
“Ayah ... Ayah, kok Kak Ojan tidur di sini?” heboh Binar di keesokan harinya.
Suci yang tengah menyiapkan sajadah sekaligus sarung untuk Sepri salat subuh, langsung menatap Sepri. Di sofa seberang tempat tidur, Sepri yang sedang memasang kaki palsunya balas menatap Suci sambil bertanya, “Memangnya Kak Ojan tidur di mana, Bi?”
“Ini, Yah, di depan pintu kamar Yayah!”
Mendengar jawaban meyakinkan dari Binar barusan, Sepri dan Suci yang refleks bertatapan, sudah langsung tersipu.
“Berarti itu dari kemarin malam, pas awal kita pemanasan, sampai kita lanjut ronde ke dua, Mah!” lirih Sepri yang menjadi tersipu malu. “Bi, kak Ojannya bangunin. Suruh mandi, biar bisa salat subuh bareng kita.”
“Oh, iya, Yah!” Setelah sudah langsung berseru, Binar juga sudah langsung jongkok, menepuk-nepuk pelan wajah Ojan menggunakan kedua tangannya. “Kak Ojan, Kak Ojan ... sudah pagi ayo bangun mandi, subuhan.”
Suci mengangguk-angguk dan juga masih tersipu malu. “Ada yah, orang gitu.”
“Ya itu buktinya,” ucap Sepri yang kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada sang istri. “Akhirnya mulai pagi ini kalau mau salat ke masjid, atau pergi ke mana pun, kita bisa bebas gandengan.”
Mendengar itu, Suci makin tersipu. Segera ia yang sudah memakai mukena, menghampiri sang suami kemudian meletakan tangan kirinya di telapak tangan kanan Sepri yang seketika menggenggamnya. Yang membuat Suci terkejut, Suci tak segan memeluknya manja bahkan menempel kepadanya.
“Begini yah, rasanya punya istri yang satu frekuensi?” lirih Sepri dan sudah langsung membuat Suci tersenyum geli.
“Ini aku di mana? Di alam barjah?” ucap Ojan masih linglung sambil mengawasi sekitar.
__ADS_1
“Kak Ojan masih hidup, belum mati. Apa memang kak Ojan sudah pengin mati?” tanya Binar dengan polosnya dan sukses membuat Suci apalagi Sepri kompak ngakak.
“Ih Binar, cantik-cantik kok ngomongnya mirip Jam-jam. Enggak lewat jalan langsung bablas saja?!” keluh Ojan.
“Itu didikan kamu. Kamu yang ngajarin dia gitu!” ucap Sepri yang seketika berangsur mengemban Binar, terlebih Suci juga sudah tak menempel lagi kepadanya. Sebab mereka memang sepakat untuk tidak mengobral kemesraan berlebihan ketika di depan umum, bahkan itu di depan keluarga mereka.
Ojan yang masih duduk di depan pintu, sementara blangkon di kepalanya baru saja jatuh, jadi baper melihat kekompakan keluarga kecil Sepri. “Pri, ... ini kok aku jadi bawer ke keluarga kecil kalian ya.”
“Baper Kak Ojan. Bukan bawer apalagi wafer!” ucap Binar sengaja membenarkan ucapan Ojan.
“Ah Binar ... tahu-tahu lidah Kak Ojan ibarat jalan terjal. Ya pokoknya itulah!” yakin Ojan yang kemudian berkata, “Angkat aku jadi anak kalian juga, Pri. Soalnya papi Heli sama mami Brokoli kan jauh, enggak selalu ada di sini tapi setia selalu di hati! Terus nanti aku juga digendong-gendong kayak Binar ya. Kelihatannya kok enak banget digendong-gendong gitu, ya?”
Meski masih mengemban Binar, Sepri berangsur jongkok. ia sengaja begitu agar wajahnya dan Ojan sejajar. “Mulai mikir buat nikah, ya. Mulai sekarang, kamu wajib belajar tanggung jawab. Kerja, nabung buat masa depan. Kamu pengin kayak aku juga, kan? Punya istri, punya anak, dan kami hidup rukun bahagia?” lembutnya yang kali ini memberi Ojan pengertian.
