Kim Oh Jan! Hahaha ... Lee Sepri hahaha Kim Sepri hahahaha ... Kang Sepri—Kakang(mas, kakak) Sepri! Hahahaha!” Azzam sampai menitikkan air mata gara-gara tawanya.


Tak beda dengan Azzam, Sundari yang awalnya tengah menyusun tas dan sepatu milik Suci di baki, juga sudah sampai meringkuk di lantai. Sundari tidak bisa mengakhiri tawanya.


“Astaghfirullah ini enggak perempuan enggak laki-laki sama saja!” ujar Sepri yang memutuskan untuk pergi dari sana dan tentunya membawa Binar. “Ya sudah yah, Dek. Kalau Mas di sini malah kayaknya jadi enggak beres-beres. Apalagi kalau sampai ada Ojan. Bahaya. Bisa-bisa, target kekejar susun bakinya enggak gol. Ya sudah kalau gitu, kalau mamah apa mbak Suci cari, bilang kalau Mas sama Binar, sama Ojan juga, mau antar undangan nikah ke rumah papahnya Binar, ya.” Sepri sengaja pamit dengan baik-baik. Apalagi semenjak mengurus Binar, Sepri merasa dirinya harus memberikan contoh yang baik juga.


“Eh, Kang Sepri ... asli, si Budi mau diundang?” sergah Azzam mendadak serius. Ia bahkan jadi duduk dengan punggung tegap.

__ADS_1


“Ya iya, memangnya kenapa? Niatnya kan memang sekalian pamer bojo sekaligus kemesraan di pelaminan. Aku mau kasih contoh ke mereka kalau harusnya gini loh memperlakukan Binar dan Suci,” ucap Sepri dengan santainya.


“Sekalian si sista Syamsiah juga diundang ya, biar acaranya besok makin seru dan enggak perlu hiburan. Cukup mulutnya si Kim Oh Jan saja yang ditempelin ke sound sistem, itu beneran sudah rame. Jatah buat acara hiburan beneran bisa disumbangin ke kaum dhuafa!” lanjut Azzam yang kali ini benar-benar bawel, selain ia yang juga kembali cekikikan. “Pokoknya wajib diundang semua pasukan mereka. Sekalian si ulat bulu juga diajak pokoknya! Biar acaranya enggak kalah seru dari pernikahannya mas Aidan sama Mbak Mbi!” Teringat ibu Syamsiah juga membuat Azzam mendadak kangen bestai-nya yaitu ibu Siti selaku ibu dari Ilham di novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan).


“Ayang ih ... kebiasaan banget bikin aku ngompol!” protes Sundari terseok-seok bangun masuk ke kamar mandi.


Tak lama berselang, Azzam dan Sepri yang refleks melepas kepergian Sundari, justru kompak cekikikan, sebelum akhirnya Sepri pamit dan juga langsung dibalas oleh Azzam.


Di sore yang benar-benar cerah, Sepri yang wajah dan kulitnya memang mulai glowing setelah rajin menjalani perawatan, sengaja memboyong tim cerianya yang terdiri dari Ojan dan Binar. Seperti biasa, bukan Binar yang duduk atau itu membonceng di depan. Sebab di depan Sepri ada Ojan yang juga memakai kaca mata kucing warna pink layaknya Binar. Ketiganya kompak memakai helm. Sepri mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sambil terus memegangi Binar, meski kedua tangan bocah itu sudah mendekapnya erat.


Padahal gara-gara Ojan yang berbicara saja sampai pakai otot kawat, pengendara di sekitar mereka sudah langsung menjadikan mereka sebagai fokus perhatian.


“Pokoknya habis antar undangan, kita langsung pulang!” teriak Ojan lagi, tapi lagi-lagi, Sepri hanya diam dan malah bertanya kepada Binar, apakah semuanya baik-baik saja, dan bocah itu merasa nyaman?


Sekitar pukul setengah lima, akhirnya motor Sepri sampai di depan rumah orang tua Budi. Rumah itu makin tak terawat, pekarangan maupun halamannya dipenuhi rumput liar. Yang Sepri tahu, gara-gara untuk pengobatan Budi dan ibu Syamsiah, semua mobil Budi sudah dijual. Tak ada lagi usaha travel dan sebelumnya sempat Budi sekeluarga khususnya ibu Syamsiah dan sekaligus Nurma, agung-agungkan.

__ADS_1


Kini, keadaan ekonomi Budi sekeluarga benar-benar tak baik-baik saja. Sekelas pak Munasir yang tentu saja sudah tua, jadi sering pergi ke Jakarta ikut tetangga, untuk bekerja menjadi kenek bangunan. Sementara ibu Syamsiah yang konon kedua matanya tetap belum bisa melihat dengan jelas jika dari jarak terlalu jauh, dijatah mengurus rumah sambil menjaga warung.


Sementara untuk kabar terbaru Nurma, meski perut wanita itu sudah terlihat makin besar dan tubuhnya masih subur—belum ada tanda-tanda akan langsing lagi, kini Nurma jadi sibuk jualan jajan di depan sekolah, sebelum keliling jualan sayur dari rumah ke rumah.


“Budi ke mana, yah, Pri. Sekarang si Budi dijadiin apa lagi sih, sama Authornya? Belum jadi pengem*is, kan? Kabarnya sudah enggak di kursi roda, tapi malah sibuk main engklek!” lirih Ojan berbisik-bisik sambil mengawasi suasana sekitar.


Pintu rumah baru saja dibuka dan sudah langsung menimbulkan bunyi berisik. Ojan yang awalnya melongok dengan saksama dari teras rumah sudah langsung nyebut—istighfar sambil refleks bersembunyi di belakang punggung Sepri.


“Siapa?” sapa ibu Syamsiah sambil menaik—turunkan kacamatanya. Samar-samar ia menangkap bayangan dan perlahan ia kenali sebagai Sepri, Ojan, juga Binar yang di beberapa bagian tubuhnya sangat bersinar dan itu perhiasan Binar yang memang masih baru.


“Assalamualaikum, Ibu Syamsiah?” sapa Sepri santun.


Meski maksud tujuannya datang ke sana memang untuk bersilahturahmi sekaligus mengantarkan undangan pernikahan, sebenarnya Sepri juga ingin melakukan apa itu balas dendam dengan elegan. Yaitu Sepri sengaja ingin memamerkan kebahagiaan Binar. Sepri ingin memberi contoh kepada Budi sekeluarga, bagaimana caranya memperlakukan Binar dan itu dengan membahagiakan sekaligus memuliakannya.


“Ini beneran si Binar? Bersih, cantik mirip perawan. Bajunya bagus dan ... dari kaki sampai telinga, isinya perhiasan semua,” batin ibu Syamsiah sampai detik ini belum berani bersuara lagi apalagi menyapa. Karena sekadar membalas salam Sepri saja, belum ia lakukan.

__ADS_1


Ibu Syamsiah terlalu bingung. Terlebih di penglihatannya yang memang bermasalah, sekelas Sepri yang dulu dek*il saja, kini seolah memakai filter kamera jah*at. Lain dengan Ojan yang tidak banyak perubahan, tapi kumis tegarnya ia amati sudah dipangkas habis.


__ADS_2