
Aji mendarat di jamannya lagi. Bokongnya mengenai punggung seekor babi hutan. Babi hutan itu meronta-ronta. Aji dibawa ke sana dan ke mari hingga babi itu melemparkan Aji ke sebuah sungai. Aji patut bersyukur, sungai itu tidak dalam. Akan tetapi, bokong Aji terasa sakit. Bokongnya bergesekan dengan salah satu batu yang ada di sungai tersebut.
"Aduh, Gusti," Aji mengaduh dan mengelus-elus bokongnya. Di saat itu, Aji baru sadar akan pakaian yang ia kenakan. Ada satu hal yang luput dari pengamatannya. Apa yang terjadi pda dirinya? Ini namanya apa? Inikah yang namanya sihir? Aji berusaha mengingat-ngingat kejadian sebelumnya. Ini tak hanya sekali. Sebelumnya pun begitu. Di dunia Pretty, dkk, Aji mengenakan pakaian yang menurut Anin, pakaian masa kini. Begitu tiba di dunianya, pakaian Aji menjelma menjadi pakaian yang sering dikenakan di dunianya.
"Gusti, ini namanya apa? Hamba sungguh tak mengerti. Sepengetahuan hamba, hamba tak pernah berbuat salah ke siapapun." seru Aji dengan kepala menengadah ke langit yang cukup cerah, namun tidak terik.
Drap, drap, drap,.....
Rombongan pasukan berkuda melintas tak jauh dari sungai tersebut. Aji sepertinya paham apa yang terjadi. Menurut Krisna, akhir-akhir ini sering terjadi peperangan. Pihak istana sering mencari pemuda-pemuda untuk dilatih menjadi prajurit. Aji pernah hendak direkrut. Sayangnya, itu urung terjadi mengingat ibunya Aji yang sering sakit-sakitan.
Rombongan itu pelan-pelan beringsut ke arah Aji. Salah satu serdadu mendekati Aji setelah mendapatkan perintah. Aji langsung berdiri dan memberikan hormat.
"Istana membutuhkan pemuda-pemuda gagah berani," ujar serdadu tersebut.
__ADS_1
Aji hanya mengangguk di tengah kepalanya. "Nggih,"
"Kamu ikut." kata serdadu itu yang terdengar seperti sebuah perintah.
Aji hanya menggigit bibir bawah tanpa bisa melawan. Konon, jika melawan, hukumannya adalah penjara bawah tanah.
***
Pretty menggeleng-gelengkan kepala saking gemasnya. "Tadi ada di mobil. Sekarang udah ilang lagi."
"Bener-bener, dah, Aji ini. Siapa sih lo?" keluh Shania dengan mata melotot. "Dateng nggak diundang, pulang nggak dianter."
"Dikira jelangkung kali, si Aji," celetuk Mareta. Begitulah Mareta yang suka bercanda di saat yang tidak tepat.
__ADS_1
Mata Shania nyalang ke arah Mareta. "Mar, please, kita semua lagi bingung. Kalut juga. Jangan bikin runyam suasana dengan candaan lu yang super nggak lucu. That's not funny, Mareta Beatricia Adinatha."
Mareta hanya cekikikan sembari menyodorkan simbol V di jemarinya. "Just kidding, Shania. Gitu aja marah. Nanti lu cepet keriput, loh. Nggak ada cowok yang mau."
Mata Shania malah makin nyalang. "Gue jitak juga lu, Mar."
"Sabar, Shania," ucap Aya berusaha mengondusifkan suasana dengan senyumannya yang sangat meneduhkan hati. Di antara tujuh gadis, hanya Aya yang memiliki senyuman yang menurut Pretty sangat istimewa. Masih menurut Pretty, setiap tengah ada masalah, satu senyuman Aya bisa membuat Pretty melupakan masalah tersebut. Semacam mood maker.
"Ya sudah, teman-teman, dibawa santai saja. Coba berpikiran positif." saran Febe. "Lebih baik kita pulang. Sudah jam delapan juga. Aku yakin Aji pasti kembali lagi. Waktu itu, muncul di rumah Pretty. Mungkin nanti di rumah aku atau apartemen Shania."
Baru kali ini gadis-gadis malah khawatir saat mendengar kata-kata Febe, yang biasanya bijak seperti seorang filsuf. Mungkin di pikiran mereka berkelabat skenario-skenario jahat tentang Aji. Aji ini siapa? Kenapa Aji suka datang dan hilang mendadak? Benarkah Aji memiliki aji-aji?
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1