Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Pretty Diinterogasi


__ADS_3

Aji dibiarkan sendirian dulu di apartemen yang dibayar untuk Aji. Sementara tujuh gadis itu memilih untuk berkumpul di apartemen Shania yang tak jauh dari apartemen Aji. Selain Pretty, rata-rata dari gadis-gadis itu memasang tampang dongkol, khususnya Anin. Pretty kikuk.


Anin bangkit berdiri dan berjalan menuju Pretty yang malah cengar-cengir sembari makan snack Chitato Lite. Ujar Anin, "Pretty Morning Glory Sumaili,"


"Hehehe..." Hanya itu jawab Pretty, nyengir.


Anin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa benar yang dibilang Shania? Lu sama Aji ciuman?"


Shania ikut berdiri juga. "Nin, nggak usah meragukan gue. Kapan sih gue pernah bohong? Seorang Shania Khan anti dengan kebohongan. Selamat tinggal, dunia tipu-tipu."


"Tapi, dua hari lalu, lu bohong, Shania. Katanya nggak, eh ternyata lu naksir juga. Diam-diam nyetak foto Aji, terus dikasih pigura. Pake ada gambar hati segala." ujar Tasya yang coba meluruskan.


Anin memandangi Shania dengan sengit. Tampaknya Anin memang diam-diam menyukai Aji. Ujar Anin lagi, "Shania, coba jelasin kelakuan lu itu,"


Shania langsung gelagapan. Yang dibilang Tasya memang benar. Jangankan yang sudah dicetak, di dalam ponsel Shania, astaga, ternyata Shania memiliki kebiasaan baru. Shania senang memotret Aji secara diam-diam. Jika tengah senggang, Shania mengisengi foto-foto candid Aji. Kadang Aji dibuat menjadi mirip monyet. Kadang Aji dimiripkan dengan artis Korea. Kadang pula Shania membuat dia dan Aji sebagai seorang pengantin baru.


"Eee... y, y, ya, itu suka-suka gue. Keberatan lu, Nin? Apa salah gue nyimpen dan nyetak foto-foto Aji?" bela Shania salah tingkah.


Kedua mata Anin membesar mendadak. Anin tampak kesal dan lebih mirip kekesalan seorang yang target cintanya tengah ditikung sahabat sendiri. Siapapun yang melihat ekspresi wajah Anin secara jeli, pasti akan menebak bahwa kemungkinan besar Anin menyukai Aji.


Sementara beberapa yang lainnya terperanjat dengan pengakuan Shania. Setidaknya ada dua persoalan yang terjadi. Pretty yang kepergok tengah bermesraan dengan Aji. Yang kedua, Shania yang mengaku telah menyimpan banyak foto Aji.

__ADS_1


"Udah, udah, gue minta maaf. Iya, gue memang suka sama Aji. Menurut gue, wajah Aji cukup fotogenik. Apalagi buat dibawa ke kontes fotografi bertemakan wild life. Aji mirip sama suku primitifnya." ucap Shania yang diakhiri dengan gelak tawa.


Pretty berdecak. "Parah lu, Shan. Aji nggak punya siapa-siapa, malah lu jadiin bahan."


Shania mendekati Pretty dengan marah. "Di sini kita mau bahas soal kelakuan lu yang amoral, Pretty Morning Glory. Andai gue nggak dateng, lu mau apain Aji?"


"Kan, belum kejadian juga. Ya udah, gue minta maaf, temen-temen. Gue salah. Gue nggak bisa ngontrol kelakuan gue." kata Pretty nyengir dan membentuk tanda V dengan jemarinya.


Anin menunjuk-nunjuk Pretty. "Lu bikin kita dalam masalah besar, Pretty. Ngerti lu?"


"Masalah besar apa? Lebay lu, nin." Seperti biasa Pretty memang suka menganggap remeh sampai sekarang terjadi sesuatu kepada dirinya sendiri.


"Y, y, ya, kalau pengelola apartemen sampai tahu, gimana?" Tampaknya Anin mulai kerepotan mencari-cari alasan untuk dikemukakan kepada temannya yang sudah membuat hatinya teriris. Anin masih terus menyangkali perasaannya kepada Aji. "Kita bisa diinterogasi, Pretty. Kalau dibawa ke ranah hukum, gimana? Terus, Shania diusir dari apartemennya, lu nggak kasihan apa?"


Aya mengangkat tangan dan berkata, "Maaf, nih, teman-teman, sebetulnya kita tengah membahas apa? Bukannya aku mau membela Pretty, tapi kasihan juga Pretty. Belum tentu juga Pretty terbukti berciuman sama Aji. Mungkin hanya kesalahpahaman."


"Tuh, yang dibilang Aya benar," kata Pretty senang sekali saat ada pembelanya. Aya memang sahabat sejati.


"Gue lihat sendiri, Rohaya. Pake mata kepala gue sendiri. Pretty dan Aji pegangan tangan dan jarak antara mereka berdua dekat banget. Kayak abis ciuman gitu. Jadi lu meragukan gue?" dengus Shania yang tak terima kesaksiannya diragukan.


"Yah, terus kenapa? Menurut aku, biarkan saja. Biarkan Pretty dan Aji saling menyayangi. Toh, mereka melakukannya tidak terang-terangan." ucap Aya polos.

__ADS_1


Anin mendekati Aya dengan kesal. "Nggak bisa gitu, Aya. Yang dilakuin Pretty jelas salah. Salah banget. Nanti kita semua yang kena getahnya."


"Paling kalau ketahuan pengelola apartemennya, kan Pretty yang menanggung akibatnya. Aku mah hanya bisa menyemangati dia, atuh." ujar Aya yang mencoba diplomatis dengan wajah polosnya.


Anin mengepalkan kedua tangannya, hendak meninju Aya.


Tasya lalu angkat bicara. "Yang dibilang Aya benar juga. Terus, masalahnya di mana? Kecuali, lu berdua juga suka sama Aji. Nggak usah dibesar-besarin. Biarin juga Aji bahagia. Yah, kalau Aji bahagia sama Pretty dan nggak gelisah lagi, biarin, lah. Jangan merusak kebahagiaan seseorang apalagi sahabat sendiri."


Mareta mengangguk-angguk. "Gue setuju sih sama Tasya."


"Gue tetap mempermasalahkan perbuatan Pretty yang gue lihat tadi." ujar Shania yang tak mau kalah. "Mulai sekarang, gue mewanti-wanti lu, Pretty, buat nggak terlalu dekat sama Aji."


"Gue juga ngawasin lu, Pretty. Kalau dibiarin, bisa bahaya." timpal Anin.


"Cieeee..... yang lagi rebutan cowok....." ledek Mareta.


Tasya tertawa.


Aya tersenyum tipis, berusaha menahan tawa.


Sementara Febe tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepala. Pikir Febe, ada-ada saja kalian ini.

__ADS_1


Pretty berdiri dan mengangkat tangan. "Guys, time out. Ijin mau ke toilet. Kebelet gue."


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2