Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Romantisme Konyol Aji


__ADS_3

Aji tak terlalu menghitung sudah berapa lama ia di dunia ini, di era ini. Mungkin sudah lebih dari lima tahun. Ah, tidak juga, Aji coba mengoreksi perhitungannya. Yang jelas Aji nyaman di era yang sama dengan Pretty. Pretty merupakan magnet utama Aji untuk kerasan.


Deburan napas keluar dari mulut Aji. Kedua mata Aji memandang ke arah luar jendela mobil. Gelap, jelas. Sudah mendekati tengah malam. Samar-samar Aji sepertinya melihat rembulan di langit malam. Mau di jaman apapun, bulan selalu indah. Sejak kecil, Aji selalu suka melihat bulan dan hamparan bintang. Berbeda dengan eranya, di sini, Aji jarang mendapati hamparan bintang. Menurut penuturan Anin, bintang-bintang yang seperti sungai, yang seperti itu hanya bisa ditemukan di daerah pedesaan. Purbalingga, kampung halaman Anin, di waktu-waktu tertentu (yang masih menggunakan penanggalan Jawa), hamparan bintang bisa kita temukan.


"Ji," ujar Pretty yang menoleh sebentar ke arah Aji. Sebentar saja Pretty melantunkan sebuah lagu dari Ariana Grande. "...you ain't my boyfriend. And I ain't your girlfriend. But you don't want me to see nobody else. And I don't want you to see nobody. But you ain't my boyfriend..."


Aji menoleh, tersenyum.


"Seneng kamu lihat langit malam?" tanya Pretty tersenyum, yang sesekali masih menyanyikan lagu "Boyfriend" dari Ariana Grande tersebut.

__ADS_1


Aji hanya mengangguk, tersenyum.


Pelan-pelan Pretty coba meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan, yang agak sepi dan aman. Di jam sebelas seperti ini, memang harus berhati-hati. Manusia di kala malam bisa menjadi monster tidak punya hati untuk sesamanya. Pretty sering mendengar banyak kejadian tak menyenangkan apabila seorang perempuan tidak berhati-hati bepergian di atas jam sembilan malam. Memang ada Aji, namun Pretty sepertinya meragukan Aji bisa melindunginya, walau demikian Pretty sangat mencintai Aji. Sampai detik ini, kesan culun belum bisa dilepaskan dari seorang Aji. Terkadang Pretty sangsi Aji bisa melindunginya dari gangguan preman-preman yang suka beroperasi di depan minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Pretty masih belum merasa aman di dekat Aji, tapi nyaman sekali bercengkerama dengan Aji.


Aneh? Begitulah sekiranya perasaan Pretty untuk Aji. Ia masih meragukan kemampuan Aji untuk bisa melindunginya. Akan tetapi, Pretty merasa ada sesuatu dalam diri Aji yang membuat Pretty setiap hari merasa jatuh cinta. Pretty pun nyaman dengan keluguan Aji, yang terkadang bisa menjadi temperamental.


"Kenapa berhenti, Pretty?" tanya Aji mengernyitkan dahi.


"Ambil, Ji." Pretty menawarkan Aji martabak keju. Sembari mengunyah martabak, Pretty menikmati pesona bulan purnama. "Ji, bulannya indah, yah."

__ADS_1


"Iya, aku selalu suka memandangi bulan. Secantik kamu, bulan ini, Pretty." Aji mulai menggombali Pretty, dan membuat Pretty tersedak. Aji spontan memukul-mukul punggung Pretty. Di jamannya, seperti itulah cara seseorang mengatasi tersedak.


Pipi Pretty memerah, dan menatap Aji intens.


Aji balas menatap Pretty.


Aji dan Pretty saling menatap. Napas keduanya saling berlomba. Pretty spontan menyanyikan, "I can't wait for you to come my way. I've been far away, but I'll keep runnin'. Just to find a way to you 'til then."


Lalu, apakah Aji dan Pretty saling mengecup bibir? Ah, tidak, mereka malah tetap saling menatap dan dilanjutkan dengan Pretty yang meminta Aji menceritakan masa lalunya. Begitulah seseorang yang tengah jatuh cinta. Selalu ada dorongan tersendiri untuk terus mengenal obyek jatuh cintanya. Mau semenyebalkan apa obyek jatuh cintanya, mau membuat kecewa pun, percayalah, jika kita tengah jatuh cinta, dorongan untuk makin mengenal, dorongan untuk selalu ada, dorongan untuk begitu mempedulikan, dorongan untuk khawatir obyeknya akan kenapa-kenapa, itu akan selalu ada. Itulah perbedaan mendasar antara naksir dan kagum.

__ADS_1


"Dingin, Pretty," Dan, Aji masih belum terbiasa dengan udara dari mesin pendingin mobil Pretty.


Pretty tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu lalu memukul bahu Aji. Ia merasa gemas sekali dengan Aji. Terkadang Aji bisa romantis, terkadang Aji bisa konyol. Itulah yang membedakan Aji dari seluruh teman laki-laki Pretty.


__ADS_2