
“Semuanya sempurna.” Dokter Andri berucap lirih di tengah fokus kedua matanya yang masih menatap saksama layar USG di hadapannya.
Suci apalagi Sepri langsung bengong. Mereka sampai lupa bernapas dan langsung merasakan sesak dari dampak keadaan mereka. Senyum semringah seketika menggantikan ketegangan cenderung takut yang sempat menjadi ekspresi tunggal kedua sejoli itu.
“Coba Pah, lagi, Pah. Beneran iya, enggak!” sergah Sepri begitu bersemangat. Walau belum sepenuhnya yakin, kabar sang putra yang memiliki fisik lengkap, sudah langsung membuat hatinya terenyuh, seiring air matanya yang jatuh.
“Mbak Suci kan bisa baca hasil USG. Nih lihat, semuanya sempurna. Tangan, jari, kaki, hidungnya pesek mirip mamah Septi, hahahaha!” ucap dokter Andri langsung kicep lantaran sang istri mendadak masuk. Yang membuatnya langsung bisa mengerem tawanya dan itu karena menyamakan hidung sang cucu dengan hidung sang istri, tentu karena kedatangan ibu Septi begitu spontan. Karena meski tak bertubuh besar, ibu Septi tak segan menyerudu*k pintunya hingga terbuka secara paksa.
“Mbak Septi ih, dibilangin kalau deket-deket Mbak Suci, Mbak Septi wajib jaga suara. Tuh kan, yang di perut Mbak Suci langsung duge*m. Jedag-jedug, jedag-jedug hanya karena dengar suaranya Mbak Septi!” ucap Ojan mengomel dengan suara lantang. Ia juga ikut datang dengan berlari dan tak kalah heboh dari ibu Septi, hingga tongkat bantu jalan eyang Fatimah, mendarat di kepalanya dengan spontan sekaligus keras.
“Eyang Fatimah ... jangan puk*ul ubun-ubun aku. Nanti pakunya keluar dan aku jadi kuntel. Eh, kunti maksudnya!” rengek Ojan sambil menatap sedih sang eyang sementara tangan kanannya mengelus-elus ubun-ubunnya.
Seketika itu juga, ketegangan sekaligus rasa haru di sana, digantikan oleh tawa lepas dari semuanya.
“Coba Mamah lihat. Tadi Mamah dengar, sudah ada hasilnya? Masya Allah mana. Tadi Mamah dengan si dokter Andri bilang hidungnya pesek mirip hidung mamah Septi. Pengin tidur di genteng kayaknya tuh orang, berani-beraninya bilang gitu!” ucap ibu Septi sambil fokus mengawasi layar monitor yang menampilkan hasil USG-nya.
Di sebelah ibu Septi, dokter Andri menjadi berdiri dengan gelisah. Antara takut, tapi juga sambil menahan tawanya.
__ADS_1
“Banti*ng saja, Mbak. Bant*ing dokter Andrinya. Intinya kalau negara ini ganti presiden, Mbak juga wajib ganti suami!” yakin Ojan yang lagi-lagi mendapat han*taman tongkat bantu jalan dari eyang Fatimah.
Mendengar itu, ibu Septi yang sempat latah menertawakan balasan Ojan, memilih langsung mendekap mesra sekaligus manja sang suami. Dekapan yang juga sudah langsung dibalas dengan dekapan sekaligus ciu*am di pipi sangat mesra.
“Ah, mencre*t emang! Sudah pada tua, pacaran terus! Aku saja baru mau lamaran. Hahaha akhirnya nyaris laku. Hahaha, trauma jangan-jangan ditinggal lagi pas malam pertama. Hahahaha! Duh dilema! Enggak laku takut, laku pun lebih takut!” keluh Ojan yang berkeluh kesah sambil menangis tapi juga tertawa.
Yang di sana dan awalnya akan iba, jadi kompak tertawa sambil berkaca-kaca, termasuk juga dengan Suci. Malahan meski sudah terbiasa dengan suasana heboh di sana, Suci masih sering tertawa sampai terkencing-kencing. Layaknya kini, ia meminta sang suami untuk membantunya bangun. Ia kebelet pipis dan harus segera ke kamar mandi.
