Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
26 : Kita : Aku, Mamah, Dan Papah


__ADS_3

“Kenapa kita enggak sama papah? Memangnya papah ke mana? Papah masih sibuk banget, makanya papah enggak bisa sama kita?” Binar langsung menyikapi ucapan sang mamah dengan serius. Bersamaan dengan itu, kini di benaknya juga mendadak terputar interaksi Budi dan Nurma yang baginya terlalu dekat. Bahkan saking dekatnya hingga keduanya tidur bersama tanpa Suci, itu benar-benar melukainya hingga ia tidak bisa untuk tidak menangis.


“S-sayang ...,” lembut Suci yang kemudian meraih kedua tangan Binar. Bakso favorit yang biasanya akan membuat Binar nambah itu kini terabaikan bercampur dengan air mata Binar yang terus berjatuhan.


“Bunga temenku, enggak punya papah karena Bunga bilang, papahnya pergi sama wanita lain dan mamah Bunga jadi sering nangis.” Binar tersedu-sedu, mengadu kepada Suci untuk pertama kalinya. Beberapa kali ia harus menghela napas pelan demi meredam sesak yang teramat menyiksa khususnya di dadanya. “Aku benci bude Nurma karena ... aku takut dia ambil papah seperti papah Bunga yang diambil wanita lain makanya mamah Bunga terus nangis. Apalagi kan ... apalagi papah sampai tidur bareng bude ....”


Hati Suci kembali remuk redam untuk kesekian kalinya. Air matanya juga sudah tak terhitung dan tak hentinya berjatuhan. Ia menggeleng, kemudian berkata, “Mamah enggak akan sedih. Mamah janji. Mamah akan tetap bahagia. Mamah akan selalu bahagia bersama Binar dan Mamah janji, Mamah enggak akan pernah nangis lagi.” Alasan Suci berkata layaknya tadi karena ia yakin seyakin-yakinnya, Binar mulai paham. Hanya saja, Binar terlalu takut menerima kenyataan bahwa tak bersama papah, akan membuat papahnya diambil wanita lain dan otomatis, Binar tidak punya papah lagi seperti yang dialami Bunga, temannya. Binar sudah bisa menyimpulkan keadaan yang dialami, dengan cerita dari Bunga.


“Tapi aku mau Papah ... kalau kita enggak sama papah, berarti aku enggak punya papah ....” Binar menunduk, berusaha tegar. Ia menengadah demi menghentikan air matanya. Namun, usahanya itu sia-sia lantaran air matanya tetap berjatuhan. “Aku akan merebut papahku dari bude Nurma!” tekadnya benar-benar bulat. “Mamah harus bantu aku biar aku tetap punya papah ....” Binar benar-benar memohon, tubuhnya terguncang pelan akibat tangisnya.


“Tapi sayang ... sekarang, papah bukan sepenuhnya milik kita.” Suci mengelus lembut jemari tangan Binar yang ada di genggamannya.


“Kita! Aku, Mamah, dan juga papah. Selamanya!” Binar mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Apalagi apa yang ia katakan dibalas gelengan oleh sang mamah.


“Bude Nurma ....” Baru juga mengucapkan itu, Binar sudah menarik kedua tangannya dari genggaman Suci. Seperti yang Suci yakini, sepertinya Binar sudah mulai menyadari kenyataan bahwa ada hubungan spesial antara Nurma dan papahnya.


Meski di sana dan menyaksikan kesedihan tengah mengikat kebersamaan Suci dan Binar, keduanya sampai tersedu-sedu dan kini saja, Binar sampai menempelkan dahinya di pinggir meja, Sepri tak berniat menghentikan kebersamaan yang terjadi.

__ADS_1


“Aku mau papah ... kita, aku, Mamah, dan juga papah! Selamanya akan begitu!”


