
"Ehem," Mareta mengagetkan Pretty dengan sebuah suara dehaman.
Pretty kaget dan terenyak. Gadis itu salah tingkah. Nyengir. Ia langsung memalingkan wajahnya dari Aji yang tertidur pulas.
"Biasa aja kali, Pretty, lihat Aji." ujar Mareta nyengir juga. "Atau, lu kayaknya beneren naksir Aji? Shania benar kali, yah. Lu sampai ciuman sama Aji, itu bener?"
Pretty agak tertunduk. Memerah. Ia menggigit bibir bawah.
Mareta tertawa kecil. "Nyante aja, kali. Jatuh cinta itu bukan suatu dosa. Dan, itu hak lu kalau mau jatuh cinta ke orang kayak Aji. Lu udah dewasa. Udah siap nanggung konsekuensinya."
Pretty tertawa juga.
"Jadi, bener?" tanya Mareta mengkroscek lagi. "Lu naksir Aji? Sampai ciuman?"
Walau agak meragu, Pretty menjawab, "Dua-duanya."
__ADS_1
"Astaga, Pretty," Mareta terperangah. "yang soal ciuman itu bener? Tumben. Kok bisa?"
"Gue sendiri juga bingung, Mar. Semua terjadi begitu aja. Cinta itu apa, sih? Kok bisa gue jatuh cinta ke orang yang belum terlalu kenal? Gue belum kenal Aji, tapi setiap lihat Aji, jantung gue berdebar-debar. Pengen deket sama Aji terus bawaannya. Apa ini cinta, yah?" ujar Pretty yang sesekali melihat Aji yang tengah tertidur.
Mareta mengendikan bahu. "Nggak tahu gue. Yah, mungkin bener kali lu jatuh cinta sama Aji. Tapi, emang apa sih kelebihannya Aji?"
"Gue nggak tahu. Pokoknya, pengen selalu ada buat Aji terus. Bahagia banget setiap lihat Aji apalagi kalau dia senyum atau ketawa." ucap Pretty menekuri Aji. "Eh, gue ke bawah dulu, yah. Mau cari makan dulu. Inget, jangan macem-macem."
Mareta tertawa terbahak-bahak. "Yah, nggak, lah. Gue bukan Shania, kali."
"Yah, siapa tahu, soalnya gue dulu gitu. Awal gue ciuman sama Aji gara-gara gitu. Berduaan aja. Eh, bablas." Pretty membocorkan rahasianya kepada Mareta dengan malu. Sebetulnya Pretty ragu untuk menceritakan pengalaman berciuman bibir tersebut, namun kata hatinya memilih untuk bercerita. Kepada sahabat sendiri, tak usah ditutup-tutupi. Daripada nanti terbuka dengan paksaan, lebih baik mengaku.
"Nggak tahu." Pretty tertawa. "Ya udah, gue pergi dulu bentar."
Tinggal Mareta yang berdua saja dengan Aji. Mareta tertawa sendiri. Ia heran saja mengapa keempat temannya bisa kompak naksir laki-laki yang sama. Aji juga orang asing yang aneh. Kemunculannya yang serba ajaib dan misterius. Gayanya yang nyentrik dan tak biasa untuk kehidupan di tahun 2015. Apa bagusnya Aji?
__ADS_1
Mareta masih memandangi Aji. Perlahan tanpa sadar Mareta melangkah lebih dekat. Kini Mareta sudah duduk di dekat tepian tempat tidur yang mana dekat dengan kepala Aji. Mareta terus saja menatap wajah Aji. Gadis itu itu bingung saja apa istimewa wajah Aji. Dikatakan tampan, tidak terlalu juga. Aji ini seperti kebanyakan pemuda yang tinggal di pelosok Jawa.
Sekonyong-konyong Mareta teringat dengan pengalamannya saat live-in dulu. Saat itu, Mareta adalah pelajar SMA yang baru saja naik kelas dua belas. Sudah menjadi agenda rutin sekolahnya, murid-murid yang naik kelas ke kelas dua belas, wajib mengikuti live-in. Tahun ini rencana live-in-nya adalah ke Magelang. Di Magelang itu.....
..... Mareta tersentak. Ia ingat Aji ini sepertinya mirip dengan laki-laki yang merupakan anak dari seorang pemilik berhektar-hektar di sawah. Laki-laki itu tidak tampan. Hanya saja Mareta mengagumi kepribadian laki-laki tersebut, yang menurut Mareta, gigih. Karena laki-laki itulah, Mareta menjadi sangat betah selama di Magelang. Untuk kali pertama, Mareta merasa nyaman untuk menyampaikan kegelisahan pikirannya ke laki-laki tersebut. Saking nyamannya, Mareta terus merindu kepada laki-laki tersebut. Begitu tiba di Jakarta, Mareta sibuk mencari tahu tentang laki-laki tersebut, yang akhirnya Mareta ingat namanya setelah sekian terlupakan. Nama laki-laki itu Aji Wahyudi.
Astaga, nama depannya mirip dengan nama Aji yang muncul mendadak. Seketika Mareta mulai merasakan gejolak aneh dalam dada. Tanpa bisa dicegah, Mareta mengelus-elus pipi Aji. Aji ini mirip dengan Aji Wahyudi. Reinkarnasikah? Kenapa bisa ada dua orang yang berwajah mirip?
Klek. Pintu apartemen terbuka. Ada suara langkah kaki, dan,...
"Mareta," seru Shania yang tampaknya terlihat agak tidak suka dengan apa yang dilihatnya. "lu ngapain?"
Mareta tergesa-gesa melepaskan tangannya dari pipi Aji dan bangkit berdiri. "Eh, Shania, ngapain ke sini?"
"Harusnya gue yang bilang. Lu sendiri ngapain? Pegang-pegang Aji segitunya. Ngatain gue berbuat nggak senonoh, sendirinya juga." keluh Shania.
__ADS_1
"B, bukan gitu." Mareta gugup.
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.