Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Aji & Shania


__ADS_3


Perempuan ini sedikit berbeda. Aji mengamati baik-baik wajah Shania. Di dunianya, jarang sekali ada perempuan yang berwajah seperti Shania. Sedikit gelap, namun manis. Perempuan yang katanya berwajah Shania ini konon berasal dari negeri jauh di ujung samudera. Begitulah nenek Aji sering bercerita. Ah, Aji ingat, negeri itu bernama India. Apa Shania ini berasal dari India?


Shania tampak kikuk saat ada seorang laki-laki memandangi wajahnya. Ini kali pertama Shania dipandangi cukup lama oleh lawan jenis. Ia menjadi risih dan berdeham.


Aji kaget dan langsung cengar-cengir. "Nyuwun sewu, Mbak,"


"I, iya," jawab Shania tersenyum kaku. Shania yang memang seperti Pretty, yang sama-sama tidak bisa berbahasa Jawa. Akan tetapi, sepertinya Shania tahu Aji tengah meminta maaf.


Aji dengan takut-takut memandangi wajah Shania. Cantik juga Shania ini, walau agak gelap. Terlebih kedua bola mata Shania yang berwarna biru muda. Untuk seorang Aji, itu seperti warna jamrud. Yah, seperti batu mulia. Menurut Aji, kecantikan Shania berasal dari bola mata Shania. Aji sangat senang memperhatikan kedua bola mata Shania.

__ADS_1


"Ehem, ehem,..." Shania mengulangi sekali lagi peringatannya. Walaupun demikian, sekonyong-konyong Shania merasakan sesuatu hal yang aneh. Perlahan tapi pasti, Shania ganti memandangi Aji. Aduh, Aji ini ganteng juga kalau dilihat-lihat, kagum Shania dalam hati, sama artis Korea juga nggak kalah. Jungkook mungkin kalah dari Aji.


"Nyuwun sewu..." ucap Aji menundukkan kepala. Di tengah kepalanya tertunduk, Aji masih menyempatkan diri untuk memandangi wajah Shania. Cantiknya Shania ini, Aji menelan saliva.


Baik Aji maupun Shania, keduanya bersitatap. Cukup lama mereka berdua saling berpandangan. Tanpa sadar Shania mengangsurkan sebelah tangannya ke arah Aji. Aji bingung untuk apa Shania melakukan hal tersebut. Spontan Aji meraih tangan Shania. Tangan Shania direngkuh oleh Aji. Wangi juga, pikir Aji, lembut seperti kain sutra.


"Ehem,..."


Shania segera melepaskan pegangan tangannya dari Aji. Ternyata ada Anin dan Pretty di belakang Shania. Anin langsung berceletuk, "Ada cinta, nih, di sini,"


"Juga, Pret? Jadi, lu ngaku suka sama Aji?" tanya Anin yang takut salah dengar.

__ADS_1


Pretty hanya memelototi Anin. Dari rona wajah Pretty, seharusnya Anin tahu jawabannya. Pretty memendam rasa kepada Aji. Sekarang teman Anin yang lain juga memiliki rasa yang sama dengan laki-laki yang muncul mendadak tempo lalu.


"Cinta segitiga ini berarti." sindir Anin terkekeh-kekeh. "Canda, Pretty, canda. Gue cuman bercanda. Tegang amat. Lu juga, Shan. Kok pada kompakan melototin gue? Hei, gue cuman bercanda!"


Sebetulnya Anin juga menyukai Aji. Saat itu Anin mendekati Aji dan Anin adalah perempuan pertama di antara tujuh gadis yang mengajak Aji mengobrol. Hanya saja Anin tidak terlalu menunjukkannya. Berbeda dengan Pretty yang akan sangat terlihat, jika tengah menyukai seseorang, tak mudah untuk seorang Anindita menunjukkan perasaan sukanya. Boleh dibilang, ada cinta segi empat (eh, atau lebih?). Sebab, yang lainnya sepertinya memiliki ketertarikan dengan seorang Aji yang terlihat bodoh nan polos.


"Lu suka sama Aji, Shania?" tanya Anin nyengir, walau Anin sebetulnya mulai merasakan perasaan aneh. Anin sepertinya tidak menyukai Aji disukai oleh Shania dan Pretty. Perasaan itu coba ditutupi oleh Anin.


"Hah? Suka? Sama Aji?" ujar Shania yang kelihatannya hendak menyangkali perasaannya. "Eeee... gimana, yah?"


"Aji, kowe milih cah wadon sing endi? Pretty opo Shania?" tanya Anin nyengir. "Utawa, kowe milih aku?"

__ADS_1


"Maunya!" seru Pretty dan Shania secara bersamaan.


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2