
"Bang, satu loyang martabak keju, yah," ucap Pretty tersenyum. Pretty memang perempuan murah senyum. Senyuman seorang Pretty Morning Glory Sumaili berharga sangat murah. Sebelum kita mengumbar senyum terlebih dahulu, Pretty pasti akan tersenyum lebih dulu.
Spontan Aji ikut tersenyum. Teduh sekali. Itulah yang dirasakan oleh Aji setiap mendapati Pretty tengah tersenyum. Bagi Aji, sembari tersenyum, wajah Pretty bak sebelas-dua belas dengan Dewi Nawangwulan, salah seorang dari tujuh bidadari yang ditemui Jaka Tarub di sebuah hutan. Di kampungnya, tentang Jaka Tarub, ada yang bilang itu sebuah dongeng belaka. Mana ada makhluk yang bernama bidadari apalagi hingga turun ke Bumi. Akan tetapi, ada juga yang meyakini bahwa cerita Jaka Tarub itu nyata. Beberapa orang yang meyakini kebenaran cerita Jaka Tarub itu biasanya datang dari mereka yang sering berlatih di perguruan silat. Kebanyakan empu juga malah mempercayai cerita Jaka Tarub, walau ada juga empu yang berkata itu hanya cerita rekayasa yang diciptakan oleh para penghuni istana (seperti sebuah konspirasi saja).
"Mbak ini," ujar si penjual martabak yang cekatan mengaduk adonan martabak, padahal ia masih harus menyelesaikan pesanan satu martabak telur spesial dari seorang bapak-bapak berkumis. "kok cuma pakai piyama aja? Hehe..."
"Ntar juga, abis pulang, langsung tidur. Biar gampang aja, nggak perlu ganti baju lagi." ujar Pretty tanpa pikir panjang lagi, tersenyum. Begitulah Pretty, yang tahu betul bagaimana berperilaku yang seharusnya tanpa harus berubah menjadi orang lain. "Lagian abang nggak terganggu, kan? Masa saya cuma pakai piyama aja, abang langsung mikir jorok?"
__ADS_1
Si penjual martabak dengan bentuk telinga agak aneh (agak mirip kuping caplang) tertawa. "Yah, bukan gitu, Mbak. Saya cuma ngerasa agak aneh aja. Baru pertama kali ini aja, ada yang beli martabak saya, cuma pake piyama."
"Berarti saya dapet potongan harga, dong, Bang?!" kata Pretty mengerlingkan mata.
Bukannya si penjual martabak yang menjawab, malah si bapak yang ambil alih. "Bukan begitu juga, haha... kasihan si abangnya nanti, merugi."
"Bapak bisa saja." timpal si penjual martabak. "Oh iya, itu pacarnya, yang cowok?"
__ADS_1
Aji yang cukup jeli mengamati, jantung Aji langsung berdegup kencang saat menyaksikan raut muka Pretty. Aji menelan air liur. Seperti rona wajah Pretty, Aji pun sama, bersemu merah muda seperti warna buah jambu. Dalam hati, aku juga sangat menyukai kamu, Pretty.
Tanpa Pretty dan Aji sadari, perubahan ekspresi mereka berdua itu sangat diperhatikan oleh si penjual martabak, yang menyanyikan lagu "Stasiun Balapan", yang pernah dipopulerkan oleh Almarhum Didi Kempot. "...ning stasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan, kowe karo aku naliko, ngeterke lungamu..."
"Abang orang Solo?" tanya si bapak.
"Bukan, Pak, saya asli Karawang. Lahir di sana, terus waktu usia dia puluh satu tahun, pindah ke Tangerang." jawab si penjual martabak.
__ADS_1
"Fasih Jawa-nya. Saya yang asal Solo saja, kalah fasihnya."
"Masa sih, Pak?"