Ojan yang belum bersemangat, berangsur mengangguk-angguk. “Pengin banget, Pri. Ini aku harus gimana sih, yah, biar cepat dapat jodoh? Ke dukun, apa malah jadi musafir cinta yang mendatangi setiap pelosok desa, agar bisa mengamankan setiap janda?” jujur Ojan, tapi Sepri yang ada di hadapannya malah geleng-geleng.
“Kamu enggak usah mikir aneh-aneh. Sekarang kamu langsung mandi, terus wudu dan kita siap-siap salat. Habis itu bantu urus-urus di bawah. Bekas hajatan biasanya banyak kerjaan,” ucap Sepri yang mengakhirinya dengan menepuk-nepuk bahu kiri Ojan menggunakan tangan kanannya.
“Ayo Mas Ojan, semangat! Biar jodoh Mas juga makin semangat. Ini maaf, bukannya saya menjaga jarak, tapi memang karena saya sudah wudu!” ucap Suci sengaja memberikan semangatnya.
“Aku doakan, semoga mas Ojan dapat jodoh terbaik, Mas. Iya, mulai sekarang, doa agar mas Ojan juga cepat berkeluarga, bakalan jadi salah satu doa wajibku,” ucap Suci yang sudah menggandeng lengan tangan Sepri yang tidak mengemban Binar. Ucapannya sudah langsung membuat Sepri menatapnya penuh cinta.
__ADS_1
Beres salat subuh, mereka sudah kompak gotong royong membereskan sisa hajatan yang memang banyak yang kot*or dan harus segera dibersihkan. Sampai detik ini, Azzam masih menjadi sosok yang paling rajin sekaligus bersemangat. Meski sesekali, keributan akan terjadi antara pemuda itu dengan Ojan.
Rasa lelah hari ini terasa jauh lebih ringan bahkan membahagiakan hanya karena kebersamaan yang mereka jalani. Para laki-laki makin semangat beres-beres sekaligus bersih-bersih lantaran para wanita sudah sibuk masak enak dalam porsi besar.
“Kalau aku pikir-pikir ya, ... ini jangankan janda, seton saja kayaknya emang enggak doyan ke aku deh. Bayangin, kemarin aku sudah nyol*ong melati pengantin berkali-kali. Dari yang pas Nina, dan terakhir mbak Suci. Kok iya, beneran enggak ada tanda-tanda aku bakalan nikah juga!” curhat Ojan yang mendadak berhenti ngepel teras depan rumah.
“Lah, kamu kan pernah nikah, Jan. Janur kuningnya saja sampai dikasih kain merah!” seloroh Azzam yang dijatah mengepel lantai dalam lantai bawah kediaman ibu Septi.
Ojan dan jodohnya, tetap tak kunjung mendapatkan hilal, meski satu bulan dari pernikahan Sepri dan Suci sudah berlalu. Melati pengantin juga sudah kering dan Ojan benar-benar sudah lelah menyimpannya. Karenanya, Ojan memutuskan untuk membuang semua itu lewat jendela kamar.
“M-maaaah!” Dari luar, suara Suci terdengar histeris.
Kenyataan pintu kamar Ojan yang tak tertutup rapat, membuat suara di luar terdengar dengan jelas. Bergegas Ojan lari dan berniat memastikan.
“Masya Allaaaah, Mbak! Ini Mamah beneran enggak salah lihat? K-kamu ... kamu, ... ha—mil?” Ibu Septi tersedu-sedu menerima test pack yang Suci bawa. Setelah sampai memeluknya, ia segera membawa benda pipih itu pergi dari sana.
“Jangan lari-lari, ya! Takut jatuh. Langsung istirahat saja!” ucap ibu Septi wanti-wanti sembari meninggalkan Suci. Ia berdalih akan mengabarkan kehamilan sang menantu kepada dokter Andri.
“Mbak Suci hamil?” sekelas Ojan juga tak kalah heboh dan berdalih akan menyumbang nama, saat nanti jabang bayi yang kehadirannya langsung disambut penuh bahagia itu, lahir.
“Masya Allah ... Dek, semuanya sudah langsung sayang kamu. Duh, sehat-sehat ya kita. Kita tunggu mbak Binar sama yayah pulang!” batin Suci yang sudah langsung berkaca-kaca. Ia tatap sekaligus raba perutnya yang masih rata, menggunakan kedua tangannya penuh cinta.
__ADS_1