
Mungkin ini definisi wajah mengilat yang sesungguhnya. The real glowing. Teman-teman Pretty sampai terheran-heran. Bahkan Anin langsung saja bertanya Pretty menggunakan skincare seperti apa. Wajah mulus Pretty yang tak bernoda itulah penyebabnya. Padahal usia Pretty sudah dua puluh dua tahun, namun wajah Pretty seperti bayi saja.
Di saat Anin dan Mareta tengah sibuk dengan skincare andalan masing-masing (yang rata-rata berharga mahal dan harus dengan resep dokter), Pretty malah hanya membersihkan wajah dengan tisu basah. Hanya dengan sebuah tisu basah! Bayangkan itu!
Anin menggeleng-gelengkan kepala. "Gue heran sama lu, Pretty,"
Pretty tersenyum dan meletakkan tisu basah itu ke dalam tas tangannya. "Heran kenapa?"
"Wajah lu itu, heran aja, kok bisa se-glowing gitu? Bersih dari jerawat atau komedo. Iri gue sama lu." ucap Anin berdecak heran.
Pretty hanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Iya, Pretty, kok bisa gitu?" timpal Mareta yang kerepotan membaluri wajahnya dengan obat ini, obat itu. Itu semata dilakukan agar wajah Mareta terbebas dari jerawat. "Gue aja sampai gonta-ganti dokter kecantikan biar nggak jerawatan mulu. Kalau dokter yang satu gagal, gue pindah ke dokter yang lain. Ampe keluar puluhan juta cuma biar wajah gue bebas dari jerawat. Resepnya apa, Pretty? Bagi, dong. Jangan pelit gitu sama temen segrup sendiri."
Pretty mengangkat bahu. "I don't know. Emang udah dari kecil aja, dari akil balig juga, wajah gue gini-gini aja. Malah gue pengen aja jerawatan kayak lu semua. Eh, jerawat kayak nolak hinggap di wajah gue."
Kenyataannya, untuk kali pertama, di usia Pretty yang keduapuluhdua, yang sejak Aji menghilang dan belum ditemukan lagi selama hampir dua minggu ini, muncul jerawat di wajah Pretty. Tak terlalu besar dan hinggap di ujung kiri dahi Pretty. Pretty agak panik, namun senang juga. Oh, gini toh rasanya punya jerawat, pikir Pretty sembari mengulum sebuah cengiran.
"Tapi, akhirnya Pretty kesayangan kita punya jerawat juga, Gaes," seru Aya yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet. "Hayo, kamu mikirin siapa coba? Ada seseorang yang dipikirin, kan? Sampai timbul jerawat begitu?"
Anin beringsut ke arah Pretty dan memperhatikan baik-baik jerawat kecil pertama Pretty tersebut. "Eh, iya, bener yang dibilang Aya. Pretty jerawatan, Gaes!"
Sekonyong-konyong Tasya tergopoh-gopoh keluar dari bilik. Tasya ikut memperhatikan jerawat pertama Pretty. Teman-temannya sepertinya sangat mengetahui mengenai wajah Pretty yang malah lebih baik dari Pretty. Perkara jerawat saja, mereka berlima sepakat bahwa, itu memang jerawat pertama Pretty. Entah iseng atau tidak, Tasya menyentuh dengan gemas jerawat tersebut.
__ADS_1
"Adududuh... sakit, Tasya!" Pretty mengaduh. "Jangan dipencet-pencet gitu!"
"Iya, loh, beneran jerawat. Gue kira itu kismis yang nempel di wajah Pretty." kata Tasya yang entah itu dalam konteks bercanda atau serius. Tasya memang seperti itu. Kita sulit membedakan kapan gadis itu tengah dalam mode bercanda, kapan gadis itu serius.
"Anjir, Tasya, yah jerawat, lah. Emang lu kira wajahnya gue penggorengan apa? Pake acara jerawat pertama gue, lu sangka itu kismis?" protes Pretty.
"Cieee... mikirin siapa coba?" Tasya malah meledeki Pretty.
"Orangnya yang lagi menghilang selama dua mingguan ini, teman-teman. Di saat kita semua udah bersikap biasa aja, Pretty malah mikirin mulu katanya. Tiap malam curhat mulu sama aku. Ya, kan, Pretty?" ujar Aya yang seenaknya membocorkan rahasia.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.