
“Mau ... mau banget! Serius, Om Sepri, aku mau banget kalau Om nikah sana mamah aku!” Binar begitu antuasias, sangat setuju jika pria yang masih mengembannya menikahi sang mamah. “Yah, Mah, yah ... nikah sama Om Sepri! Aku mau punya papah kayak Om Sepri!” Binar benar-benar memegang kendali penuh di sana. Membuat kedua orang dewasa yang bersamanya kebingungan saling tatap, bahkan sekelas Sepri yang sempat lempeng mirip tiang listrik.
“Iyalah ... mau, Om sama Mamah nikah saja. Aku mau punya papah kayak Om, terus punya kakak kayak kak Ojan!” ucap Binar masih memohon.
“Yang terakhir jangan dipanggil kakak, panggil mbah Ojan saja!” ucap Sepri masih sempat-sempatnya mengoreksi ucapan Binar. Lain dengan Suci yang malah jadi linglung lantaran Suci mendadak ingat ucapan Budi yang sempat berdalih mati rasa bahkan jij*ik kepada Suci, selain Budi yang juga menganggap Suci tidak bisa memua*skan suami, dan karena itu juga Budi memilih Nurma. Alasan yang juga sudah langsung membuat Suci minder, terlalu malu, dan juga merasa tidak pantas menjadi pasangan orang.
Seharian memikirkan pernikahan, dan tetap membuat Suci merasa minder, merasa tak pantas menjadi istri orang lagi, selain ajakan nikah dari Sepri yang malah dijawab sekaligus diterima oleh Binar. Saking bingungnya, Suci memberanikan diri untuk bercermin.
Suci memang tidak memakai cermin besar karena di sana memang tidak ada. Karena jangankan cermin besar, sampai detik ini saja, kontrakannya masih minim barang, selain Suci yang hanya memakai kasur lantai sebagai alas ia dan Binar tidur. Suci dapati, wajahnya yang jauh lebih terawat, glowing, dan ia patut dibilang cantik berkat perawatan dari Sundari, meski bekas luka KDRT Budi masih sangat mencolok di sekitar mata kirinya yang agak cekung, mengingat dari semua luka, mata kirinya paling parah. Kala itu, dari sana sampai memuncratkan darah segar. Dan sampai sekarang pun, di dalam matanya seolah ada gumpalan mirip darah dan kerap membuat pandangan Suci tidak jelas, mirip berkabut layaknya tanda-tanda katarak.
Kemudian, Suci sengaja mengarahkan cerminnya ke tubuh. Berbeda dengan Nurma, dadanya menang sangat rata. Ditambah lagi, kini ia terbilang sangat kurus. Pernikahan Budi dan juga KDRT yang pria itu lakukan, menjadi awal mula dirinya kehilangan banyak berat badan. Malahan sampai sekarang, meski sudah berusaha hidup sehat sekaligus damai, Suci tetap belum bisa memiliki tambahan berat badan.
“Apa gara-gara dadaku rata? Mungkin ini realistis, tapi enggak semua pria menikahi wanita karena dada dan semua kemole*kan yang seorang wanita miliki. Semua itu termasuk ‘kepu*asa*n’ dalam hubungan masih tetap diupayakan bareng-bareng pasangan. Dan harusnya mas Sepri enggak seperti mas Budi,” pikir Suci mendadak perang batin. Selain itu, ia juga mendadak ingat arahan Ratna yang memintanya untuk langsung menerima Sepri, andai pria itu mengajaknya menikah.
“Harusnya tadi aku tanya, beneran gitu, mas Sepri mau nikahin aku? Tapi, ... gimana sih ya. Mas Sepri sekaku itu—dan memang sudah wataknya, selain Binar yang telanjur semangat banget pengin mas Sepri jadi papanya,” batin Suci lagi. Ia tak jadi melanjutkan menghakimi tubuh kurusnya dan baginya kurang menarik, hingga Budi dengan begitu keji menghi*nanya, dan membandingkannya dengan Nurma. Walau jika merujuk pada keadaan sekarang, penampilan Nurma pun sudah tidak lebih baik.
