Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
64 : Mulai Tebar Pesona


__ADS_3

Ibu Manis menatap puas mantan suaminya yang sudah langsung kebingungan ketika pria itu keluar dari rutan, dan justru mendapatinya sebagai sosok yang menjenguk.


“Ngapain kamu ke sini? Dikiranya aku takut? Justru aku mau berterima kasih karena di sini, hidupku benar-benar enak!” ucap pak Kusno yang sudah buru-buru duduk di kursi persis di hadapan ibu Manis. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh meja kayu terbilang panjang.


Ibu Manis tetap tersenyum puas. “Apa pun itu darimu benar-benar sudah tidak penting!”


“Lambemu, Nis! Jangan lupa, tanpa aku, anak perempuanmu enggak bisa nikah lagi!” sergah pak Kusno masih dengan ketamakannya.


“Kata siapa? Justru karena kamu di sini, aku juga berterima kasih. Karena dengan adanya kamu di sini, acara bahagia kami yaitu pernikahan Suci, enggak harus diko*t*ori oleh kehadiranmu!” tegas ibu Manis masih memamerkan kebahagiaanya kepada pria yang sudah membuatnya hanc*ur babak-belur.


Detik itu juga pak Kusno terdiam, menatap sang mantan istri yang baginya kura*ang ajar, penuh terka.


“Sikapmu yang tempramental, dan semua jejak kejaha*tan kamu, bikin kamu gugur sebagai wali dari Suci. Ya maaf-maaf saja, nikmati saja masa-masa tuamu di sini. Tadi kamu bilang, kamu betah dan sampai berterima kasih, kan?!” balas ibu Manis. Detik itu juga ia berdiri lantaran pak Kusno mendadak berusaha men*cek*iknya. Pria itu nyaris loncat ke meja dan malah membuat meja yang nyatanya rapuh itu malah ambruk.


“Tunggu pembalasanku, Nis! Aku akan segera keluar dan menuntut balas!” tegas pak Kusno memang mnganca*m.


“Itu tadi kamu mengancam? Enggak salah? Aku kasih tahu, ya. Kamu salah cari lawan. Apalagi calon suami sekaligus keluarga Suci yang sekarang, bukan orang sembarangan. Nyatanya, kamu saja sampai ada di sini, kan?” Tak mau lama-lama di sana, ibu Manis yang merasa puas dengan apa yang menimpa mantan suami, memilih pergi. “Aku sarankan, tobat lah sebelum kamu dijemput malaikat!”

__ADS_1


Ditinggal ibu Manis, pak Kusno yang masih tengkurap di puing-puing meja, jadi termenung. Pria bertubuh gempal berlebihan itu merenungi ucapan sang mantan istri dan kalau dipikir-pikir memang benar.


“Jangan-jangan, apa yang Manis katakan benar, ... jangan-jangan, aku memang akan menghabiskan sisa hidupku di penjara ....” Itu menjadi ketakutan tersendiri untuk pak Kusno.


Keluar dari Rutan, ibu Manis sudah ditunggu oleh Sepri. Mereka tidak hanya berdua karena Ojan juga tengah heboh dengan Binar dan Suci, di dalam mobil. Sepri memboyong mereka menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Sepri secara langsung.


“Habis ini kita mau ke mana?” tanya Sepri setelah membukakan pintu penumpang sebelah tengah untuk ibu Manis.


Alasan Sepri duduk bersebelahan dengan Binar, karena selain Binar selalu ingin dekat dengan Sepri, Ojan yang menjadi laki-laki lain di sana selain Sepri, dikhawatirkan bisa menjadi ancaman mereka. Ojan yang tidak mau diam ditakutkan bisa mengganggu pengemudi di sebelahnya bahkan itu sekelas Sepri yang sudah terbiasa dengan keonaran Sepri. Karenanya, Ojan sengaja ditaruh di tempat duduk penumpang depan bagasi, sendiri.


“Pri, mampir ke soto babat biasa, Priiii!” heboh Ojan tepat di sebelah telinga ibu Manis.


“Jangankan mertua, sinyal jodoh saja belum ada hilal dan malah terasa hilang, Bugede ...,” balas Ojan tak segan merengek kepala ibu Manis sambil mendekap sandaran kepala, tempat ibu Manis berada.


