
"...suka sekali, suka sekali, suka sekali, dadaku ini, terasa sedih, dan amat sakit, walau pun ingin menyerah, selalu suka kembali..."
Kini, di apartemen itu, kembali hanya ada Aji dan Salman. Tambahan satu lagi, Shania yang iseng saja bertandang ke apartemen Aji. Sebetulnya bukan sekadar iseng, Shania memiliki rencana tersendiri. Yang bisa terlihat saat diam-diam Shania menatap Aji lumayan lama. Hal itu ketahuan oleh sepupunya, Salman.
Shania mendesahkan lagu itu seraya menatap Aji yang begitu terpesona penampilan JKT48.
"Ehem,..." deham Salman yang kembali ke depan televisi sambil membawa segelas Nescafe yang sudah diberikan es batu. "Shania, biasa saja melihat Aji. Eh, Aji, kamu suka sama JKT48 juga?"
"Jeketi fotieit? Apa itu?" tanya Aji kebingungan.
Salman menunjuk ke arah layar kaca televisi. Untungnya JKT48 masih muncul di televisi. Di layar, ada seorang gadis muda berkulit putih tengah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu, yang kamu tonton, JKT48 namanya. Cewek imut itu namanya Cindy Yuvia." Salman mengalihkan pandangan ke arah Shania, geleng-geleng kepala. "Aduh, Shania, jadi ini selera musik kamu? Kamu suka yang begini?"
__ADS_1
"Yah, kenapa? Suka-suka gue, Salman. Lagian, CD JKT48-nya bukan punya gue. Punya Tasya. Tasya nitip CD-nya sama gue dulu. Gue sih sukanya yang lebih dari JKT48 ini. Dih, apaan lagi mereka? Sok imut banget. Cantikan juga gue ketimbang JKT48 ini." cerocos Shania yang menunjuk ke arah layar dan secara kebetulan Shania Khan yang berwajah khas India menunjuk ke arah salah satu member yang bernama Shania Junianatha yang berwajah manis khas putri solo.
"Iri bilang aja, lah," ucap Salman terkekeh-kekeh.
"Mereka cantik-cantik, yah," kagum Aji dengan kedua mata nyaris tak berkedip.
"Tuh, Shania, Aji saja tahu, mana fakta, mana bukan." ujar Salman nyengir. "Kamu cuma iri karena personel-personel ini lebih cantik dari kamu. Iri kamu itu."
"Awas lu, yah, Salman. Gue bilangin ke Ali-ji, semester lalu, nilai-nilai lu banyak yang D." ancam Shania yang tak terima ia dibilang kalah cantik dibandingkan member-member JKT48. Ali adalah nama ayah Salman.
Kedua mata Aji berseliweran. Ia melihat ke kiri, ke kanan. Akan tetapi, ia hanya mendapati ia, Shania, dan Salman.
"Pemirsa itu artinya orang banyak yang lagi menonton, kan? Aku tidak melihat siapa-siapa, selain kita bertiga." ucap Aji bingung setengah mati.
Shania menggeleng-gelengkan kepala. Sekarang perasaan Shania campur aduk. Antara kesal ke sepupunya sendiri dan gemas terhadap kepolosan Aji.
__ADS_1
"Aji, yang dibilang Salman itu cuma guyonan. Joke. Salman cuma bercanda. Dia cuma mengkhayal lagi berasa di atas panggung dengan JKT48 sebagai bintang tamunya." kata Shania tertawa dan sepertinya puas sekali menertawakan sepupunya sendiri.
"Sial." umpat Salman. "Awas aja, kalau ada apa-apa, jangan minta tolong aku."
"Suka sekali, suka sekali, suka sekali,....." ujar Shania sambil menutup telinga dengan sebelah tangan. Ia menjulurkan lidah ke arah Salman. "Udah, yah, gue balik dulu ke apartemen gue. Mau ngerjain tugas."
"Dasar cewek aneh. Sok kecakepan. Nggak mau dirinya kalah cakep dari personel-personel JKT48." cibir Salman.
Begitu Shania membuka pintu, ternyata sudah ada Pretty dan Anin. Saat melihat Pretty, Shania mendesah, lalu tersenyum hambar. Di tangan Pretty, ada sekantung plastik berisi sekotak nasi campur. Sementara Anin membawa selusin donat J-Co.
"Mau pergi, Shania?" tanya Pretty tersenyum.
"Cuman bentaran balik ke apartemen." jawab Shania ketus.
Ganti Salman tertawa terbahak-bahak saat melihat perilaku Shania tadi.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.