“Iya, ... Mamah janji selamanya akan begitu. Papah tetap akan menjadi papahnya Binar apa pun yang terjadi.” Suci makin lembut dalam bertutur katanya. Sembari memandangi sang putri yang tampak sangat hancur, dalam hatinya ia berkata, “Maafin Mamah yah sayang. Mamah enggak bermaksud melukai kamu, tapi makin lama fakta ini disembunyikan, kamu juga yang akan makin terluka. Pelan-pelan, kamu pasti bisa. Pelan-pelan, kita pasti bisa bahagia walau tanpa papah! Buktinya, kamu mulai terbiasa tanpa papah.”


“Enggak apa-apa papah sibuk kerja dan jadi jarang sama aku,” ucap Binar masih berusaha menawar, menolak kenyataan bahwa dirinya terancam tak memiliki papah juga layaknya Bunga temannya.


“Papah sudah menikah dengan bude Nurma, dan sekarang, ... sekarang bude Nurma sedang hamil anak Papah!” mengatakan itu, Suci yang awalnya masih bisa tegar, mendadak kesulitan bernapas. Hatinya remuk redam lantaran teringat laki-laki yang menjadi cinta pertama sekaligus ia yakini sebagai satu-satunya cinta, justru menjadi penyebab kehancuran hidupnya maupun Binar.


Detik itu juga Binar yang sempat menatap sekaligus menyimak sang mamah, tergolek lemas. Binar layaknya orang dewasa yang putus cinta. Binar terlihat sangat tak berdaya, terguncang, bahkan Suci berpikir, sang putri akan memilih mati ketimbang bertahan tapi harus tidak punya papah. Karenanya, Suci berinisiatif menghampiri, memberi Binar pelukan, mencoba menguatkan Binar.


“Andai hubungan mereka tidak sampai memiliki anak, mungkin aku masih bisa pura-pura. Mungkin aku masih bisa pura-pura menerima, pura-pura bahagia dan sebisa mungkin menciptakan sandiwara keluarga sempurna demi Binar. Namun, semuanya memang cukup sampai di sini,” batin Suci yang kemudian berkata, “Mamah janji, kita akan baik-baik saja. Kita akan bahagia, Binar tetap sekolah, jadi dokter biar bisa seperti Aunty Sundari.”


“Aunty Sundari punya papah ...,” ucap Binar yang lagi-lagi tersedu-sedu. “Aku mau ketemu papah. Aku mau tahu, kenapa papah sampai menikahi Nurma!” Binar tak lagi sudi memanggil Nurma dengan sebutan bude lagi.


***


“Enggak! Siapa bilang Papah nikah sama bude Nurma!” tegas Budi menepis protes Binar. Anaknya itu mengamuk dan matanya sudah sangat sembam.

__ADS_1


Budi yang sebenarnya baru pulang mengantar tetangga ke Majenang, langsung emosi.


Seperti yang Suci khawatirkan, Budi menepis fakta yang ia sampaikan kepada Binar.


“Terus kenapa Papah tidur sama Nurma!” Binar masih meledak-ledak tanpa memberitahu Budi.


Ulah Binar membuat seisi rumah keluar dari kamar. Di ruang tamu yang merangkap menjadi ruang tamu selaku ruang pertama di rumah sana, Budi dan Binar yang sama-sama baru pulang, tengah berargumen layaknya orang dewasa yang sedang melaw*an orang dewasa.


Budi menatap curiga Suci. Suci yang masih bercadar dan berdiri di belakang Binar, matanya tak kalah sembam.


“Sekarang juga, suruh Nurma pergi! Usir dia, Pah! Usir dia kalau memang Papah sayang aku!!!!!!!” tegas Binar histeris.


Nurma yang dahinya masih memar parah, langsung gelisah.


“Ini sebenarnya ada apa, sih? Maghrib-maghrib berisik!” ibu Syamsiah yang biasa berisik, akhirnya ikut berkomentar. Ia menatap penuh tanya Budi maupun Binar yang berhadapan, silih berganti.


“Binar sayang ... Papah sayang sama Binar. Papah sayang sama mamah Suci!” lembut Budi sembari mendekati Binar, tapi detik itu juga, Binar mundur.

__ADS_1


__ADS_2