
“Mau menikah lagi?” Ibu Manis menatap heran, terkejut, bahkan marah Suci.
Suci yang awalnya tersenyum bahagia sambil memindahkan pecel lontong ke piring untuk sang ibu, sudah langsung kehilangan senyumnya. Suci menatap tegang bahkan takut tanggapan sang ibu. Baru saja, ibu Manis menghela napas kesal. Wanita berambut panjang dan selalu digelung itu tampak jengkel, tak menyambut kabar baik Suci.
“Ngapain kamu nikah lagi? Memangnya kamu belum puas digeb*ukin sama Budi? Mau kamu diselingkuhi lagi? Mau, kamu jadi kacu*ng di keluarga suami? Semua itu belum cukup bikin kamu jadi wong gob*log, Ci?!” ucap ibu Manis yang kali ini mengol*ok-ol*ok Suci.
Suci masih diam, nyaris membeku. Ia tidak akan pernah sepenuhnya menyalahkan tanggapan sang ibu mengenai penilaiannya. Ia paham, alasan sang ibu begitu karena ibu Manis hanya melihat keadaan dari satu sisi. Terlebih pada kenyataannya, setiap hal akan mendapat penilaian berbeda jika dilihat dari sisi yang berbeda juga. Meski tak bisa Suci pungkiri, tak jarang pemikiran ibunya juga akan sangat kolot. Hanya saja karena ibu Manis merupakan ibunya, mau tak mau Suci harus lebih bersabar dalam menghadapi sekaligus memberi arahan.
“Bu ....” Suci berbicara lembut.
“Enggak! Pokoknya kamu enggak boleh nikah lagi!” Ibu Manis makin meledak-ledak. “Pokoknya apa pun alasannya, kamu jangan sampai menikah lagi! Bayangin kamu digeb*ukin, dijadiin kese*t sama keluarga suami kamu saja bikin Ibu vertigo kolesterol enggak habis-habis Ci. Belum lagi kalau Binar juga kena dampaknya!”
“Enggak semua laki-laki seperti mas Budi, Bu. Enggak semua laki-laki seperti bapak. Terlebih Binar juga sudah nyaman sama mas Sepri sekeluarga!” lembut Suci berusaha meyakinkan.
“Nah, itu ....” Ibu Manis heboh sambil menunjuk-nunjuk wajah Suci menggunakan telunjuk tangan kanannya. “Itu, dulu kamu juga bilang begitu. Dulu kamu bilang kalau Budi beda dengan bapakmu yang tukang pukul, ju*di sama berbakat selingkuh!”
__ADS_1
Suci menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia sengaja meluaskan kesabarannya. “Bu, cukup dukung dan mohon doa restunya saja.”
“Cukup doa restu, cukup doa restu! Memangnya kamu pikir Ibu enggak malu, punya anak kawin cere mulu? Kabar kamu ribut sama Budi dan sampai KDRT saja sudah mirip artis. Dikiranya Ibu enggak malu, ke depan dikit disapa tetangga, ditanya-tanya kronologi kamu begitu bagaimana?” balas ibu Manis lagi dan kali ini bersedekap.
Menatap sinis Suci, ibu Manis berkata, “Bagusan juga sekarang, jadi janda, hidup berkali-lipat lebih enak. Bisa rawat diri, bisa jauh lebih santai dan bisa fokus urus anak. Memangnya semua itu belum cukup?!”
“Lalu, apa yang membuat Ibu bersedia memberi restu?” Sampai detik ini, Suci masih sangat sabar. “Aku akan menikah dengan mas Sepri loh Bu. Mas Sepri sekeluarga baik banget! Ibu pasti juga tahu, kan?”
Membuang wajah, ibu Manis yang pernah babak belur hati dan mentalnya gara-gara bapak Suci berkata, “Jangan lagi keluarga kaya raya, yang misk*in saja inja*k-inja*k kita seenak jidat mereka!”
