
Thank's, God, sudah masuk chapter 20 (syarat pertama pengajuan kontrak terpenuhi). Semoga trafiknya terus menanjak. Uangnya lumayan untuk biaya sekolah keponakan. Pusing!
Jangan lupa like dan vote-nya!
Ada rapat lagi di antara tujuh gadis. Berlokasi di Starbucks. Lagi-lagi Pretty yang ketiban sial, karena harus mentraktir teman-temannya. Pretty ikhlas demi sebuah persahabatan. Bahkan, di tengah Pretty jatuh cinta dengan Aji yang lebih tua, kemungkinan besar Pretty rela melakukan apapun demi Aji.
"Guys, gue punya feeling nggak enak soal Aji," Shania langsung membuka pembicaran setelah pesanannya datang: macchiato.
Anin mendesah. "Gue jadi ilfeel sama lu, pas tahu lu bertindak tidak senonoh, Shania. Please, deh, kasihan Aji, Shania. Apa harus Aji, Shania, korban otak mesum lu?"
Shania meradang. Ingin rasanya Shania menyiram Anin dengan macchiato. Masih panas juga, macchiato-nya. "Brengsek, lu, Nin. Gue nggak mesum. Yang diceritakan sama Pretty, nggak benar. Bukan begitu ceritanya. Dengarin versi gue juga."
"Versi apa lagi, sih, Shania?" tanya Pretty yang tampak sebal. Sepertinya perasaan cinta Pretty kepada Aji makin lama makin besar. Pretty sering tidak cemberut saat Aji dipermainkan. "Kalau gue nggak ada di sana, lu udah mau perkosa Aji, yah."
Shania melotot ke arah Pretty. Kenapa Pretty menjadi antipati dengan dirinya sekarang? Shania sedikit curiga bahwa mungkin Pretty memiliki perasaan spesial kepada Aji. Sebelum terjadi sesuatu, Aya segera mengondusifkan suasana.
"Shania, tenang dulu," ucap Aya tersenyum.
"Untung ada Aya, kalau nggak..." Sepertinya mata Shania keluar api yang menyala-nyala. "...ya udahlah, gue cuma mau menyampaikan kegelisahan gue soal Aji. Lu pernah terpikir, nggak, mungkin aja Aji buronan polisi? Atau, bisa aja narapidana yang baru kabur dari penjara. Terus, dia lari, dan tanpa sepengetahuan kita, kita malah nabrak dia. Kepikiran gitu, sih, kalian? Sepemikiran, nggak?"
Ajaibnya, reaksi teman-temannya biasa saja. Hanya mengangguk-angguk dan meminum kembali minuman masing-masing. Sepertinya mereka lebih percaya dengan satu cerita yang menurut Shania, tidak masuk akal. Cerita itu digulirkan oleh Anin. Cerita tentang Aji yang datang dari masa lalu.
"Guys, kok gitu, sih?" Shania terlihat dongkol begitu tahu teorinya kurang direspon secara positif.
"Shania," ujar Anin setelah menyeruput green tea-nya. "waktu itu, kita nggak lihat ada peristiwa kejar-kejaran. Polisi lalu lintasnya juga cenderung bersikap biasa aja, walau sama kayak kita, kaget juga. Jadi, kesimpulan gue, teori lu lebih nggak masuk akal."
__ADS_1
"Apa gara-gara Aji nggak mau muasin nafsu birahi lu, Shania, jadi lu berpikiran Aji itu narapidana yang kabur?" ucap Pretty agak kecewa, berdecak-decak.
"Brengsek, nggak gitu juga. Lu kenapa sih, Pretty? Semenjak Aji muncul, perlahan-lahan lu jadi antipati sama gue. Kita bestie, kan, Pretty. Katanya, lu udah anggap gue kayak kakak lu. Gue kakak kesayangan lu, kan." tukas Shania yang ganti menyeruput macchiato untuk menghilangkan kekesalannya.
"Emang, sih. Tapi perlahan sedikit berubah sejak..." Pretty berusaha mencari kata-kata yang tepat. "...gue kayak lagi lihat sisi lain dari lu, yang gue nggak pernah lihat sebelumnya."
"Shania, jujur aku sedikit kecewa sama kamu. Aku percaya Pretty jujur dengan apa yang dilihatnya waktu itu. Dan, makin percaya lagi waktu kamu bilang Aji mungkin buronan polisi." Aya menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa kamu bisa beranggapan begitu ke Aji?"
"Aji nggak seburuk itu juga, Shania." timpal Tasya ikut gemas dengan ulah Shania.
"Emang bener, Shania, yang dibilang Pretty? Lu telanjang bulet di depan Aji, terus ngajakin Aji berbuat nggak senonoh." ucap Mareta yang malah membahas yang lain.
