
Lidya heran melihat kelakuan anak sulungnya. Sebetulnya ada hubungan apa antara Pretty dan pemuda berpenampilan tak menarik tersebut? Benarkah pula dugaan Lidya sejak awal? Pretty sudah jatuh hati kepada Aji yang dipekerjakan sebagai asisten atau pembantu pribadi Pretty, itu benarkah?
Lidya menggeleng-gelengkan kepala. Wanita tua itu (walau tidak tua-tua amat) beringsut lebih dekat ke arah anak sulungnya yang tengah mengomeli Lani. Dari tadi Lidya mendengar nama Aji beberapa kali disebut-sebut, lalu tampang Pretty terlihat tegang dan sangat panik. Mencurigakan, pikir Lidya.
"Ini ada apa?" tanya Lidya menyeruak di antara keributan antara anak majikan dan satpam pribadi.
"He-hello, Mum," ucap Pretty yang tambah panik. Seharusnyakah Pretty bercerita yang sebenarnya? Pretty tidak mau ibu kandungnya tahu. Itu sangat beresiko dan malah membuat Pretty semakin frustrasi.
Tanpa disuruh Pretty, Lani juga terlihat panik juga. Biar bagaimanapun, yang tahu alasan Aji tinggal di rumah Pretty, yang tahu tentang asal-usul Aji, di rumah itu, hanyalah Lani. Lani sepertinya ikut merasakan kebingungan Pretty.
"Pak Lani, kenapa sudah ribut-ribut pagi-pagi? Masih jam enam pagi ini." ujar Lidya menatap Lani dengan sangat serius sekali
__ADS_1
"Eeee..." Lani gelagapan. "Ng-nggak ada apa, Bu,"
"Yang benar?" desak Lidya yang terus menerus mendesak untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya. "Saya dengar, nama Aji terus menerus disebut-sebut. Ada apa?"
Mati gue, gue harus ngomong apa, kesian Mbak Pretty juga, batin Lani sangat kalut, salah ngomong bisa berabe. Lani lalu memperhatikan sebentar Pretty. Tampaknya gadis berusia dua puluhan itu seperti memberikan kode agar tidak keceplosan.
"Kenapa, Pak Lani? Kenapa lama menjawabnya?" desak Lidya. "Pretty, what happens? What's wrong with you? It's not like you, Darling."
Pretty menggigit bibir bawahnya. Tambah bingung, dan malah lebih bingung daripada Lani.
Pretty segera menjawab dengan sangat cepat. "T-tadi aku suruh ke warung, beli pembalut. Tapi karena lama banget, makanya aku ngomel-ngomel, Mum."
__ADS_1
"I-iya, b-betul, Bu," Lani membenarkan. Pikir Lani, biar cepet beres urusan. "T-tadi disuruh Mbak Pretty ke warung buat beli pembalut."
"So, because of that, you got that angry?" tanya Lidya menggeleng-gelengkan kepala. Lidya gemas sekali terhadap kelakuan anak sulungnya. Walau Pretty merupakan anak sulung, Pretty sering tidak terlihat sebagai anak sulung. Kadang Pretty masih suka kekanak-kanakan. "Oh, Pretty, how pathetic you are. Shame on you."
"Sorry, Mum." ucap Pretty agak tertunduk. "Mum, please, let me solve it. Don't intrude. This time let me solve my own problem."
Lidya agak tertawa. "Okay, and please, be quite. When you've calmed down, tell me. I want to know more about Aji."
"Okay, up to you. You can enter the house first. Please, have breakfast first. I promise I won't make any more noise." ujar Pretty tersenyum ke arah ibu kandungnya.
Segera Lidya meninggalkan Pretty berdua saja dengan Lani, walau Lidya masih curiga dengan kelakuan aneh anak sulungnya tersebut. Akan tetapi, setelah Lidya berpikir sekali lagi, yah, Pretty benar. Mungkin ada baiknya Lidya membiarkan Pretty menyelesaikan masalahnya sendiri. Terkadang Lidya agak terlalu mengekang anak sulungnya tersebut.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.