“Itu lihat itu ... yang di perut jadi enggak mau diem, sampai muter-muter!” tegur eyang Fatimah dan memang sangat ditakuti oleh semuanya termasuk juga Ojan yang tak kenal aturan.
Membahas anak di perut Suci yang memang makin sangat aktif, tengah berputar-putar, memang bukan hal baru. Karena di setiap mendengar suara ibu Septi maupun suaranya Ojan, yang di perut Suci memang sudah akan langsung heboh. Seolah, jabang bayi itu juga ingin bergabung tertawa lepas bahkan kalau bisa, ikut nongkrong bareng lantaran mereka memang satu frekuensi.
“Pah, tadi cucu kita masih tetap cowok apa malah jadi cewek?” tanya ibu Septi benar-benar manis kepada sang suami.
“Ah Mamah, sekate-kate banget. Dikiranya anak aku Ojan, yang cowok bukan, tapi cewek juga kadang-kadang!” protes Sepri sambil menatap sebal sekaligus sedih sang mamah.
Namun yang di sana termasuk Eyang Fatimah yang selalu bertampang garang, jadi kompak tertawa. Malahan Suci sampai kebablasan ngompol, hingga ibu Septi terpingkal-pingkal menyaksikannya dan berakhir ngompol juga.
__ADS_1
“Astagfirullah ... menantu sama mertua sama saja,” lirih eyang Fatimah sambil menggeleng tak habis pikir. Lain dengan yang lain dan sampai detik ini masih tertawa, termasuk Suci dan ibu Septi yang ngompol.
“Ini, sebelum aku jemput Binar, aku juga USG sekalian lah Mas Andri. Ini perutku isinya tuy*ul apa gimana? Masa segede ini enggak keluar-keluar. Tapi kalau tuy*ul, masa enggak lahir-lahir? Memangnya dia enggak mau menikmati indahnya dunia ini? Beli cilung apa cimol sambil go*d*ain janda kan enak!” ucap Ojan dengan santainya dan sudah langsung berbaring di tempat pemeriksaan.
Ibu Septi yang baru berhasil berdiri dengan benar sekaligus siap melangkah, langsung menjerit dan tertawa sangat lepas. Terlebih Ojan yang sudah berbaring, juga sampai menarik tuntas kausnya ke atas, hingga perutnya yang mirip hamil enam bulan, terlihat sempurna.
“Ini perut isinya gran*at, makanya kalau kentut keluarnya wabah!” ucap eyang Fatimah sambil menekan-nekan perut buncit Ojan menggunakan tongkat bantu jalannya.
“Aduh, Yang ... Eyang Fatimah jangan gitu Yang, nanti aku keguguran, Yang!” rengek Ojan sambil mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan.
Sekelas Sepri yang sangat susah tertawa, kini malah sudah dan itu sambil menangis saja nyaris terkencing-kencing. Sepri sengaja mendekap erat tubuh Suci, bahkan meski tubuh bagian bawah Suci basah karena ompol. Sepri sama sekali tidak mempermasalahkannya, sebab kenyataan sang putra akan terlahir sempurna dan keadaannya pun sangat sehat sekaligus aktif, benar-benar membuat Sepri merasa sangat bahagia. Semuanya terasa sempurna, dan Sepri sangat tidak sabar menunggu kelahiran putranya.
“Makasih banyak, ya. Wajib semangat, sehat-sehat terus!” ucap Sepri tak lagi malu mengumbar kemesraan.
Suci langsung tersipu sambil mengangguk-angguk.
“Pri, kalau kamu mau ngajak Mbak Suci belanja ke mal, aku juga diajak ya! Malu beli—” ucap Ojan yang sebenarnya belum selesai bicara, tapi eyang Fatimah sudah kembali mengomel kepadanya, menjadikan tongkat bantu sebagai senj*ata pamungkas dalam memarahinya.
__ADS_1
“Iya ini si Ojan, mau nikah kok enggak mikir. Fokus cari kerja apa gimana. Kok iya, masih pengin jadi bayinya Sepri? Belajar jadi laki-laki dong!” timpal ibu Septi.
Detik itu juga, Ojan menjadi mendapatkan ceramah karena biar bagaimanapun, pria itu memang akan menikah, tapi tingkahnya tetap seperti bocah. Nantikan ya, novelnya. Ada terpisah pokoknya.