Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Aji dan Ki Ageng Naufal Raditya


__ADS_3

Sesuai kata-kata Lani sebelumnya, dan tanpa sepengetahuan Pretty dan teman-teman segengnya, Aji dibawa Lani ke rumah salah seorang kenalan Lani. Teman Lani ini cukup paham dengan apa yang tengah terjadi. Persoalan Aji ini tampaknya cukup dimengerti. Orang pintar, kah? IQ nya tidak jenius-jenius amat. Masih kalah dari Yohanes Surya. Paranormal? Anggap saja seperti itu.


Anggap saja teman Lani ini seorang paranormal. Oh, kalian mungkin dibodoh-bodohi segala cerita tentang paranormal atau orang pintar. Di rumah teman Lani ini, rumahnya seperti rumah orang kebanyakan. Tak ada bau-bauan kemenyan, walau di halaman rumahnya, banyak tumbuhan. Teman Lani ini memiliki hobi menanam beranekaragam tumbuhan. Ada yang dipahami Lani, ada pula yang tidak. Menurut pengakuan teman Lani, tumbuhan itu didapat setelah dirinya berhasil mencapai tempat-tempat tertentu, yang orang awam tak bisa capai. Nyawa adalah taruhannya. Tempat itu pula tak tersebutkan namanya di atlas-atlas yang dijual di toko buku.


Oke, langsung saja, kenalkan, nama teman Lani ini adalah Naufal Raditya. Agar penghasilannya makin lancar, dia menambahkan 'Ki' di depan namanya. Alhasil, dia sering disebut sebagai Ki Naufal Raditya. Biar makin meyakinkan lagi setiap jasanya, namanya berubah menjadi Ki Ageng Naufal Raditya. Berkat pemilihan nama yang tepat, banyak orang yang datang ke rumah sekaligus tempat kerjanya. Keluhannya bermacam-macam. Kesulitan mendapatkan jodoh, bisnis tengah seret, dijauhi teman-teman, hingga persoalan putus cinta. Ah, itu semuanya merupakan kasus-kasus yang sering ditangani Ki Ageng Naufal Raditya (untuk mempermudah para pembaca, sebut saja Nofal). Rata-rata kasus tersebut berhasil diselesaikan dengan ciamik oleh Nofal.


Nofal mulai mendekati Aji yang tengah kebingungan. Setiap sudut dari penampilan Aji, dari ujung kaki hingga ujung rambut, menjadi bahan pengamatan Nofal. Kadang Nofal serius, kadang Nofal juga tertawa (entah apa yang ditertawakan Nofal). Sementara Aji menjadi ketakutan (bahasa sekarangnya, takut banget loh, TBL). Nofal lalu mengelus-elus wajah Aji, selanjutnya ia melihat foto Pretty yang sudah di-bluetooth ke ponselnya. Bibir Nofal komat-kamit seperti Mbah Dukun tengah membaca mantra. Aji makin tegang. Nofal kembali melihat kedua mata Aji. Eh, sekarang Nofal yang bergidik.


"Fal, lu kenapa?" tanya Lani yang segera memapah tubuh Nofal. Lani spontan ketakutan pula.


Nofal berusaha menenangkan diri dan duduk di samping Lani. Ia menarik napas dan mengembuskannya. Nofal melirik Lani yang masih bingung sekaligus takut. "Lani, ini temen lu ini, kayaknya bukan orang sembarangan. Yang gue lihat-lihat gitu, Lan."

__ADS_1


"Maksud lu, dia semacam orang sakti gitu?" tanya Lani yang lalu menatap Aji waspada.


"Bukan orang sakti juga. Aduh, gimana juga bilangnya, yang jelas Aji ini bukan orang sembarangan. Kayaknya ada kekuatan gaib dari yang di atas yang membawa Aji ke jaman ini cuma untuk ketemu perempuan yang sudah ditakdirkan untuk dia. Itu yang gue lihat, Lan." jawab Lani yang coba menjelaskan dengan berusaha mencegah agar wibawanya jangan sampai jatuh.


"Hah?" Lani terperanjat. Hampir saja Lani terjatuh dari atas sofa berwarna hitam. "Dari masa lalu? Yang bener lu?"


"Gue nggak bohong. Lagian, lu kan sohib gue. Kita udah temenan sejak lama. Bini lu juga, gue yang comblangin. Masa iya gue bohong?" ujar Nofal yang langsung memukul Lani dengan koran yang tergeletak di atas meja kaca.


"Kagak usah, deh, kali ini. Lu jagain aja si Aji ini. Kawal terus. Bikin dia bahagia. Yang gue lihat, kalau dia lagi kesel banget, alam yang kena imbasnya. Terus, coba bikin dia makin akrab aja sama cewek anak majikan lu itu. Bikin mereka jadian, kalau perlu sampe nikah."


Sementara Aji makin kebingungan dengan obrolan Lani dan Nofal. Aji juga masih TBL (takut banget loh).

__ADS_1


"Buset, kenapa gue yang jadi kerepotan gini?" Lani terlihat enggan untuk menuruti kemauan Nofal.


Nofal segera memukul Lani dengan koran lagi. "Turuti aja kenapa? Ribet lu, Lan. Masih mending gue nggak minta bayaran. Dan, satu lagi, jangan bawa anak ini ke gue lagi. Ampun dah, malah gue yang ketakutan."


"Iya, iya. Ji, ayo, Ji, kita balik." ajak Lani.


Selanjutnya Lani dan Aji meninggalkan rumah Ki Ageng Naufal Raditya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di dalam batin Lani, ada semacam ketakutan, kegelisahan, juga kebingungan. Sementara di pihak Aji, Aji masih bertanya-tanya siapakah Nofal tersebut. Tampaknya Nofal itu seperti seorang empu di jamannya. Banyak kata-kata yang diucapkan Nofal itu yang masih membuat Aji kebingungan setengah mati.



Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2