
Bayi Nurma yang dik*orbankan dan berakhir meninggal. Nurma selamat dan tak ada luka fisik berarti, tapi KDRT sekaligus perselingkuhan Budi membuat mental wanita itu tak baik-baik saja. Bukan hanya perselingkuhan sekaligus KDRT yang ia alami ketika Budi dengan Hera, melainkan KDRT Budi kepada Suci, serta perselingkuhan Suci dengannya.
Nurma berinisiatif meminta maaf kepada Suci. Diantar sang ibu, wanita itu berakhir menyembah-nyembah kepada Suci yang kebetulan sudah pulang dari Jakarta. Nurma bahkan mengakui dirinya sempat bertekad menggod*a Sepri.
Suci memang bersedia memaafkan Nurma meski itu hanya untuk formalitas. Agar Nurma tak terus memohon sekaligus membuat keributan di sana. Namun Binar yang telanjur kecewa, dendam, sekaligus trauma, tak kuasa melakukannya.
Binar dengan tegas mengatakan bahwa gadis kecil itu sangat marah, malu, bahkan jij*ik kepada Nurma. Karena meski lepas dari Budi dan Nurma sekeluarga telah membuat Suci dan Binar sangat bahagia, Binar tidak akan pernah lupa pada kekeji*an yang mereka terima. Kekej*ian yang terus terngiang-ngiang dan seolah terus Binar alami tanpa bisa diakhiri. Pengakuan tersebut juga yang membuat Suci dan semuanya mengetahui, bahwa luka yang Binar alami akibat perselingkuhan sang bapak dengan orang yang paling dekat dan itu Nurma, ditambah lagi bukti foto dan video lengkap dengan KDRT.
Nurma tak bisa memaksa Binar maupun Suci memaafkannya. Karena setelah mendengar kejujuran Binar, itu juga yang Nurma rasakan setelah wanita itu merasakannya sendiri bagaimana rasanya diselingkuhi, dan mendapatkan KDRT. Sedih, benci, kecewa, sekaligus trauma, Nurma sungguh merasakannya.
Kabar mengenai Budi dan Hera juga tak kalah mengejutkan. Keduanya yang sampai dipulangkan oleh pak Dipto ke rumah ibu Syamsiah, sudah langsung menjadi bahan tontonan. Keduanya hanya diobati ala kadarnya karena orang tua Hera juga bukan dari orang tua berada. Orang tua Hera tak lebih mampu dari ibu Sumarni maupun ibu Manis yang sampai detik ini tetap memilih menjadi janda.
“Nur, kamu jangan asal minta cerai dong!” ucap ibu Syamsiah ketar-ketir karena biaya rumah sakit Budi dan Hera terancam mahal, sementara jika bukan Nurma, memang tidak ada yang diandalkan karena sampai sekarang saja, suaminya entah ke mana. Pak Munasir tak kunjung pulang dari Jakarta.
“Jangan asal minta cera*ai kepa*lamu!” kesal Nurma tak berniat jaim-jaim lagi. Ia tetap mengemasi pakaian sekaligus barang-barangnya dari sana. Tak ubahnya Suci, sekadar panci yang ia beli menggunakan jeri payahnya pun sengaja ia boyong.
“Ya iya ... kalau bukan ngandelin kamu, orang sini ngandelin siapa lagi? Kan kamu memang penggantinya Suci!” takut ibu Syamsiah benar-benar panik. Terlebih, biaya pengobatan Budi dan Hera seolah sudah harus ia pikul sendiri. Belum biaya hidup mereka sehari-hari.
“Lambemu yah Syamsiah. Otak kok cuma isinya numpang hidup!” sergah ibu Sumarni yang kebetulan memang masih menemani Nurma.
“Numpang hidup bagaimana? Harta keluargaku kan habis gara-gara Nurma. Anakku juga mat*i gara-gara Nurma! Karena andai Bandi Salim belum mati dan Nurma pun tidak kegat*elan menggoda Budi, pasti keluarga ini baik-baik saja!” lantang ibu Syamsiah tak terima sambil berusaha memuku*l-muku*lkan tongkat bantu jalannya.