“Ya makanya kamu jangan pilih-pilih ya Jan,” ucap ibu Manis lagi masih deg-degan karena suaranya Ojan yang kelewat berisik.


“Sumpah demi janda yang masih jadi istri orang, Bugede! Ibaratnya saya sudah obra*l besar-besaran diri ini biar laku dan cepat merid, tetap enggak ada yang mau!” balas Ojan mendadak dramastis. Berusaha nangis, tapi tak ada air mata yang menyertai. Malahan, ekspresinya itu benar-benar sangat lucu. Ibu Manis sampai menegurnya dan berakhir tertawa.

__ADS_1


“Si Ibu, setelah pertemuannya dengan bapak, jadi kelihatan bahagia banget. Sepertinya, dipenjaranya bapak juga menjadi alasan tersendiri untuk Ibu berdamai dengan hatinya. Selain Ibu yang sepertinya merasa sangat bahagia, tenang bahkan damai karena aku akan menikah dengan mas Sepri dan hubungan baik kami juga dikelilingi oleh banyak orang baik. Bismilah, semoga ini memang awal dari kebaikan sekaligus kebahagiaan kami. Ibu merestui, dan bapak akhirnya mendapatkan hukuman nyata. Meski hukuman yang bapak dapatkan tetap enggak sebanding dengan trauma yang ibu maupun aku rasakan, ini tetap wajib disyukuri daripada enggak sama sekali,” batin Suci diam-diam memperhatikan sang ibu yang makin dekat dengan Ojan.


Diam-diam, Suci berkode mata dengan Sepri. Ia tersenyum canggung, menatap Sepri melalui kaca spion di atas pria itu.


“Kalau bapak sudah dapat hilal karma, aku juga jadi penasaran dengan kabar terbaru mas Budi dan Nurma. Termasuk ibu Syamsiah yang terancam buta. Kira-kira, bagaimana kabar terbaru mereka, ya?” pikir Suci.


Tak ada kabar lagi dari Budi sekeluarga. Terlebih sejak hari itu, nyaris dua minggu berlalu, lingkungan Suci sama sekali tidak disertai lingkungan Budi, termasuk sekadar tetangga Budi. Hanya saja, tanpa direncanakan, Suci justru bertemu dengan Budi sekeluarga di tempat soto favorit Ojan. Pasti kalian sangat penasaran kan, dengan keadaan mereka?


“Wahhh, Ibu Syamsiah kerennnnnn, pakai kacamata hitam. Mirip tukang pijat ikan tuna!” heboh Ojan terkagum-kagum pada ibu Syamsiah yang tak hanya memakai kacamata hitam. Namun juga memakai tongkat.


Mendapati kenyataan ibu Syamsiah sekarang, Ojan sengaja memungut bungkus jajan, kemudian memegangkannya kepada tangan kiri ibu Syamsiah yang tidak memegang tongkat. “Bentar ya, aku kasih sumbangan. Kebetulan aku punya banyak uang receh!” ucap Ojan benar-benar bersemangat.


Meninggalkan Ojan yang sudah sukses membuat tensi ibu Syamsiah naik drastis, fokus perhatian Suci dan ibu Manis, justru tercuri kepada Budi yang duduk di kursi roda. Nurma yang penampilannya jauh dari kata terawat dan memang masih gend*ut, mendorong kursi roda Budi.


Sepri yang mengemban Binar, tak berniat menyapa rombongan Budi yang tampaknya juga akan mampir ke tempat soto babat dan akan mereka kunjungi. Namun karena ia ingat Binar merupakan anak biologis Budi, ia sengaja menuntun Binar untuk menyalami Budi.


Suci sendiri memilih tetap berdiri di belakang Sepri, berpegangan ke punggung kemeja Sepri dan tak berniat menyapa Budi.

__ADS_1


“Suci bisa secantik itu? Binar, ... bahkan ibu Manis?” batin Nurma yang tak hanya kagum, tapi juga iri pada penampilan terbaru orang-orang yang pernah ia hancu*rkan kehidupannya. “Kalau gini caranya, aku maulah jadi istri keduanya Sepri. Atau, mungkin aku memang harus merebut Sepri dari Suci, biar aku jadi ratu di kehidupan nyata karena punya suami kaya raya?” pikir Nurma lagi yang sudah langsung mulai tebar pesona.


__ADS_2