Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
73 : Undangan Pernikahan Dan Sepenggal Masa Lalu


__ADS_3

“Binar sayang, salim dulu ke Mbah,” ucap Sepri setelah ia lebih dulu menyalami tangan kanan ibu Syamsiah.


“Assalamualaikum, Mbah,” lembut Binar yang sudah langsung menyalami tangan ibu Syamsiah dengan takzim. Rambutnya yang makin panjang dan kini sudah sepunggung, menyapu tangan ibu Syamsiah yang hanya diam layaknya pemilik dari tangan tersebut.


Binar menatap ibu Syamsiah penuh senyuman. Ia sudah berdamai dengan kenyataan yang dulu pernah sangat melukainya. Kenyataan jika mamahnya terus disakiti, selain dirinya yang jadi tidak punya papah. Namun seperti halnya kata sang mamah, akan selalu ada pelangi bahkan di langit paling gelap sekalipun, asal Binar masih jadi anak baik. Asal Binar tetap menjadi Binar yang pintar, Binar yang ceria, Binar yang sayang ke mamah, juga Binar yang tidak kas*ar. Binar tidak boleh berucap apalagi main tangan seperti yang Budi sekeluarga lakukan. Binar harus mencontoh sekaligus mempraktikkan hal-hal yang baik seperti lingkungan di kehidupan baru Binar.


“Binar cantik banget, ...,” ucap ibu Syamsiah bingung harus berbicara apalagi, tapi ia sungguh mengagumi keadaan cucu perempuannya itu yang sangat terawat. Dari kulit Binar yang makin bersih, tubuh Binar yang makin berisi tapi tidak gen*dut. Pakaian, sandal, bahkan perhiasan yang menyertai penampilan cucu perempuannya itu membuat Binar mirip anak Bos.


Satu persatu orang di rumah orang tua Budi berdatangan. Dari Nurma yang baru pulang setelah jualan sayur keliling menggunakan motor pak Munasir, anak-anak Nurma yang baru pulang mancing, juga Budi yang dari halaman samping. Budi masih menggunakan dua alat bantu jalan, tapi pria itu berdalih akan bisa segera jalan.


“Binar ....” Melihat Binar yang seperti sekarang membuat seorang Budi merasakan hukuman lebih nyata. Hukuman yang lebih menyakitkan dari kedua kakinya yang sempat divonis lump*uh. Sebab, meski putrinya jadi terlihat sangat terawat sekaligus sangat bahagia, kenyataan tersebut justru bukan karenanya. Tak kalah mencolok ialah sederet perhiasan yang menyertai Binar. Tentu Budi tidak lupa jika sekitar setengah tahun lalu, sekedar anting Binar saja sampai ia rampa*s untuk memenuhi kebutuhannya. Namun kini, tubuh putrinya itu berkilau bersama perhiasan yang jumlah sekaligus ragamnya berkali lipat lebih banyak sekaligus lebih bagus dari yang sempat ia rampa*s.

__ADS_1


Budi yang sekarang memang masih terlihat gagah meski kabarnya, kini pria itu menjadi pengepul rong*sok untuk membantu ekonomi keluarga. Namun jika dibandingkan dengan Binar bahkan Sepri, Budi lebih cocok jadi bawahannya atau kata kas*arnya kacu*ngnya.


“Si Sepri, jadi gaya gitu ya ... masa iya, ini masih gara-gara diurus Suci. Mereka sudah nikah apa gimana sih? Binar sampai panggil Sepri “ayah”,” batin Budi yang benar-benar malu. Ia bahkan menyesali keputusannya keluar dari samping belakang rumah, hingga ia yang hanya memakai kaus lengan pendek sekaligus kolor lusu*h, harus berhadapan dengan Sepri maupun Binar yang tampangnya mirip para juragan.


Namun, ... Budi sungguh rindu kepada Binar. Ia bahkan langsung menangis ketika Binar yang diarahkan oleh Sepri untuk menyapa sekaligus menyalaminya, benar-benar melakukannya dengan takzim.


“Papah, ... aku sudah enggak marah ke Papah, asal Papah enggak menyakiti mamah lagi. Selain itu, aku juga ingin mengucapkan terima kasih ke Papah. Karena setelah pisah dari Papah, aku dan mamah benar-benar bahagia. Enggak apa-apa aku enggak punya Papah, yang terpenting aku punya mamah sama Ayah Sepri. Sekarang, semuanya benar-benar sayang kami. Mamah sudah enggak pernah nangis lagi karena ayah Sepri sayang banget ke mamah. Mbah Septi sama mbah Andri juga sayang banget ke kami, beda sama mbah Syamsiah ... pokoknya, aku sama mamah bahagia banget!” ucap Binar lembut sekaligus menatap Budi dengan mata yang berbinar-binar. Iya, Binar yang sekarang sungguh seperti namanya. Nama yang Suci berikan tak lama setelah talak yang ibu Syamsiah minta.