__ADS_1
“Namun, benarkah sebuah hubungan ada, hanya karena fisik?” pikir Suci yang langsung dikejutkan oleh Binar yang terbangun di sebelahnya. Binar sudah menagih, kapan Suci akan menikah dengan Sepri.
“Duh ... beban hidupku nambah,” batin Suci yang juga berangsur memijat-mijat pelipisnya menggunakan kedua tangan lantaran baru bangun tidur, Binar sudah langsung sibuk menggeledah ponsel Suci, dan Binar kata ternyata ada WA dari om Sepri.
“Mah, ini, Mah! Ayo, balas, Mah!” rengek Binar benar-benar memohon.
“Om Sepri baik banget. Om Sepri sayang banget ke kita, jadi Mamah enggak usah sedih-sedih lagi. Aku juga sudah enggak sedih lagi. Andai papah sama bude jahat, aku bakalan lawan. Dan om Sepri pasti juga enggak tinggal diam!” yakin Binar seyakin-yakinnya.
Sekarang, Sepri sungguh ibarat super hero bagi Binar. Sepri hadir di waktu yang sangat tepat, di saat mereka khususnya Binar benar-benar butuh sandaran. Di saat mereka membutuhkan pelindung.
Itu pesan yang Sepri kirimkan tiga jam lalu.
Mas Sepri : Mbak, kamu mau makan pecel, soto, apa sate sama nasi? Binar suka es campur juga enggak? Ini aku sudah bawa es krim.
Sementara pesan tersebut, dikirim setengah jam lalu.
__ADS_1
“Boro-boro tidur, aku malah jadi deg-degser campur aduk gini. Masa iya, masih masa idah, sudah mikirin nikah? Tapi ini memang lebih baik daripada berzi*nah apalagi kena fitnah. Ya Allah ya Raaabbb, mohon petunjuk-Mu. Dekatkan jika kami memang jodoh, dan jauhkan jika memang tidak!” batin Suci lagi yang kemudian kembali fokus kepada Binar.
“Mah, Mamah bahagia kan, kalau sama om Sepri? Menurut Mamah, om Sepri memang baik, kan?” lembut Binar sembari menatap sendu kedua mata mamahnya.
Tatapan sendu Binar sudah langsung menghangatkan hati Suci. Suci refleks mengangguk-angguk di tengah kenyataannya yang berkaca-kaca menatap Binar penuh cinta. Karena tak bisa ia pungkiri, sejauh ini, Sepri telah membuatnya nyaman apalagi pria itu begitu mengayominya.
“Aku sayang Mamah,” ucap Binar sambil memeluk Suci. “Sayang banget. Aku sayang banget ke Mamah!” ucap Binar kian mengeratkan pelukannya.
Air mata Suci jatuh bersama anggukan yang ia lakukan. “Mamah juga sayaaaang banget ke Binar!” ucap Suci sambil balas memeluk Binar tak kalah erat.
Kebersamaan haru yang diwarnai air mata anak dan ibu itu usai karena seseorang mengetuk pintu, selain ternyata Sepri yang sampai melakukan telepon suara melalui aplikasi WA. Hingga sekitar lima menit kemudian, pintu kontrakan Suci terbuka sempurna, sementara Suci mengawasi kesibukan Binar mengurus aquarium bersama Sepri.
Suci memilih diam sambil menikmati pecel lontong mbak Arimbi yang Sepri bawakan. Tadi pria itu berdalih, andai Suci mau diajak ke acara ijab kabul Akala. Iya, sampai detik ini Sepri masih tetap dengan keseriusannya, membawa hubungan mereka ke pernikahan setelah nanti Suci selesai masa idah.
“Nanti dikasih ikan sapu-sapu biar ada yang bantu bersihin. Binar mau ikan yang warna warni juga enggak? Nanti pilih yah, di aquarium yang ada di rumah Om,” ucap Sepri yang beres memasang lampu baru di aquarium lantaran lampu sebelumnya, putus akibat mati listrik malam kemarin.
__ADS_1
Kebersamaan kini membuat mereka mirip keluarga bahagia, meski jujur saja, Suci jadi gugup dan kerap salah tingkah. Sekadar menawari Sepri kopi saja, Suci jadi berkeringat. Padahal biasanya, itu selalu menjadi hal yang sangat mudah.