Shania mendesah, menatap nyalang ke arah Mareta, lalu membuang muka ke arah segelas macchiato. "Tauk, ah. Kalian semua kenapa kayak gini sama gue. Gue merasa dizolimi."
"Wah, Shania mulai dengan permainan playing victim-nya, nih," celetuk Anin nyengir dan sangat sengit. Walau sering dibantu Shania, Anin sering tidak suka dengan sikap Shania yang bossy.
Anin melotot. "Shania! Apa maksud lu? Mahal, nih, baju gue!"
"Bodo, bajunya juga kado dari gue!" damprat Shania sengit. Shania sekonyong-konyong berdiri dan melengos begitu saja.
Febe menggeleng-gelengkan kepala dan segera menyusuli Shania. Febe tahu ke mana Shania. Pasti ke toilet. Saat sedang kesal, Shania akan memilih toilet sebagai tempat untuk menenangkan diri. Kalau tidak memperbaiki make up, ah paling Shania bermain Tiktok. Iya, Shania senang berjoget-joget seperti orang yang tidak punya kesibukan di akun Tiktok miliknya, @KhanShaniaKhan (jangan dicoba, hanya nama fiktif).
"Eh, lu, Febe," Benar saja, Shania tengah tersedu-sedu. "Cuma lu, Be, yang paling ngertiin gue."
Febe langsung menangkap tubuh Shania yang terisak-isak. Serta merta Febe membelai-belai rambut panjang Shania yang kini dicat brunette.
"Sebetulnya, maaf yah, Shania, aku bukannya menyudutkan kamu juga, tapi teman-teman kita benar. Kenapa kamu jadi berpikiran negatif ke Aji? Aji salah apa? Dan, apa yang dilihat Pretty benar?"
__ADS_1
"Kalau yang itu, nggak gitu. Jadi cerita aslinya, Aji main masuk tanpa ketuk pintu, dan gue baru aja selesai mandi. Yah, lu tahu sendiri, gue abis dari kamar mandi, suka nggak pakai apa-apa. Gitu ceritanya, Febe."
"Iya, aku percaya, walau aku masih bingung, apa tentang pegangan tangan itu benar?" ucap Febe masih skeptis dengan penuturan Shania.
"Yah, nggak sengaja. Kalau di posisi gue, pasti awkward. Pasti lu nggak sengaja kayak gue juga." ucap Shania masih dengan berlinang air mata.
"Maksudnya? Mengajak Aji berhubungan badan?" tanya Febe dengan maksud agar jelas saja.
"Febe, nggak ada itu, percaya sama gue. Gue nggak pernah mengajak Aji berhubungan badan. Pretty mungkin salah duga. Dia kan orangnya cepat mengambil kesimpulan." Shania menarik ingus.
"Mau kembali ke Starbucks lagi?" saran Febe yang mungkin di telinga Shania terdengar sebagai perintah. Di mata Shania, Febe seperti seorang ibu kedua. "Kamu bukan anak remaja lagi. Dewasa sedikit. Yuk, balik lagi. Diomongkan baik-baik saja ke teman-teman."
Shania tersedu sedan. "Harus, yah?"
"Harus. Kamu bukan anak kecil lagi. Dewasa sedikit. Ayo, ke sana lagi." Febe menarik tangan Shania. "Dan, tentang Aji, mungkin kamu salah paham. Di mata aku, Aji tidak kelihatan sebagai narapidana atau buronan."
Sekonyong-konyong gadis-gadis yang lain bermunculan ke hadapan Shania. Aya yang membawa kue ulang tahun berukuran mini. Yang lainnya menyanyikan lagu "Happy Birthday". Saking berpikiran negatif tentang Aji, Shania sampai melupakan hari ulang tahunnya sendiri. Bagaimanakah reaksi Shania? Silahkan tebak sendiri!
" Maaf, yah, Shania," ujar Pretty mengajak Shania berjabat tangan. "Soal Aji itu buronan atau bukan, masih dalam pembahasan. Kalau setuju, kita pengen bikin Aji nyaman dulu sama kita. Dengan gitu, kita tahu harus ngapain."
"Gimana, Shan, terima nggak?" timpal Anin.
"Tapi, tiup dulu dong lilinnya. Jangan nangis lagi. Malu, ah, sama tinggi badan." ucap Mareta tersenyum.
"Nanti kita bahas lagi soal Aji. Dan, Pretty benar. Untuk sementara, jangan berpikiran negatif dulu soal Aji." timpal Tasya.
"Guys," Hanya itu yang diucapkan Shania, tersedu-sedu, lalu mulai meniup lilin. Oh, Shania berulangtahun yang keduapuluhtiga.
__ADS_1