
Lidya berdiri di pintu yang sengaja terbuka lebar. Memang Lidya sendiri yang membukakan pintu begitu mendengar suara mesin mobil yang tengah masuk ke dalam garasi. Kedua mata Lidya sudah melotot. Wah, seram sekali.
Pretty hanya cengar-cengir. "H-hey, Mum, you aren't sleep yet?"
Lidya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pretty, Pretty,... in this late hour, where were you going?"
"Hehehe..." Pretty nyengir dan memainkan ujung-ujung rambutnya.
Aji hanya tersenyum, karena laki-laki ini masih belum mengerti bahasa yang digunakan di keluarga Pretty. Kata Pretty, itu bahasa Inggris, dan belajarnya itu sulit betul. Aji stress sendiri, saat mempelajari bahasa betul. Akan tetapi, dilihat dari ekspresi ibu kandung Pretty, Aji tahu satu hal. Pasti Pretty tengah dimarahi. Bukan hanya kali ini, Pretty dimarahi oleh ibu kandungnya, yang sebelum-sebelumnya Pretty pun pernah. Anehnya Pretty pasti mencurahkan isi hati ke Aji yang... ehem, ehem.
Dengan bahasa yang Aji mengerti, Aji pamit ke Lidya untuk pergi menuju kamarnya yang berada di bangunan terpisah dari rumah Pretty yang cukup besar nan mewah (yang menurut Aji di awal kemunculannya, rumah itu seperti istana bidadari). Tenang saja, Lidya bukannya seorang bulai, yang tidak tahu sama sekali bahasa Indonesia. Walau memiliki darah Eropa, karena tinggalnya juga di Indonesia--yang sudah cukup lama, tentu saja Lidya mengerti dan mengijinkan Aji menuju kamarnya. Aji meninggalkan Pretty yang masih diomeli Lidya.
__ADS_1
Di rumah yang sekaligus kamar Aji dan ada juga kamar mandi tersebut, Aji kini berada. Aji belum benar-benar tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12:45 dini hari. Tengah malam sudah lewat. Menurut pengakuan beberapa warga, kawasan di mana Pretty tinggal cukup angker. Pohon mangga yang berada di halaman rumah Pretty, katanya juga, sering didatangi kuntilanak atau genderuwo (padahal yang sebenarnya, pohon itu hanya sering didatangi beberapa binatang terbang saja seperti kelelawar, burung merpati, atau tekukur). Ah, Aji sama sekali tidak takut. Lagipula, sebelum tiba di jaman Pretty, jangankan demit, penyamun yang mendadak masuk ke dalam rumahnya, Aji langsung hajar dengan bela dirinya. Harap maklum, Aji dulu pernah masuk ke dalam sebuah perguruan silat, yang mana ada salah satu empu di sana memiliki ilmu batin yang cukup tinggi. Si empu ini, rumornya, pernah berhasil mengalahkan beberapa makhluk gaib. Sebetulnya bukan sekadar rumor lagi, tapi memang faktanya seperti itu. Aji sendiri mendengar itu dari mulut si empu, dan diajarkan beberapa aji-aji oleh si empu (Well, Anin dan Aya betul ternyata. Aji memang memiliki kesaktian, yang sudah diasah lewat sebuah perguruan silat).
Aji mondar-mandir tak keruan di bangunan kecil itu. Kali ini hanya Aji yang tinggal sendirian. Semenjak Lani pergi, dan sejak Aji kembali lagi ke rumah Pretty (dan tidak pernah menghilang secara dadakan lagi), sudah lama sekali keluarga Lani tidak tinggal di bangunan kecil itu. Anaknya Lani dibawa oleh istri Lani yang memutuskan kembali ke kampung halamannya yang berada di Cilacap dan menekuni karir barunya sebagai seorang pemilik sebuah perkebunan kecil yang coba dibesarkan secara profesional agar bisa mengglobal. Walaupun sudah tidak lagi berada di rumah kecil tersebut, foto-foto Lani dan keluarganya masih tersimpan rapi, karena memang Lani sendiri yang cetak dan pajang.
Aji mengamat-amati foto Lani yang sudah meninggal. Tetesan demi tetesan air mata keluar dari pelupuk mata Aji. Aji merindukan Lani.
...
Aji menerimanya dengan bingung. "Adus? Nanging, kene ora ana kali."
Lani sepertinya tak salah dengar. Geli juga dia, namun ada rasa kesal juga. Anak majikannya memperkenalkan dia ke orang dari kampung mana? Apa Aji ini diambil dari daerah terpencil Indonesia?
__ADS_1
"Ora ono kali ing kene. Kowe adus ing kamar mandi. Ngerti?"
"Kamar mandi?" Aji makin kebingungan. "Iku apa?"
"Tuh--" Lani menunjuk ruangan kecil di sudut rumah. "--iku nama'e kamar mandi. Ing ngendi kita ngresiki awak. Ojo kakehan takon. Mumet iki saya."
Aji mengangguk dan melihat pria paruh baya melengos begitu saja--meninggalkan Aji yang masih kebingungan. Cara mandi di dunia ini seperti apa, pikir Aji. Ganti Aji yang kebingungan sekali.
...
Selesai Aji bernostalgia dalam pikirannya, ia memutuskan untuk tidur. Dan, ah, siapa sangka Aji pindah lagi. Entah itu pindah dimensi, entah itu pindah dunia, entah itu pindah waktu, pokoknya Aji sudah tidak lagi berada di tempat yang sama dengan Pretty.
__ADS_1
Begitu Aji membuka mata, ada sosok Slamet dan beberapa kawan barunya yang aneh-aneh menurut Aji. Slamet menyodorkan tangan sembari memberikan senyuman hangat Slamet kepada Aji. Ujar Slamet, "Selamat datang kembali, Aji. Kebetulan kita semua membutuhkan bantuan kamu."