
Aji kembali mendatangi Pretty dan teman-temannya. Lagi-lagi secara ajaib. Kali ini Aji tiba-tiba saja sudah duduk di bangku penumpang mobil Pretty. Pretty terkaget-kaget seraya memegangi dadanya. Air mata Pretty hampir saja keluar dari pelupuk matanya. Pretty tersenyum tipis. Tergesa-gesa Pretty menoleh ke arah belakang.
"Aji, ke mana saja?" tanya Pretty yang spontan memegangi tangan Aji yang agak kotor. Sebelum tiba di mobil Pretty secara gaib, Aji disuruh ajudan istana untuk mengeruk sungai.
Langsung saja Pretty memelankan kecepatan mobilnya. Pretty segera mencari sudut yang mana mobilnya bisa terparkir sementara.
Aji nyengir. "Kamu kangen aku?"
Wajah Pretty memerah, tertunduk.
"Eh, maaf, tangan aku kotor," ujar Aji segera melepaskan pegangan tangan Pretty.
Pretty terburu-buru mengambil handuk kecil berwarna hijau dari dalam tas tangannya. Ia menyodorkan handuk itu kepada Aji. Ujarnya, "Ini, bersihin tangan kamu pake ini,"
"Matur suwun, Pretty," ucap Aji tersenyum. "Tadi habis bertemu teman-temannya?"
__ADS_1
Walaupun terlihat lugu dan agak bodoh, Aji sebetulnya orang yang pintar. Belum ada sebulan, Aji sudah lumayan fasih berbicara bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan Pretty dan teman-temannya. Tidak hanya yang formal, bahkan Aji sudah menguasai sederet kata-kata informal.
"Iya, baru saja selesai. Tadi, sekitar satu-dua jam yang lalu, aku dan yang lainnya ketemuan di Starbucks. Sekarang aku mau balik ke rumah aku." jawab Pretty yang membantu Aji untuk membersihkan tangan.
Aji tersenyum dan nyaris tertawa. Ada yang berbeda dari Pretty. Selain terjadi perubahan gaya bicara, cara Pretty memandang Aji agak berbeda dari yang sebelumnya. Benarkah dugaan Aji? Maklum saja Aji meragu. Aji sebetulnya teramat jarang mengobrol dengan lawan jenisnya. Di jamannya, cara menjalin kasih dengan lawan jenis cukup berbeda dengan apa yang terjadi di jaman ini, yang kaum perempuannya sepertinya cukup agresif dalam menyatakan perasaan. Aji ragu-ragu apakah Pretty betul-betul menyukainya.
"Kenapa sih nyengir-nyengir? Serem, tauk." kata Pretty memicingkan mata. "Udah suka ngilang mendadak, aku malah diseringai begitu."
"Seringai?" tanya Aji kembali dengan ekspresi lugunya.
"Seringai itu artinya gerenyot muka atau mulut untuk mengejek atau menunjukkan rasa tidak suka dan sebagainya." Pretty melafalkan ulang apa yang tertulis di situs Kamus Besar Bahasa Indonesia.
"Gerenyot? Itu apa?" kembali Aji bertanya.
"Udah, ah. Jangan banyak nanya gitu. Harusnya aku yang banyak nanya ke kamu, Aji. Aku juga cuma baca ulang dari situs KBBI." sembur Pretty. "Lagian, seringai itu kayak kamu itu. Natap aku kayak natap apa aja. Bikin aku takut banget gitu."
__ADS_1
Aji tertawa. "Kamu makin cantik, kalau lagi tertawa. Seperti seorang bidadari."
Pretty menundukkan kepala dan kedua pipinya bersemu merah. Bibir bawah ia gigit. Tak sengaja ia menelan air liur. Di pikiran Pretty, apa dia lagi nembak gue, jantung gue berdebar-debar gini, gini yah rasanya ditaksir balik sama gebetan.
Hai, Semua. Maaf, aku baru update lagi. Lagi ada banyak urusan selain urusan menulis novel terutama memperbaharui "PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN".
Aku baru ingat untuk memperbaharui novel ini setelah ada pemberitahuan dari NovelToon, dan baru ingat novel ini tengah mengejar kontrak permanen. Terima kasih, NovelToon, sudah diingatkan.
Seharusnya aku menulis novel ini lagi di hari senin yang lalu. Apa daya, kemarin senin aku punya banyak urusan. Alhasil, novel ini terbengkalai. Sebab, sudah berencana untuk rutin update di hari senin. Maafkan aku.
Okay, stay tuned, and, gambar di inset itu kurang lebih sedikit penampakan wajah Pretty. Ilustrasi wajah Pretty, yah begitu. Secantik itulah Pretty.
Tetap dukung novel ini agar cepat dapat kontrak permanen dan segera cuan. Mohon kerjasamanya.
__ADS_1