Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)

Pernikahan Suamiku (Istri Yang Dituntut Sempurna)
39 : Kekecewaan Sekaligus Kebencian


__ADS_3

Kenyataan Budi yang justru tetap dengan Nurma, selain Budi yang bagi Binar menjadi makin galak kepada Suci, benar-benar melukai hati Binar. Binar tak kuasa menghentikan air matanya. Ia yang awalnya hanya memperhatikan kebersamaan Budi dan Nurma melalui lirikan, kini terang-terangan melakukannya. Binar menatap kepergian punggung Budi dan Nurma dengan banyak luka. Bocah itu sampai menggunakan kedua tangannya untuk mer*e*m*as dada karena di sana terasa sangat sakit.


“Rasanya sakit banget. Aku enggak punya papah lagi ... aku benci mereka.” Dalam hatinya Binar terus meluapkan kekecewaan sekaligus kesedihannya. Malahan saking kecewa sekaligus bencinya kepada Nurma dan Budi, ia berharap tak akan pernah lagi melihat keduanya.


Dalam hitungan detik Binar teringat nasihat sang mamah. Ini mengenai balas dendam yang sangat ingin ia lakukan kepada Nurma dan Budi. Suci berdalih, balas dendam terbaik Binar cukup dengan Binar yang harus bahagia. Binar harus menjadi orang pintar, sukses dan menjadi dokter hebat layaknya mbak Sundari anaknya ibu Septi. Namun dengan segera, kini Binar justru berlari.


“Tunggu!” Sekuat tenaga Binar yang masih berlinang air mata berlari. Di depan sana, Budi berangsur balik badan diikuti juga dengan Nurma. Budi yang sampai detik ini masih menggandeng Nurma langsung mengumbar senyum menatap Binar dan jelas menunggu gadis kecil itu.


Budi terlalu percaya diri bahwa sang putri akan memilihnya.


Ulah Binar diketahui oleh Suci sekaligus Sepri keluarga. Suci yang paham apa yang sebenarnya sedang sang putri rasa, juga tak kuasa mencegah hatinya untuk tidak terluka, selain air matanya yang telah sepenuhnya mengumbar apa yang ia rasa. Kehancuran—sungguh tak ada itu lagi yang ia rasakan atas kehancuran sang putri. Karena untuk ke sekian kalinya, hati Binar kembali dipatahkan oleh cinta pertamanya dan itu Budi. Di depan sana, Binar mendorong Budi sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya.


“Kenapa kalian begitu jahat?!” Binar sungguh menuntut keadilan. Kemudian ia menatap Nurma penuh kebencian. “Gara-gara Bude, aku enggak punya papah lagi. Gara-gara Papah, mamahku sedih. Mulai sekarang ... mulai sekarang aku enggak mau lihat kalian lagi. Semoga kalian selalu sakit. Semoga kalian selalu nangis. Semoga Allah hukum kalian!” Binar benar-benar kesal. Sekali lagi, meski sadar tenaganya tak seberapa, ia kembali mendorong Budi dan Nurma, silih berganti.


“Pergi ... pergi kalian. Aku benci kalian!” tangis Binar yang seketika didekap Suci.


Awalnya hanya Suci yang menyusul Binar. Namun Sepri yang sadar tenaga Binar lebih kuat dari Suci yang Sepri yakini tak kalah terluka dari Binar, sengaja ikut serta. Malahan, Sepri lah yang mengemban sekaligus menenangkan Binar.

__ADS_1


“Semua orang yang di sini sayang banget ke Binar. Jadi, biarkan mereka yang hanya menyakiti Binar pergi. Lebih baik mereka pergi daripada ada, tapi hanya menyakiti!” yakin Sepri membawa Binar pergi dari sana.


Suci yang lagi-lagi hanya bisa menangis sambil menahan kecewa, memilih pergi sambil menyeka sekitar matanya yang basah. Suci menyusul kepergian Sepri yang masih mencoba menenangkan Binar. Pria itu membawa Binar keliling pekarangan hingga Suci yang mengikuti jadi tahu, bahwa di belakang rumah ada kandang mony*e*t yang bulunya berwarna pink.


“Mas Sepri ... kalau Mas masih sibuk, enggak apa-apa, Binarnya sama saya saja,” ucap Suci yang sudah merasa sangat tidak enak kepada Sepri sekeluarga. Karena bagi Suci, ia sudah sangat merepotkan Sepri sekeluarga.