__ADS_1
Nurma yang telanjur emosi, muak, sekaligus dendam terlebih selama ini ia terus ditin*as, sengaja bangun kemudian mendoro*ng ibu Syamsiah sekuat tenaga. “Manusia ini enggak akan pernah ngerti kalau kita kasih tahu dengan bahasa manusia, Bu! Sudah kita tinggal saja. Sementara kalau ibu Syamsiah tanya kalian harus mengandalkan siapa jika aku yang kalian jadikan pengganti Suci juga pergi, tuh istri orang yang Budi tidu*ri. Si Hera yang sekarang sama-sama bo*tak, sama-sama cac*at kayak Budi jawabannya!” ucap Nurma lirih saking geregetannya.
Ditinggal Nurma, sekaligus merasakan dampak pembalasan sekaligus hukuman dari suami Hera yang tak lain bos Budi, seolah menjadi babak baru dalam kehidupan Budi. Layaknya sumpah serapah yang sempat Suci katakan, Budi sungguh baru berhenti setelah pria itu caca*t permanen dan hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah itu saja sangat terbatas. Karena selain bergerak saja terbatas, di rumah Budi memang tidak ada yang membantu dengan cekatan.
Budi dan Hera memang berencana dinikahkan. Hera bahkan dipaks*a mengurus Budi di kediaman Budi yang tanahnya sudah digadaikan. Namun belum ada dua minggu hidup di rumah ibu Syamsiah, Hera sudah ditemukan kaku tak bernyawa setelah menenggak obat t*ikus. Disinyalir, selain tak kuat memiliki ibu mertua layaknya ibu Syamsiah yang sangat cerewet, pada kenyataannya, Hera yang depresi akibat balasan dari pak Dipto, juga tak kuasa menerima kenyataan. Kenyataan dirinya yang awalnya sempat jadi orang kaya baru sekaligus nyonya, mendadak jadi bab*u di rumah ibu Syamsiah. Terlebih, Budi yang sempat membuat Hera klepe*k-keple*k, malah hanya makin membuat hidup Hera mengenaskan jika turut dijelaskan.
Berbeda dengan kehidupan Budi yang berakhir tragis, Suci dan Binar justru memetik kebahagiaan dari kesabaran sekaligus perjuangan mereka. Bayi laki-laki yang mereka beri nama Arsya, lahir dengan selamat. Malahan, bayi yang gantengnya mirip dokter Andri kala muda itu, makin gemoy karena sangat aktif meminum ASI.
Kehadiran Arsya menambah kebahagiaan di keluarga Sepri. Ibu Septi dan dokter Andri dan eyang Fatimah menghabiskan waktu mereka dengan momong cucu. Bukan hanya Binar, Arsya, juga kedua anak Nissa, tapi juga Adam anak Rere yang kini sudah menjadi anak sambung Ojan, setelah pria itu resmi menikah dengan Rere.
“Heh, Paojan. Ngapain kamu narik bayaran kontrakan lagi, kan baru dua minggu lalu kamu tarik!” semprot Sepri sambil mengemban sang putra.
Detik itu juga Ojan kebingungan. “Oalah ... Daddy Oh Jan lupa, Pri!” balasnya yang memang kini selalu memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Daddy semenjak ia resmi menikah dengan Rere, sementara Adam anak Rere sudah langsung memanggilnya Daddy.
“Kalau mereka kurang nyaman, nanti aku pijat deh!” yakin Ojan dengan santainya hingga Sepri makin mendelik.
Namun, Ojan yang terus cengar-cengir malah dengan sengaja mencubit hidung Arsya. Hingga bayi berusia lima bulan itu nangis kejer.
“Paojannnn!” marah ibu Septi dari lantai atas rumahnya sambil menunjuk-nunjuk Ojan menggunakan gagang sapu ijuk di tangan kanannya.
