Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
48 : Mirip Mantra


__ADS_3

Melihat isi kantong pemberian Sepri, Suci jadi cukup terkejut. Karena selain camilan, roti, kopi kemasan, teh kemasan, dan juga air mineral, di sana juga sampai ada stiker aroma terapi lengkap dengan masker, selain minyak roll-on dan balsam pegal linu.


“Ini beneran buat aku, apa punya mas Sepri, ya?” pikir Suci yang kemudian sengaja memastikan melalui pesan WA. Namun, baru juga membuka ruang obrolannya dengan WA Sepri, ia memergoki pesan manis antara Binar dengan Sepri.


“Makasih banyak karena udah sayang Binar dan mamah Binar, Om Seprimen!” ucap Binar di pesan suara yang dikirimkan kepada Sepri melalui WA milik Suci.


“Sama-sama, Binar sayang. Makasih juga buat gambarnya, nanti Om simpen, Om pajang di kamar Om, ya. Sekarang sudah malam, Binar tidur, biar besok enggak kesiangan. Besok Binar sekolah, kan? Mimpi indah ya ....” Itu pesan suara balasan dari Sepri dan terdengar lembut sekaligus sangat perhatian. Sangat kontras dengan keseharian Sepri, bahkan itu ketika Sepri berkomunikasi dengan Suci.


Sepri terdengar sangat tulus kepada Binar, dan mungkin karena itu juga, Binar juga sayang sekaligus tulus kepada Sepri. Lain dengan sikap Binar sekarang kepada Budi, dan mungkin karena setelah semua yang terjadi.


Suci : Mas Sepri, maaf ganggu. Ini punya Mas?


Suci mengirimkan pesan tersebut bersama foto barang yang dimaksud.


Mas Sepri : Bukan, itu bukan punya saya, tapi saya memang sengaja beli buat Mbak, biar bisa mengurangi pegel linu sama rasa capek Mbak.


Suci : Ini banyak banget loh, Mas. Makasih banyak, ya 🙏🙏🙏


Mas Sepri : Enggak apa-apa, Mbak Suci. Santai saja. Saya sengaja beli itu biar Mbak enggak kecapean banget kok. Oh iya, Binar sudah tidur?


Suci : Binar sudah tidur, Mas. Sekali lagi makasih banyak yah, Mas 🙏🙏🙏


Mas Sepri : 🙏🙏🙏 Binar sudah tahu Budi di sana?


Suci : Sudah, Mas. Tapi enggak mau nemuin, tadi pun harus dipaksa-paksa. Masih kelihatan emosional sih. Belum ada perubahan, tapi terbilang makin parah.

__ADS_1


Mas Sepri : Anak segitu harusnya memang selalu jujur, Mbak. Jangan dipaksa apalagi kita sama-sama tahu kelakuan Budi gimana. Kenapa lampu konter enggak dimatiin saja biar enggak silau?


Detik itu juga Suci yang membaca balasan pesan dari Sepri, langsung bengong. “Hah, maksudnya, ... Mas Sepri ada di depan?” pikir Suci yang berangsur melongok ke samping belakangnya dengan hati-hati. Benar saja, Sepri yang masih memakai koko panjang warna putih, berdiri di depan sana dan baru saja menatapnya setelah sebelumnya, pria itu tampak fokus mengawasi layar ponsel.


Suci yang jadi bingung sekaligus kikuk, memilih untuk tersenyum. Senyum yang tentu hanya senyum masam. Ia sengaja mengirimi Sepri pesan lagi.


Suci : Oh, Mas sudah pulang? Aku pikir mau nginep.


Mas Sepri : Yang hobi sekaligus berbakat menginap itu Ojan, Mbak.


Mas Sepri : Ya sudah kalau memang sudah enggak ada yang diurus, mending mbak tidur. Saya pamit cek yang sedang urus susun gula merah dulu di gudang.


Suci : Iya, Mas. Sekali lagi, terima kasih banyak 🙏🙏🙏.


Keesokan paginya, Budi mengeluhkan rasa sakitnya kepada Suci.


“Dalam mengobati juga ada tahap-tahapnya, Pak Budi. Obat, baik yang diminum maupun disunt*ikkan juga bagian dari pengobatan dari dokter. Nanti saat ada kontrol dokter, bisa disampaikan keluhannya. Seperti ibu Pak Budi, beliau juga mengeluhkan sakit di matanya. Andaipun kalian memang ingin dirujuk, nanti tunggu keputusan dokternya ya. Permisi,” ucap Suci sangat santun dan memang masih sangat cuek kepada Budi apalagi Nurma yang masih ada di sana.


