
Aji terkesima. Kali ini di mana lagi? Dipandanginya sekelilingnya. Aji berada di sebuah bangunan yang katanya gereja. Di hadapan Aji, agak jauh juga, terpajang dua palang kayu. Ada lukisan pria berjanggut nan berewokan. Aji baru menyadari gedung ini ternyata ramai. Ada banyak orang yang duduk di bangku yang tersedia. Beberapa orang malah memperhatikan Aji sambil tersenyum.
Aji malah makin kaget dan bingung. Sebab, seorang perempuan yang Aji kenal, menghampiri Aji. Tasya, kan, pikir Aji.
"Aji, buruan, maju ke depan, udah ditungguin di altar," seru Tasya yang menyeret Aji untuk segera melangkah ke depan, yang mana lukisan pria berjanggut itu terletak.
Samar-samar Aji melihat seorang perempuan yang mengenakan gaun putih. Anehnya, wajah perempuan itu seperti tertutupi sesuatu. Sesuatu itu bernama cadar, dan sepertinya Aji sudah bisa menerka siapa pemilik wajah tersebut. Aji menelan air liur saat membayangkan sosoknya. Dalam hati, Aji mendambakan itu Pretty. Ditambah lagi, selain Tasya, Aji sudah mendapati Mareta, Anin, Aya, dan Febe. Eh, sebentar, Shania ke mana?
Sebentar, sebentar, Aji bingung sendiri. Lima perempuan sudah Aji lihat. Yang tersisa adalah Shania dan Pretty. Berarti, ada kemungkinan sosok perempuan bergaun putih ini antara Shania dan Pretty. Walau demikian, entah kenapa Aji merasa sosok perempuan dengan wajah tak terlihat itu adalah Pretty. Ukuran tubuh Shania sedikit lebih tinggi dari tubuh si perempuan. Aduh, jantung Aji makin berdebar-debar.
Perlahan-lahan si perempuan mendekati Aji. Ia berjalan selangkah demi selangkah. Sebuah musik indah terdengar. Jantung Aji makin berdegup kencang. Tangan si perempuan terjulur ke arah Aji. Aji berusaha menangkap tangan perempuan tersebut. Lagi-lagi wajah si perempuan tidak terlihat, meskipun Aji kuat sekali menduga bahwa itu Pretty. Sepertinya si perempuan tengah tersenyum di balik cadarnya.
Dan...
.
..
__ADS_1
...
....
.....
Sekejap lokasinya berpindah. Aji seperti melihat pengulangan peristiwa. Lani yang sudah meninggal, mendadak muncul di hadapan Aji. Lalu, tanpa sadar Aji mempraktekkan kembali apa yang sudah pernah terjadi di masa lalu. Persis seperti dulu. Itu termasuk Aji harus merokok untuk ke sekian kali.
...
Aji sekarang berbaju sedikit moderen. Tidak seratus persen moderen. Pakaian Aji hanya menyesuaikan apa yang berada di sekelilingnya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Aji mengenakan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek berwarna hijau tua.
Aji mengangguk. Biar dianggap sopan, Aji duduk di dekat laki-laki paruh baya yang katanya mengaku Lani dan berprofesi sebagai satpam. Karena itulah, Aji mengira rumah mewah ini tersambung ke istana Ratu Pantai Selatan di Yogyakarta.
Lani menyodorkan sekotak rokok. "Kowe pengen?"
"Iku apa?" tanya Aji kebingungan. Banyak hal yang berada di sekitar Aji yang membuat Aji kebingungan setengah mati.
__ADS_1
"Rokok. Iki ganti panganan. Ngatasi stress. Njupuk siji, aku biasane kebak. Nyoba siji, Ji. Monggo."
Entah serius, entah bercanda, Lani langsung meletakkan sebatang rokok di mulut Aji. Aji hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Aji sudah terbatuk-batuk, Lani tetap memaksakan Aji untuk merokok juga. Tanpa meminta ijin Aji, Lani langsung membakar sebatang rokok tersebut.
"Njupuk, banjur diembus. Weh, surga tenan, Ji. Koyo diubengi dening bidadari ayu. Lali karo masalah aku." ucap Lani yang memeragakan gaya merokok yang menurutnya terbaik. Padahal Lani juga mencontohnya dari televisi.
Aji coba meniru, namun selalu terbatuk-batuk. Lani terus menyemangati.
"Ing kawitan, iku. Mengko wis biasa. Bisa, wis biasa. Surga, Ji, surga. Bidadari-bidadari ayu, Ji. Enak tenan." ujar Lani menyemangati.
Di bayangan Aji, muncul wajah Pretty dan keenam temannya. Terlebih wajah Pretty yan menurut Aji memang seperti bidadari. Aji bahkan sulit melupakan ciuman bibir tersebut. Apa bidadari itu segitu mencintai aku, pikir Aji kebingungan dan makin membuat wajah Aji memerah.
"Ji, wangsulana kanthi jujur. Kowe seneng Mbak Pretty?"
"Mbak Pretty?"
"Ya iya, lah. Cah lanang iku, nama'e Pretty. Ayune, Pretty. Aku pengen cocog Mbak Pretty karo anak aku."
__ADS_1