Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Aji Pacar Pretty


__ADS_3

Setelah beberapa hari ini belajar intensif bahasa dunia baru ini, Aji fasih juga. Meskipun agak terbata-bata, Aji mulai paham dengan apa yang diucapkan oleh Pretty dan keenam teman-temannya. Bahkan Aji mulai berani mengucapkan kata-kata tak senonoh. Yang ini salahkan Salman dan Pak Lani.


Pada suatu hari, Aji tengah berdua saja dengan Pretty. Eits, jangan salah paham dulu. Tidak terjadi sesuatu yang mengandung 21+ antara Pretty dan Aji. Awalnya Pretty datang di saat Aji masih bersama Salman. Lalu, Salman pergi begitu saja dengan alasan tugas kuliah (padahal Salman sengaja menjauh karena menghargai perasaan dan keputusan Pretty). Akhirnya Pretty dan Aji berdua saja di apartemen sembari menonton drama Korea.


Sekonyong-konyong layar televisi menampilkan adegan laki-laki dan perempuan tengah duduk berdua dan berciuman. Suasana mulai panas. Baik Aji dan Pretty, keduanya kikuk. Pretty makin salah tingkah. Beberapa kali Pretty mencuri pandang ke arah Aji. Perasaan ini lagi. Apa ini namanya? Pretty beberapa kali meneguk air liur. Entah kenapa, di mata Pretty, Aji seperti laki-laki paling tampan di tengah penampilan Aji yang sebetulnya masih kalah dibandingkan aktor-aktor Hollywood dan Bollywood. Akan tetapi, di mata Pretty, Aji is the everything. Lalu, hasrat itu datang lagi. Mungkin karena itulah, muncul pepatah tersebut (jika laki-laki dan perempuan tengah berduaan, yang ketiganya setan). Iya, Pretty ingin terus dan terus mencium bibir Aji. Bahkan, gilanya lagi, mumpung lagi sepi, Pretty ingin membuka baju Aji dan bergelayutan di dada Aji. Auuuuuu..... pikiran nakal Pretty mulai bermain di sini.


Aji sepertinya merasakan perasaan hal yang sama. Laki-laki itu ikut melihat ke arah Pretty. Kedua mata Aji nyaris tak berkedip. Perlahan-lahan, dan sulit dicegah, wajah Aji mendekat ke arah wajah Pretty. Akankah ciuman kedua tercipta di dalam apartemen ini?


"Pretty,..." desis Aji dengan air liur yang mulai berantakan di dalam mulut. Aji mengucapkan nana itu dengan lafal 'Preti'.


"Iya,..." desah Pretty. Napas Pretty mulai tidak beraturan.


Ya ampun, padahal yang mereka tonton itu bukanlah Japanese Adult Video. Hanya sebuah drama Korea dengan cerita agak picisan. Dasar muda-mudi yang lagi dimabuk asmara!


Aji menunjuk layar televisi itu lagi. "Itu, yang namanya pacaran?"


Pretty agak kecewa karena hasratnya tak terlampiaskan. Dengan berat, Pretty mengiyakan. "Iya, kayaknya mereka pacaran, yang di drama Korea itu."


"Pacaran itu apa seperti kita?" tanya Aji polos. Entah kenapa tangan Aji sudah menyentuh tangan Pretty dan perlahan jarak Aji dan Pretty makin dekat.


"Maksudnya?" tanya Pretty dengan kedua pipinya memerah. Kepala Pretty jadi tertunduk malu.


"Iya, seperti di sana,--" Aji menunjuk layar televisi. Di layar televisi, sudah menunjukkan bapak-bapak tengah minum ginseng. "Eh? Sudah berubah?"

__ADS_1


Aji langsung bangkit berdiri. Tampangnya sepertinya marah. Pretty turut berdiri juga, dan langsung menenangkan Aji. Pretty sepertinya tahu apa yang hendak ditanya Aji.


Pretty memegangi tangan Aji yang mau kalap memukul televisi. "Aji, kita lagi menonton televisi. Adegannya sudah berubah. Dan, adegan yang tadi itu, yah mungkin kayak begitu orang pacaran."


"Pretty pernah pacaran?" tanya Aji yang balas memegangi tangan Pretty.


Pretty makin salah tingkah. "Eee... yah, pernah nggak pernah, sih."


"Pegangan tangan juga?"


Pretty mengangguk.


"Pelukan juga?"


"Apa sampai berciuman?" Tampak Aji agak kikuk membicarakannya. "Bibir dan bibir, menempel, itu maksud aku."


Pretty mau tertawa mendengar kata-kata yang digunakan Aji. Juga, Pretty makin kikuk. Napas Pretty makin membara. Di kepalanya, berkecamuk beberapa adegan-adegan ala Fifty Shades of Grey. Haruskah Pretty menjawab pertanyaan Aji tersebut? Pretty takut dengan sesuatu yang akan terjadi. Kedua mata Pretty berkeliaran. Ternyata masih ada Pretty dan Aji saja. Teman-temannya belum datang.


"Pretty,"


"Eee... i, iya, Aji,..."


"Pretty sehat?"

__ADS_1


"Sehat, kok, sehat," Di pikirannya, Pretty bergumam, tapi isi kepala gue nggak sehat kayaknya, nih. Ji, gue kayaknya beneran jatuh cinta sama lu. Cium gue, Ji, cium. Cuma ada lu di pikiran gue. Gue nggak bohong.


"Orang pacaran itu seperti kita juga?"


Pretty terenyak dan menelan saliva. Napas Pretty makin tak beraturan. "Maksud Aji?"


"Aku dan kamu sekarang lagi berpegangan tangan. Aku dan kamu lagi berdua saja juga. Aku pernah mencium bibir kamu juga. Berarti, aku dan kamu pacaran. Kamu pacar aku berarti. Benar?"


"Eh?" Sebetulnya belajar dari pengalaman yang sebelumnya, Pretty kurang menyenangi jika ada laki-laki yang sering main klaim Pretty itu pacar yang bersangkutan. Akan tetapi, Aji adalah pengecualian tersendiri. Dalam hati, Pretty malah kegirangan. Karena ucapan Aji tadi, Pretty jadi beranggapan bahwa berpacaran itu sesuatu hal yang sangat sederhana. Tinggal berpegangan tangan, berpelukan, lalu berciuman. Sesederhana gaya pacaran anak sekolah dasar yang begitu yang satu bilang suka, keduanya langsung menjelma menjadi Ayah dan Bunda.


"Kamu pacar Aji, bukan?" tanya Aji lagi.


"Eeee..." Pretty gelagapan untuk menjawabnya. Haruskah Pretty berkata "Iya"?


"Aku dan kamu pernah berciuman, dan Aya pernah bilang, kamu suka aku. Aku sebetulnya suka kamu juga. Berarti aku dan kamu pacaran. Kamu pacar aku, kekasih aku, dan mungkin calon istri aku."


Hah? Pretty tak salah dengar, kah? Aji menyukai Pretty? Menyukai dalam arti cinta, kah? Pretty lalu menelan saliva lagi.


Sekonyong-konyong pintu apartemen terbuka. Ternyata Shania muncul sembari membawa dua kantung belanja. Shania langsung berdeham. Tampaknya Shania tidak menyukai momen di mana Pretty dan Aji hampir saja berciuman bibir (di pandangan mata Shania, Aji dan Pretty seperti hendak berciuman).


"Kalian berdua lagi apa? Jangan macam-macam di sini, yah." Shania memperingatkan Aji dan Shania. Sepertinya Shania cemburu.


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput d****ari kesalahan. Hehe****.

__ADS_1


__ADS_2