“Enggak apa-apa, Mbak. Enggak apa-apa. Yang Binar butuhkan sekarang memang hanya figur papah yang tulus sayang ke Binar. Saya berani bilang begini karena saya pernah ada di posisi Binar. Karena meski dulu saya jauh lebih kecil, pengaruh figur yang tulus peduli ke aku, beneran kuat. Apalagi untuk kas*u*s Binar, Binar sudah terlalu sering dikecewakan oleh papahnya terang-terangan,” ucap Sepri dengan suara lemah beda dari biasanya.


Detik itu juga, Suci langsung tidak bisa berkomentar, selain Suci yang memang memilih diam. Suci mengikuti kemana pun Sepri pergi. Mereka sampai memetik jambu, mangga, belimbing, buah naga merah. Semuanya dalam keadaan matang, dan Binar langsung kegirangan.


“Jan, ambilin pisau, Jan!” seru Sepri lantaran ia melihat Ojan mengintip dari dalam dapur.


“Itu air putihnya buat cuci-cuci buahnya,” ucap Ojan yang kemudian berkata, “Kalau buat wajah kamu cukup digosok pakai abu gosok biar blowing, Pri. Biar lumayan kelihatan mirip manusianya!”


Sepri mendelik menatap tak habis pikir Ojan.


“Enggak usah mendelik-mendelik gitu, Pri. Lihat, kalian ngaca bareng deh. Lihat kamu sama Suci ibarat lihat buru*k rupa sama bibiuti!” lanjut Ojan.

__ADS_1


“Sudah ... sudah, kamu masuk sana. Orang lagi sedih begini, tapi kamu rusuh terus!” omel Sepri tapi kali ini, ia tak meledak-meledak lantaran di sana masih ada Suci dan Binar.


“Binar ... Binar, kamu mau ikut sama Kakak Ojan si cowok ganteng berkumis tegar, enggak? Yuk ikut, yuk. Kita temui mony*e*t Sepri yang ada di dalam kandang. Itu mon*y*et namanya juga Sepri. Efek sama-sama aku sayang, tapi jujurly Kakak Ojan lebih sayang sama yang di kandang karena yang di kandang enggak pernah ngomel ke Kakak Ojan!” Meski sudah berusaha seceria mungkin, Ojan tetap tidak bisa menarik perhatian Binar.


Binar tetap ingin ikut Sepri, dan tak lama kemudian justru minta diantar pulang.


Sebelum Sepri benar-benar sampai mengantar Binar hingga kontrakan, bocah itu sudah tidur. Namun ketika Suci hendak pergi kerja, wanita itu mendapati Binar yang sudah bangun, langsung membuka tas sekolahnya. Binar tampak mengeluarkan buku gambar, sibuk mencoret-coret. Tak hanya di lembar yang sama, tetapi di lembar yang lain juga. Binar melakukannya penuh emosi, hingga Suci tak berani menghampiri dan memilih bersembunyi.


Suci segera ke dapur ketika menyadari Binar akan keluar dari kamar.


“Mah ...?” seru Binar.


Suci sengaja berseru, “Mamah di dapur sayang!”


Tak lama kemudian, Binar sudah ada di hadapan Suci. Bocah itu berdalih ingin ikut ke klinik dan Suci langsung menyanggupi.


“Tapi Binar makan dulu, ya. Ini Mamah sudah masak.” Setelah menyiapkan Binar makan dan sang putri juga langsung makan dengan lahap, diam-diam Suci memastikan apa yang beberapa saat lalu Binar coret-coret di buku gambarnya.

__ADS_1


Ternyata Binar mencoret semua gambar yang Binar beri nama papah. Di gambar bahagia ala anak-anak yang terdiri dari gambar anak diapit mama papahnya, semuanya dan jumlahnya ada tujuh gambar, sosok papahnya dicoret-coret.


“Binar sayang, ... yang kuat, ya. Kita bisa lewati ini semua. Kita akan jauh lebih bahagia!” yakin Suci yang kemudian tersenyum optimis karena apa yang ia katakan kepada Binar dalam hatinya, juga ia lakukan untuk menguatkan dirinya sendiri.


__ADS_2