Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Aji Mencurigai Slamet


__ADS_3

Aji tergesa-gesa membersihkan badannya dengan air sungai. Tak lupa Aji meneguk air tersebut untuk menghilangkan dahaganya.


"Aji, cepat, ke mari," panggil Slamet yang berada di bawah pohon yang buahnya mirip apel tersebut.


Aji bangkit berdiri. Ia mengamat-amati Slamet. Rasanya Aji merasa ada yang janggal dengan Slamet. Aji berpikir Slamet sepertinya bukan manusia. Entah kenapa Aji memiliki pikiran Slamet itu makhluk lain. Akan tetapi kedua kaki Slamet menapak di atas tanah. Andaikan Slamet ini sudah meninggal, hari sudah pagi. Dunia ini pun memiliki matahari. Panasnya sama dengan matahari di dunia Aji dan dunia Pretty. Aji heran saja mengapa ia memiliki pemikiran Slamet ini sudah meninggal. Bisakah juga hantu berkeliaran di atas jam enam pagi, lalu menapakkan kaki di atas tanah?


Aji berjalan pelan-pelan menghampiri Slamet, Utomo, dan Elkann. Begitu jaraknya sudah makin mendekat, Aji menerima buah itu dari Slamet. Aji langsung mengunyah buah tersebut. Dua buah coba dilahap Aji.

__ADS_1


"Tahan dulu apa yang mau kamu tanyakan, Aji." ucap Slamet tersenyum. "Mereka mau datang. Kita harus segera bersiap. Pedang itu juga jangan kamu biarkan jauh dari genggamanmu."


Sekonyong-konyong Slamet, Utomo, dan Elkann menundukkan kepala dan memejamkan mata. Aji paham apa arti posisi tersebut. Sayangnya Aji tak langsung ikut berdoa. Ah, Aji sangka itu musuh, ternyata mungkin teman. Seseorang datang dan mengaku bernama Kharis. Kharis mengajak Aji untuk berjabat tangan.


"Datang juga kamu," ujar Slamet kepada Kharis, tersenyum. Walaupun demikian, tampaknya Slamet memiliki semacam dendam terhadap Aris, yang coba untuk tidak dikeluarkan.


Aji bingung dengan apa yang terjadi. Sepertinya juga Aji paham ada masalah apa di antara Slamet dan Kharis sebelumnya. Saat Slamet menepuk pundak Kharis, di situlah keanehan lainnya ditangkap oleh Aji. Tangan Aji tak benar-benar menyentuh Kharis. Aji mengerutkan dahi semakin kuat.

__ADS_1


"Ayo, Aji," ajak Elkann. "Dinikmati saja. Ada satu pepatah lama untuk kamu. Ora et labora. Aku suka mendengarnya dan tidak pernah gagal untuk memotivasi aku."


Benar saja. Di hadapan mata Aji dan keempat teman barunya, segerombolan orang berdatangan. Beberapa menunggangi kuda. Beberapa orang lainnya merupakan semacam serdadu. Mereka semua sepertinya sudah terlatih untuk bertempur. Bulu tangan Aji sekonyong-konyong berdiri. Mampukah lima orang melawan segerombolan orang yang sudah terlatih fisik dan mentalnya?


Sementara itu, di tempat lain, tak biasanya Dave melihat kakak kandungnya tengah bermain game tembak-tembakan seperti Point Blank. Pretty tampaknya sangat menikmati game tersebut. Samar-samar pula Dave mendengar Pretty mendengungkan salah satu lagu yang dipopulerkan oleh Selena Gomez. Ekspresi yang aneh dan tak biasanya, pikir Dave. Apa ini hanya halusinasi Dave saja? Kedua mata Pretty terlihat agak bengkak. Sepertinya Pretty baru saja menangis karena seseorang. Apa kakak punya pacar selama ini, tapi aku nggak pernah lihat kakak bertingkah seperti seseorang yang punya pacar, Dave menggigit bibir bawahnya.


__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2