Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Aji Muncul di Hadapan Anin


__ADS_3

...Caramel - Gaby Tinggal Kenangan...


...Pernah ada rasa cinta...


...Antara kita kini tinggal kenangan...


...Ingin kulupakan semua tentang dirimu...


...Namun tak lagi kan seperti dirimu oh bintangku...


"Argh!" jerit Anin yang lagi serius mendengarkan lagu yang katanya bernuansa mistis tersebut. Anin segera mematikan MP3 yang berada di ponselnya.


"Mbak," ucap salah seorang pelanggan Anin yang minta dirias. Si pelanggan besok akan menghadiri upacara wisuda. Karena indeks prestasinya nyaris cumlaude, si pelanggan ini akan duduk di kursi istimewa. Itulah sebabnya ia ngotot memanggil Anin untuk minta dirias di jam dua belas malam.


"Eh, maaf," Anin menundukkan kepala. Ia berusaha menahan tawa atas kesalahan yang ia lakukan. Tanpa sengaja Anin terlalu berlebihan menaburkan maskaranya. Si perempuan jadi seperti badut.


"Mbak, yang serius dong kerjanya," protes si perempuan. "Saya menghubungi Mbak juga karena rekomendasi teman saya. Tahu gini, nyesel saya. Lagian Mbak ini lagi dengerin apaan?"

__ADS_1


Tanpa minta ijin Anin, perempuan itu langsung mengintip layar ponsel Anin. Si perempuan cukup terperanjat dan sepertinya agak merinding. Anin nyengir melihat gelagat si perempuan. Pikir Anin, jangan bilang dia takut sama lagu Gaby ini, itu kan cuma mitos, gue sering dengerin lagu Gaby, gak pernah didatengin hantu Gaby.


"Mbak Anin," ucap si perempuan yang menatap Anin dengan mimik serius dan bulu roma berdiri.


"Ah, saya tahu maksudnya kamu. Jangan nakutin saya, ah. Meski ini udah jam dua belas malam, buktinya baik-baik aja, kan. Gak ada hantu Gaby yang dateng ke mari." kata Anin nyengir, memukul bahu si perempuan. "Itu cuma takhayul. Cuma ciptaan label rekamannya biar lagunya makin nge-hits. Strategi marketing murahan."


"Mbak nggak percaya jadinya?" tanya si perempuan menggelengkan kepalanya. "Tapi, tahu ceritanya, kan?"


"Ya, tahu, lah. Saya bukan orang hutan, kali. Saya update juga. Tentang ini, kan, mitosnya, tentang cewek namanya Gaby, yang bunuh diri gara-gara ditinggal pergi cowoknya. Baru kemarin saya nonton videonya di internet. Ya ampun, segitunya yang namanya Gaby." ujar Anin sedikit berbohong. Padahal kemarin Anin tidak menonton video tentang lagu "Gaby Tinggal Kenangan" yang melegenda tersebut.


"Udah, nggak usah tegang gitu. Takhayul itu. Sebagai orang beriman, nggak boleh percaya hal-hal begituan. Lagian udah jaman moderen, kali. Masih aja percaya gaib-gaiban, mistis-mistisan. Nggak, nggak, nggak kuat, aku nggak kuat sama takhayul-takhayulan." Di akhir ucapannya, Anin malah menyanyikan kata-kata terakhirnya dan dilengkapi dengan dance ala 7Icons.


"Aku udah ingetin Mbak, loh." kata si perempuan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Istighfar, Mbak, istighfar. Nyebut. Eling, eling."


"Bentar, bentar, saya mau ke kamar kecil dulu. Kamar kecilnya di mana, yah?" Anin meminta ijin yang sebetulnya untuk menerima telepon dari Tasya.


"Belok kiri, deket dapur," desah si perempuan yang heran dengan tingkah laku Anin. Akan tetapi, si perempuan memang tidak bisa memaksakan orang lain untuk percaya ceritanya tersebut. Mendadak si perempuan terbayang-bayang wajah seorang laki-laki berkacamata dan berseloroh, "Iman, kamu ada di mana sih, Man? Aku kangen." Padahal si perempuan itu tak terlalu mengenal akrab dengan laki-laki bernama Iman. Bagaimana bisa perempuan ini mengenal Anin? Apa benar karena lagu "Gaby Tinggal Kenangan"? Atau, si perempuan dipelet?

__ADS_1


Anin bergegas menuju arah yang ditunjuk oleh si perempuan. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, Anjn kaget. Astaganaga, Anin kira ia melihat penampakan hantu Gaby, eh ternyata Aji yang muncul. Eh, sebentar, mendadak Anin merinding. Ini betulan Aji, kan. Dia bukannya harusnya berada di rumah Pretty? Emak, tolongin Anin, Anin takut. Anin nggak berani lihat hantu. Anin lagi didatengin hantu cowok, Mak. Ganteng sih, tapi nakutin. Gimana dong, Mak?


"Anin," Hanya begitulah yang dikatakan Aji yang justru lebih bingung daripada Anin. Tiba-tiba saja Aji menghilang dari kamar yang berada di rumah Pretty, lalu muncul di hadapan Anin yang tengah meladeni permintaan seorang perempuan yang akan diwisuda.


"Eh burungnya Bapak kejepit," latah Anin. Di antara tujuh perempuan, memang hanya Anin yang memiliki kebiasaan latah. "Aji, jangan ngagetin, ah. Kamu ngapain ke mari? Pretty tahu? Eh, ini beneran Aji, kan?"


"Ini Aji, Anin. Tidak ada laki-laki setampan ini selain Aji." kata Aji tersenyum. Aji mengucapkan kata-kata tersebut tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri.


Anin hampir saja tertawa, lalu memperhatikan penampilan Aji. Kedua kaki Aji masih menapak di atas tanah. Berarti ini memang Aji, bukan demit yang menyamar sebagai Aji. Sekonyong-konyong Anin teringat kejadian saat itu. Iya, Anin baru ingat, sampai sekarang pun, sosok Aji masih menjadi misteri yang tak terpecahkan. Aji datang dari mana, mengapa Aji sering menghilang, Anin dan kawan-kawan belum bisa memecahkannya. Apakah Aji sungguh manusia. Aji, Aji, Anin menelan air liurnya, kamu ganteng, tapi kok kadang nyeremin, yah? Kadang lucu orangnya juga.


Tanpa sadar Anin memegang salah satu tangan Aji. Perlahan-lahan Anin beringsut ke arah Aji dan nyaris memeluk Aji. Aji tak kuasa menolak pelukan tersebut hingga.....


.....bibir Anin hampir saja bersentuhan dengan bibir Aji. Jantung Aji dan Anin saling berlomba bunyi irama denyut jantung, walau suara detak jantung Anin yang lebih kencang dan cepat.



Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2