***
__ADS_1
Lima tahun berselang dari kelahiran Arsya, Suci melahirkan anak perempuan. Anak perempuan yang mewarisi kecantikan Suci itu, lahir dengan sempurna. Anak perempuan yang juga menjadi anak terakhir Suci dan Sepri karena baik Suci maupun Sepri sepakat tidak mau memiliki banyak anak.
Sepanjang hubungan mereka, Suci dan Sepri tinggal bersama keluarga Sepri. Sesekali, pihak dari saudara Ojan datang untuk bersilaturahmi. Sesekali, Ojan sekeluarga juga datang menginap dalam jangka waktu lama. Sebab menikah dengan Rere membuat Ojan tinggal di Jakarta, selain Ojan yang memang jadi pelawak ternama.
Eyang Fatimah yang awalnya menjadi alasan Ojan pulang kampung, memang sudah berpulang tak lama setelah kelahiran anak perempuan Sepri dan Suci yang diberi nama Arsy. Namun, kasih sayang Sepri sekeluarga membuat Ojan sekeluarga, tidak pernah bisa benar-benar tanpa mereka. Hubungan mereka tak terpisahkan. Karena ketika Binar wisuda dan siap menjadi seorang dokter layaknya cita-cita mereka, Ojan memboyong keluarga besarnya untuk mendukung Binar.
Acara wisuda yang sebenarnya sudah ramai, menjadi makin ramai akibat kedatangan Ojan, si pelawak fenomenal.
“Sebahagia ini,” ucap Suci berkaca-kaca menatap sang suami. Sebab menyaksikan Binar naik ke atas panggung wisuda dan disebut sebagai lulusan terbaik, ibarat keajaiban untuknya. Andai Suci tetap bertahan dengan Budi, tentu kenikma*tan hidup sekaligus kenaikan status sosial, tak mungkin ia dan Binar rasakan.
Puncaknya, Binar menyebut Suci dan Sepri, dan juga keluarga besar Sepri, sebagai sumber semangat sekaligus inspirasi.
“Kak Ojan juga disebut, Bi!” protes Paojan sambil berseru setelah melepas kaca mata hitamnya.
Untuk kali ini Sepri yang sudah sampai menangis saking bahagianya telah mengantar Binar jadi lulusan terbaik, sengaja membiarkan Ojan berulah di sebelahnya. Binar yang masih di panggung sana sampai ngakak, dan tak segan mengajak Ojan yang sampai detik ini masih Binar panggil kak Ojan, untuk segera melakukan stand up di panggung.
Jika kalian menanyakan kabar Budi, pria itu sudah meninggal sebelum Arsy lahir karena sakit-sakitan dan minimnya pengobatan. Sementara ibu Syamsiah yang awalnya masih bertahan, berakhir jadi kurang waras terlebih setelah akhirnya rumah dan tanahnya disita untuk membayar setiap hutang. Suci dan Binar sempat merawat ibu Syamsiah, membuat ibu Syamsiah tinggal di kontrakan keluarga Sepri yang sempat dikelola Ojan. Namun, penyakit tua sekaligus kenyataan ibu Syamsiah yang depres*i, mengantarkan wanita itu kepada ajal. Sementara kabar pak Munasir, disinyalir pria itu sengaja meninggalkan keluarganya lantaran tidak betah dengan keadaan keluarganya yang membuat suasana rumah mirip neraka.
Jadi, inilah akhir dari kisah mereka. KDRT, sekaligus selingkuh yang ibarat penyakit dan baru akan terobati jika yang menjalani memang memiliki tekad kuat untuk berhenti. Namun jika orangnya seperti Budi, tentu kecac*atan sekaligus ajal yang bisa menyudahinya.
Sekali lagi, KDRT bukanlah penyelesai masalah dalam suatu rumah tangga. Jika memang tidak sanggup mendidik istri, lepaskan saja. Namun jika kamu merupakan korban, jika memang itu sudah sangat mengancam, pergi lah. Hidup kita terlalu berharga untuk menjadi bahan am*uk pria berkedok suami.
__ADS_1
Kita bertemu di novel Ojan, Brandon, dan juga Aqwa. Sisanya, akan menyusul ya ❤️❤️