
Kini dari sesuatu yang Aji sangka kereta kuda itu, keluarlah gadis-gadis yang lain. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,.. total ada tujuh gadis. Semuanya jelita sekali. Matanya nyaris sulit mengerjap. Lagi-lagi mereka berbahasa yang tak bisa ia pahami. Mengertilah ia sudah. Pasti ini kahyangan. Dan ketujuh gadis ini bidadari. Mendadak di benaknya terputarkan sebuah legenda yang ia kenal baik. Ibundanya sering mendongengkannya. Ia sangat menggemari cerita tersebut, sehingga terus bermimpi dirinyalah sang Jaka Tarub.
"Pretty,"
"Aji, "
Di tengah keterkejutan Aji, sekonyong-konyong Aji teringat peristiwa yang membuat ia mengenal Pretty dan keenam temannya. Di hadapan Aji sekarang, Pretty mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh Pretty saat itu. Pakaian itu adalah jaket blu jins dan high heel menyerupai bot hitam.
"Cowok ini ganteng juga," ujar Pretty, yang mengenakan jaket blu jins dan high heel menyerupai bot hitam. Gadis yang mengenakan bando merah jambu itu tersenyum genit.
"Iya, cakep. Tapi medok. Mana gue ngerti bahasa Jawa. Satu pun enggak ada kata dalam bahasa Indonesia yang keluar dari cowok ini." ujar Mareta. Yang ini seorang gadis yang mengenakan kaus bertuliskan 'I Love New York'. "Bau pula lagi. Ini bau mataharinya menyengat banget. Ih!"
"Mana enggak ada satu pun dari kita yang bisa bahasa Jawa." timpal Tasya, yang mengenakan hot pants gelap; sementara atasannya ia mengenakan tank-top hijau dan kardigan biru tua.
"Aku mah bisanya bahasa Sunda atuh," kata Aya, yang tampak terlihat seperti gadis rumahan. Terlihat dari pakaiannya yang lebih sopan karena atasannya itu kaus oblong berwarna hijau muda, bawahannya itu celana denim yang tak sekumal yang lain. Sementara alas kakinya itu hanyalah sandal perempuan yang tak terlihat mewah, namun cukup bisa bersanding dengan alas kaki teman-temannya yang lain. Aya juga tak mengenakan anting, kalung, atau gelang yang norak sekali.
"Iya, iya, kami tahu kok, Aya," sindir seorang yang lain, yang lebih tomboy, yang bernama Febe. "Kamu kan dari Garut. Tiap Lebaran, pasti bawa oleh-oleh dodol."
__ADS_1
Aya hanya tersenyum, nyaris terkekeh mengikuti yang lainnya. Sepertinya baginya, kata-kata temannya itu bukanlah sebuah ejekan.
"Orangtua gue memang dari Jogja. Tapi mana mengerti gue bahasa Jawa. Waktu mereka ngoceh pake bahasa Jawa pun, gue cuma bisa manggut-manggut doang." ucap Anin menyusul. Kali ini seorang gadis dengan blazer warna ungu menyala.
"Hadeuh, ini cowok ngomong apa sih? Ganteng emang, tapi bau, dekil pula. Udah gitu medok. Enggak bisa apa dia berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Jangan-jangan dia baru datang dari desa terpencil di Jawa sana?" sahut Shania, sang sopir yang bergaun terusan yang berwarna abu-abu dan mengenakan headset yang dikira Aji sebagai selendang.
Kepala tujuh orang gadis itu pusing sekali. Satu persatu dari mereka terus memandangi wajah Aji yang masih memasang raut muka bingung. Berkali-kali Aji menundukkan kepala seraya berkata, "Ngapura kula, panjenengan ayu kabeh. Kula ini ora bikin salah apa-apa. Ing Gusti Wisnu, kula mung goleki kewan. Maneh kula ngandika, ngapura kula."
"BERISIK LO!!!" raung Pretty. "Lo itu bisa ngomong pake bahasa Indonesia enggak sih? Di mobil ini, enggak ada satupun yang bisa bahasa Jawa. Ngerti lo?"
"Alah, ngeles aja lu. Setahu gue, enggak ada satupun yang nunjukin reaksi-reaksi penolakan. Kalian semua kan sepaham sama gue. Iya kan? Ngaku aja deh--semuanya." tukas Pretty.
"Ya sudah, enggak usah ribut-ribut. Sudah kejadian juga kan. Sekarang, ini gimana? Cowok ini gimana nasibnya? Enggak mungkin kan, cowok ini menginap di salah satu rumah kita." Aya berusaha mendinginkan suasana. "Soalnya Emak aku itu orangnya nyinyir banget. Aku takut dia malah mencurigai aku yang bukan-bukan. Harus kubilang apa ke dia kalau kubawa ke rumah?"
"Enggak hanya lu doang, Ay. Gue sama yang lain juga sama. Alasan kita bawa ke rumah masing-masing itu apa? Yang ada, si cowok ini malah disangka pacar gue lagi. Idih, amit-amit jabang bayi, ogah gue punya cowok kayak gini." kata Tasya seraya mengernyitkan dahi. Tampak dia benar-benar tak tahan dengan bau badan Aji. Maklum saja, Aji kan memang tengah berburu sebelum terbawa ke tahun 2015.
"Lagian lu sih, Pret. Ngapain pula pake dibawa masuk cowok ini? Paling juga baru dateng dari kampung. Masa sih lu belum pernah lihat cowok kampung sebelumnya?" kata Mareta yang berkaus tulisan 'I Love New York' tersebut.
__ADS_1
"Ya, ya, ya,... ya gimana lagi? Gue penasaran soalnya sama cowok ini. Entah kenapa gue ngerasa cowok ini bukan cowok biasa. Lugu banget." dalih Pretty.
"Jadi lu suka sama cowok ini?" tanya Shania nyengir.
Teman-temannya kompak men-cie-cie-kan Pretty yang mulai bersemu merah. "Yeee!!! Sembarangan aja lu, siapa juga yang suka? Ih!"
Sementara Aji dan Pretty saling bertatapan, dan ingatan Aji terus terputar serentetan kejadian di masa lalu, keluarga Pretty memperhatikan momen pandang-pandangan tersebut. Lidya kaget bukan kepalang, menyaksikan ada seorang laki-laki di dalam kamar anak perempuan sulungnya (walau sebetulnya ia senang, karena Pretty tak pernah terlihat menaksir lawan jenis).
Hendry agak marah. "Pretty, what is it? Explain this right now!"
Pretty gelagapan. "Eh, eeee,... hello, Dad, Mom, Dave, Dion, h-he's Aji. Long and complicated story."
"Ehem,....." ucap Dave nyengir, yang mengungkit kejadian saat Pretty memergoki ia tengah menggunakan vape di dalam kamar. Pretty sok menceramahi dan ucapan Pretty saat itu sangat menusuk hati Dave. "Like sister, like brother. We're already same."
Pretty melirik sebentar ke arah Dave, sebal. Umpat Pretty dalam hati, awas yah, Dave.
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1