“Sudah tahu anaknya perempuan, ngapain lahiran di sini, enggak di rumah saja pakai du*kun beranak? Duit lagi, duit lagi! Dasar mantu set*an! Kecuali kalau anakmu laki-laki, mau sesar atau lahiran paling mahal sekalipun, ayo!” lanjut ibu Syamsiah kala itu dan tampak akan mengamuk Suci yang jalan lahirnya saja tengah dijahit. Namun bukannya iba apalagi disayang-sayang, yang ibu Syamsiah lakukan justru terus marah-marah. Bidan yang membantu di sana sampai mengusir ibu Syamsiah. Karena selain wanita itu memang rekan kerja Suci, kemarahan ibu Syamsiah sangat tidak baik untuk kesehatan mental Suci.


Iya, Budi masih sangat ingat itu. Bahwa sejak di dalam kandungan, Binar sudah sangat tidak diinginkan hanya karena kepercayaan sekaligus keyakinan anak pertama wajib laki-laki, yang dianut keluarganya. Dan Suci selaku wanita yang akan melahirkan Binar, juga selalu diolo*k-olo*k, disalahkan oleh mereka. Parahnya, bukannya memberikan dukungan, semenjak itu juga Budi memulai hubungan terl*arangnya dengan Nurma yang memang terang-terangan menggodanya. Jadi, bisa kalian kira-kira, sejak kapan Suci dikhianati oleh Nurma dan Budi, tapi itu pun Suci sudah dituntut menjadi istri sempurna. Sementara jika dihubungkan dengan kenyataan, kepercayaan sekaligus anggapan anak pertama wajib laki-laki jika ingin rezeki pernikahan sekaligus keluarga lebih baik, justru tidak benar.

__ADS_1


“Kedatangan kami ke sini untuk mengantarkan undangan pernikahan saya dengan mamahnya Binar,” ucap Sepri setelah ia mengemban Binar di samping dadanya.


Dengan segera, Ojan melepas kacamata pinknya. Ia tersenyum ceria kemudian memberikan undangan berbentuk menyerupai persegi panjang warna emas. Di sana tertera nama lengkap Sepri dan juga Suci sebagai calon mempelai yang sangat berbahagia.


Budi tak kuasa menerima undangan yang Ojan serahkan. Ia mendadak tak bertenaga.


“Enggak usah mikirin amplop atau isi amplop buat kondangan yah, Bud. Kami tahu semenjak kamu dicerai mamahnya Binar, hidup kamu semua jadi beneran kaum jelantah! Eh, jelata! Jadi ya, ... ya pokoknya cukup datang. Kan di amplop undangannya saja sudah ditulis, “M-o-h-o-n ... ah, mohon doa restu! Tapi kalau beneran enggak kondangan cuma datang-datang gitu, ya cuma dapat teh pahit segelas. Hahahaha!” ucap Ojan benar-benar riang, bahagia di atas penderitaan Budi sekeluarga. Ia sengaja meletakan pak*s*a undangannya, kemudian kembali berdiri di belakang Sepri. Tak lupa, ia dadah-dadah kepada Nurma layaknya artis ternama, sebagai wujud dari kebahagiaan sekaligus kemenangannya. Iya, Ojan merasa menang setelah menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, bahwa tanpa Suci, hidup Budi sekeluarga termasuk Nurma, benar-benar susah.


Bahkan Sepri bersyukur, Budi sekeluarga tak sampai dipenjara. Karena wajib hidup tanpa bantuan Suci, nyatanya lebih membuat Budi sekeluarga susah, ketimbang di penjara. Namun tentu saja, Sepri berharap Budi sekeluarga bisa belajar dari kesalahan yang Budi sekeluarga lakukan dan memang fatal.


“Binar cantik banget, cocok jadi anak bos! Itu perhiasannya, mirip toko perhiasan berjalan!” batin Nurma yang diam-diam melongo mengawasi penampilan terbaru Binar. “Ah, Mas Sepri ... kok jadi kece gitu. Tunggu aku Mas. Nanti kalau aku sudah lahiran, aku bakalan puas*in kamu. Pokoknya Suci beneran enggak ada apa-apanya dari aku!” batinnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2