
Di tengah keterpurukan Aji, kedua telinga Aji menangkap bebunyian di langit. Spontan saja mata Aji mengarah ke arah langit yang sudah berwarna kemerahan seperti warna darah. Ternyata ada sebilah pedang yang berputar-putar di atas langit. Secara insting, Aji merasa pedang itu sedang mencari dirinya. Dengan tertatih-tatih, Aji coba bangkit.
"Hueeeksss..." Aji muntah lagi. Mulutnya mengeluarkan cairan seperti bubur. Masih ada darah pula. Wah, jelas Aji tengah dalam kondisi yang tidak fit. Stamina Aji dipertanyakan. Sudah tidak sehat bugar, Aji kesepian di dunia baru ini. Tak ada siapapun yang Aji kenal; juga, mereka sepertinya memusuhi Aji.
Aji terus berusaha berdiri dengan kokoh. Jalannya terhuyung-huyung menuju pedang yang sering Aji lihat, ditenteng oleh orang-orang kerajaan. Salah satu tangan Aji coba menggapai pedang tersebut. Baru Aji sadari pedang itu bukan pedang sembarangan. Pegangan pedang itu sepertinya dibuat dari logam mulia. Akan tetapi, tak ada keinginan untuk menjual pedang itu. Mau dijual ke siapa. Di dunia ini, di alam semesta ini, Aji dimusuhi. Aji menjadi musuh publik nomor satu. Tak ada yang menyukai Aji. Sekarang ini Aji hanya ingin menggapai pedang tersebut. Hanya itu saja, dan tidak lebih. Kelihatannya pedang itu juga yang meminta Aji untuk meraihnya.
__ADS_1
Benar saja. Begitu tangan Aji coba meraih, pedang itu berhenti berputar. Melesatlah pedang itu ke arah tangan Aji. Wow, pedang itu cukup berat pula. Aji makin sempoyongan berdiri. Terjatuh Aji hingga tersungkur ke rerumputan. Sekonyong-konyong Aji memeluk pedang tersebut. Aji mencium pedang tersebut pula. Jangan tanya kenapa, sebab Aji tak tahu. Seperti sebuah aksi reflektif saja. Tanpa perencanaan. Tidak janjian antara Aji dan pedang tersebut.
"Pedang ini berat juga," desis Aji dengan darah mendadak keluar dari bibirnya. "Wah, ada emas di pegangannya. Pasti mahal ini."
Spontan dari arah langit Aji mendengar ada suara yang memanggilnya. Kata suara tanpa fisik tersebut, "Pedang itu pernah digunakan oleh Raja Arthur. Konon seorang bunda nan kudus yang memberikan kepada Raja Arthur sendiri dalam sebuah fenomena aneh nan ajaib. Ada yang bilang, pedang itu disebut sebagai Excalibur. Pakailah, dan perangilah orang-orang yang mengeroyok kamu tersebut."
"Jangan manja, Aji. Kamu pasti bisa. Kelak segala sesuatunya harus kamu usahakan sendiri. Biasakanlah untuk tidak bergantung kepada orang lain."
__ADS_1
Aji hanya mengangguk. Lalu Aji menarik napas dan mengucapkan doa. Dengan tertatih-tatih Ajj coba berdiri sembari menenteng pedang. Beratnya, keluh Aji dalam hati. Aji masih teringat kata-kata suara tersebut. Aji harus bisa. Aji pasti bisa. Ini bukan saatnya untuk bermanja-manja. Mungkin pedang ini merupakan jawaban atas pergumulan Aji di dunia ini. Tak ada lagi Aji memikirkan sosok Pretty dan keenam temannya yang menurut Aji secantik bidadari dari kahyangan. Yang di pikiran Aji, Aji ingin pulang ke dunianya dan hidup normal seperti sedia kala (dan tetap Aji masih terpikirkan untuk memiliki sebuah keluarga). Hanya itu saja. Sederhana saja impian dan harapan Aji kali ini. Memikirkannya saja, Aji sudah menangis. Apalah dosaku, rintih Aji sambil bercucuran air mata, ya Gusti, cobaan ini terlalu berat, ambil saja nyawaku, hambamu ini sudah tidak kuat lagi. Hamba sendirian. Tak ada yang menemani.
"ITU DIA!" teriak salah seorang yang Aji ingat pernah membuat Aji babak belur hingga mata Aji bengkak. "TANGKAP DAN BIKIN MAMPUS SEKALIAN!"
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1
Jangan lupa baca juga novel SURAT BALON UNTUK IBU yang tayang juga di NovelToon. Yang menulis juga aktif menjalankan sebuah toko buku online, loh. Kenalkan, namanya Sukma EQ. Cari buku dengan harga tak terlalu mahal, bisa ke akun Instagram @sukmaeq_cafebook yah.