
Aji sekarang berbaju sedikit moderen. Tidak seratus persen moderen. Pakaian Aji hanya menyesuaikan apa yang berada di sekelilingnya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Aji mengenakan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek berwarna hijau tua.
"Wis adus, Aji?" tanya Lani sembari mengisap rokok kretek.
Aji mengangguk. Biar dianggap sopan, Aji duduk di dekat laki-laki paruh baya yang katanya mengaku Lani dan berprofesi sebagai satpam. Karena itulah, Aji mengira rumah mewah ini tersambung ke istana Ratu Pantai Selatan di Yogyakarta.
Lani menyodorkan sekotak rokok. "Kowe pengen?"
"Iku apa?" tanya Aji kebingungan. Banyak hal yang berada di sekitar Aji yang membuat Aji kebingungan setengah mati.
"Rokok. Iki ganti panganan. Ngatasi stress. Njupuk siji, aku biasane kebak. Nyoba siji, Ji. Monggo."
Entah serius, entah bercanda, Lani langsung meletakkan sebatang rokok di mulut Aji. Aji hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Aji sudah terbatuk-batuk, Lani tetap memaksakan Aji untuk merokok juga. Tanpa meminta ijin Aji, Lani langsung membakar sebatang rokok tersebut.
__ADS_1
"Njupuk, banjur diembus. Weh, surga tenan, Ji. Koyo diubengi dening bidadari ayu. Lali karo masalah aku." ucap Lani yang memeragakan gaya merokok yang menurutnya terbaik. Padahal Lani juga mencontohnya dari televisi.
Aji coba meniru, namun selalu terbatuk-batuk. Lani terus menyemangati.
"Ing kawitan, iku. Mengko wis biasa. Bisa, wis biasa. Surga, Ji, surga. Bidadari-bidadari ayu, Ji. Enak tenan." ujar Lani menyemangati.
Di bayangan Aji, muncul wajah Pretty dan keenam temannya. Terlebih wajah Pretty yan menurut Aji memang seperti bidadari. Aji bahkan sulit melupakan ciuman bibir tersebut. Apa bidadari itu segitu mencintai aku, pikir Aji kebingungan dan makin membuat wajah Aji memerah.
"Ji, wangsulana kanthi jujur. Kowe seneng Mbak Pretty?"
"Ya iya, lah. Cah lanang iku, nama'e Pretty. Ayune, Pretty. Aku pengen cocog Mbak Pretty karo anak aku."
Aji hanya mengangguk-angguk. Ia juga setuju dengan perkataan Lani tersebut. Pretty memang cantik. Seperti bidadari saja. Mungkin Pretty memang seorang bidadari. Sebab orang-orang di kampungnya berpendapat bahwa perempuan cantik itu selalu berasal dari kalangan atas, entah itu anak keraton maupun anak dewa. Lalu, Aji juga berpikir, jika Aji bisa membawa Pretty ke ibunya. Ibunya pasti bangga. Aji langsung naik status. Aji juga jatuh hati dengan Pretty. Ciuman dengan Pretty itu sulit dilupakan oleh Aji pula.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam sebuah kamar yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat, Pretty pun merasakan hal yang sama. Pretty bingung, entah ada angin apa, ia mencium bibir laki-laki kampungan tersebut. Laki-laki itu memang tampan. Akan tetapi, bukan karakter Pretty untuk mencium bibir laki-laki yang baru ia kenal. Satu lagi, itu ciuman pertama Pretty. Pretty memberikan ciuman pertamanya kepada laki-laki yang baru ia temui dan kenal.
"Dih, kenapa gue jadi kayak gini, sih? Emang sih Aji itu ganteng, tapi kenapa tadi gue langsung nyium bibirnya. Kalau ada saksi mata, pasti gue yang dikira mulai duluan." desah Pretty, yang sekonyong-konyong mendengarkan sebuah lagu.
Taylor Swift - 22
I don't know about you, but I'm feeling 22
Everything will be alright if you keep me next to you
You don't know about me, but I'll bet you want to
Everything will be alright if we just keep dancing like we're
__ADS_1
22, 22
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.