Setelah terdiam sejenak, ibu Manis yang masih menyikapi Suci secara sinis, sengaja berkata, “Kalau kamu nekat menikah lagi, kamu enggak boleh bawa Binar! Biarkan Binar bersama Ibu! Biar ibunya senang-senang sendiri dan jadi hobi kawin! Yang ada orang-orang bakalan mengecap kamu sebagai ‘janda gat*el’ kalau belum apa-apa, kamu sudah mau nikah lagi. Iya, Ibu tahu kamu baru akan menikah setelah masa idah, tapi sekarang dan proses menuju nikah saja pasti akan langsung menjadi bahan sorotan!” Ibu Manis paling tahu kelemahan sekaligus kekuatan Suci. Iya, itu Binar. Karena andai ia menahan Binar, otomatis Suci juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia herankan, kenapa bisa-bisanya Suci sudah sampai berpikir untuk menikah lagi?
“Nanti Ibu lihat saja yah Bu. Ibu bisa menilai gimana mas Sepri yang juga sudah dekat banget dengan Binar. Sudah sekarang Ibu makan dulu,” yakin Suci, tapi tanpa kata apalagi meledak-ledak lagi, sang ibu memilih pergi.
Ibu Manis keluar dari rumah melalui pintu depan. Tak lama berselang, Binar yang masih terkantuk-kantuk menghampiri Suci. Suci yang awalnya sedang terdiam murung sudah langsung terusik.
__ADS_1
“Kok tadi berisik banget, Mah? Tadi kayaknya Mbah marah-marah. Memangnya kenapa?” Binar mengulang pertanyaannya. Ia sudah ada di sebelah Suci, memergoki meja di ruang depan rumah sang nenek, sudah dihiasi dua piring pecel, tapi dari keduanya masih sama-sama utuh. Padahal yang Binar tahu, ibu Manis sangat menyukai pecel, lontong, gorengan, dan juga gembus. Itu kenapa, sore tadi sebelum ke rumah ibu Manis, mereka sengaja membeli semua itu sebagai oleh-oleh.
Suci mengulas senyum. Ia yakin, sang ibu hanya butuh waktu sekaligus bukti keseriusan Sepri. Bahwa Sepri sekeluarga mampu membuatnya maupun Binar bahagia. “Enggak apa-apa. Binar mau Mamah siapin baksonya? Biar Mamah hangatkan dulu ya,” sergahnya lembut kemudian bergegas masuk ke dapur.
Malam ini, sesuai rencana, Suci memang sengaja mengajak Binar tinggal di sana. Tentu tujuan utama Suci memang mengabarkan rencana pernikahannya. Walau belum apa-apa, Suci sudah langsung kena semprot. Termasuk ketika Binar melakukan telepon video dengan Sepri menggunakan hape Suci. Ibu Manis sudah langsung sensi, teriak-teriak mengatai Binar berisik mirip ibu Syamsiah. Padahal selain telepon videonya di kamar, Binar juga bersuara dengan berbisik-bisik.
“Mau enggak mau, kalau memang bukan rumah sendiri, bahkan meski ini rumah mamah kandung, kejadian enggak nyaman seperti ini memang akan terjadi,” pikir Suci yang sadar, sang ibu sidah langsung membenci Sepri hanya karena rencana pernikahan Suci dengan pria itu.
“Mah, si Mbah kenapa sih? Kok jadi mirip Nini Syam?” protes Binar berbisik-bisik. Kemudian, ia menatap layar ponsel Suci yang masih dipenuhi sosok Sepri. Kali ini pria itu sedang santai di kamar, dan baru memamerkan gambar Seprimen pemberian Binar yang sampai Sepri tempatkan di dalam bingkai kemudian pajang di meja nakas sebelah kanan.
“Binar, ada apa?” tanya Sepri dari seberang.
“Si Mbah jadi cerewet marah-marah terus Om!” ucap Binar berbisik-bisik. Di seberang sana, Sepri sudah langsung terdiam dan tampak tidak nyaman.
Mas Sepri : Kamu sudah kasih tahu ibu kamu?
__ADS_1
Pesan itu Suci dapatkan selang beberapa menit dari sambungan telepon video yang Suci akhiri demi menyembunyikan tanggapan sinis ibu Manis terhadap rencana pernikahan mereka.