“Memangnya gambarnya mau dikasih apa, Om?” heboh Binar di luar sana, bertepatan dengan Suci yang membuka pintu tak lama setelah pemeriksaaan kepada Budi yang sudah dipindahkan ke ruang rawat, selesai.


Detik itu juga Suci terdiam dan refleks melirik Budi yang ia pergoki sudah langsung melotot tak percaya. Budi buru-buru berusaha melongok suasana di luar, kemudian berusaha duduk susah payah hanya untuk bisa melihat Binar yang tengah di emban Sepri, dengan leluasa.


“Heh, Sepri!” teriak Budi sengaja memanggil sosok yang telah membuatnya sangat kesal. Budi tidak terima Sepri sedekat itu dengan Binar, dan sampai mengemban Binar sekaligus didekap Binar.


Detik itu juga Suci memilih menutup pintu ruang rawat Budi, tak mau Binar malu karena sang papah yang terlalu congak.

__ADS_1


“Suciiiiiii?!” teriak Budi dari dalam sana. Tak terima lantaran Suci justru terkesan sengaja membatasi interaksi Budi dengan Binar.


Hanya saja, Sepri yang telanjur mendengar teriakkan Budi, sengaja memastikan. Sepri memasuki ruang rawat Budi berada, melewati Suci yang baru akan meninggalkan pintunya.


“Kenapa?” ucap Sepri lirih dan terdengar dingin di telinganya sendiri. Termasuk tatapannya, kali ini, ia juga menatap dingin Budi maupun Nurma yang menemani di dalam sana.


“Ngapain kamu gendong-gendong anakku?!” kesal Budi yang sudah berhasil duduk. Namun, ia hanya mampu duduk selonjor di tengah ranjang rawat.


“Lah kamu sendiri kenapa anak sendiri enggak pernah digendong?” balas Sepri dengan santainya.


Sempat kebingungan dengan balasan Sepri yang malah melemparkan pertanyaan menyudutkannya, Budi berkata, “Memangnya kamu enggak lihat, aku sedang sakit?!”


“Papah jangan bikin malu!” tegas Binar sudah langsung membuat semua yang di sana apalagi Budi, diam.


“Satu lagi, ... jangan kasa*r-kas*ar ke Binar apalagi ke Suci, selain kamu yang juga enggak berhak atur-atur Suci lagi karena kalian sudah bukan suami istri!” lanjut Sepri yang kemudian membawa Suci pergi dari sana, tanpa peduli pada Budi lagi meski Budi sempat meronta memanggil Sepri, Suci, maupun Binar. Binar sendiri tetap cuek dan tampak marah, setelah sebelumnya sempat memarahi Budi dan bocah itu bilang, “Jangan bikin malu!”


“Saya enggak yakin semuanya akan baik-baik saja karena kalau saya tangkap, dia merasa berhak mengatur-atur Mbak, seolah semuanya baik-baik saja. Jadi kalau dia sampai macam-macam, kalau memang Mbak enggak berani urus langsung, Mbak cukup bilang ke saya!” tegas Sepri sambil melangkah pergi dari rumah sakit sambil tetap menggendong Binar.


Walau belum beres tugas piket, Suci terpaksa mengikuti Sepri karena biar bagaimanapun, niatnya ia akan memandikan Binar yang harus berangkat sekolah.


Suasana di luar benar-benar sepi karena kebetulan hanya ada mereka bersama Binar. Andaipun biasanya ramai dan itu efek mulut Ojan yang tak mau diam, khusus hari ini suasana di sana pasti aman karena Ojan dipastikan akan menginap di rumah Akala sampai besok.


“Mbak?” panggil Sepri benar-benar serius.


Tanpa menjawab, Suci sudah langsung menatap Sepri.

__ADS_1


Setelah akhirnya tatapan mereka bertemu, Sepri berkata, “Kalau aku mau seriusan sama Mbak, jalin hubungan serius dengan Mbak, setelah Mbak beres masa idah kita langsung menikah, Mbak mau, enggak?”


“Hah ...? Ini Mas Sepri beneran ngajak nikah, apa lagi baca mantra? Kok selempeng ini?” batin Suci deg-degan dan perlahan jadi tidak berani menatap kedua mata Sepri yang menatapnya sangat serius cenderung marah hingga ia merasa, ajakan nikah Sepri mirip mantera yang harus dilafalkan dengan sangat serius agar dampak mantranya sempurna.


__ADS_2