
Supirnya kali ini Pretty. Aji duduk di samping Pretty. Shania duduk persis di belakang Aji. Samping Shania, Anin. Di belakang Pretty, Aya. Sisanya, duduk di bangku paling belakang.
"Guys, please, jangan taruh Aji di rumah gue." ujar Pretty memelototi teman-temannya melalui kaca spion depan.
"Apa Aji di rumah aku saja?" tanya Aya mengangkat tangan. Aya yang berdarah Sunda, memang terkenal sopan.
"Terus, nanti kamu bilang apa ke keluarga kamu, Rohaya?" kata Shania yang sepertinya tengah menjernihkan pikiran Aya yang sering berbicara tanpa berpikir lebih dahulu.
"Yah, itu terserah Aya, Shan," protes Anin. "Urusan dia mau ngomong apa sama keluarganya."
Aya hanya mengangguk, tersenyum.
"Kita carikan saja kontrakan. Nggak usah mahal-mahal. Sembari kita cari tahu dia ini siapa, kita bisa main ke kontrakannya." usul Mareta. "Nggak usah yang mahal-mahal. Yang penting, Aji punya tempat tinggal. Kasihan Aji."
"Yang bayar bukan cuma gue doang, kan?" selidik Pretty penuh kecurigaan. Biasanya segala hal yang menyangkut uang, pasti Pretty menjadi tumpuan.
__ADS_1
"Maunya sih lu yang bayar, Pretty. Kan, yang bawa masuk ke dalam mobil, siapa coba." ujar Anin ofensif.
Pretty mendesah. "Kenapa selalu gue melulu? Shania juga tajir. Minta dong sama Shania."
Shania terlihat tersinggung. "Ehem,... ya udah, kita patungan. Jangan cari kontrakan, Guys. Nanti kita akan kesulitan mengunjungi Aji. Sampai kita tahu Aji ini siapa, jangan biarkan Aji sendirian. Mending kita cari apartemen. Di tempat gue, ada apartemen yang kosong. Gimana kalau kita taruh Aji di sana?"
"Oke, patungan, yah. Gue nggak mau nombokin semuanya sendiri. Gue setuju sama idenya Shania." ujar Pretty tersenyum puas. Akhirnya dewi fortuna mendatanginya. Selama ini, Pretty kesal. Setiap menyangkut uang, selalu Pretty yang dibebani.
Anin mendekati Pretty. "Tapi, nanti traktirin makan, dong."
"Apaan sih lu, Nin?!" tukas Pretty memonyongkan bibir.
"Nin," bisik Shania. "ajak ngobrol Aji. Bikin dia tenang. Aji kelihatan gelisah banget."
"Kenapa harus gue, Shan?" desis Anin.
__ADS_1
"Kan, di antara kita semua, yang bisa bahasa Jawa, yah lu." tangkis Shania yang masih berbisik.
Anin langsung saja memegangi tangan Aji. Aji kaget dan malah makin takut. Tasya berdeham untuk sekedar mengisengi Anin. Ujar Tasya, "Cie, gebetan baru, nih" Anin langsung memelototi Tasya.
"Aji,... kalem. Kowe ora bakal apa-apa." ucap Anin seperti tengah menenangkan seorang bocah kecil.
"Kepiye carane aku bisa percaya, kowe ngomong basa sing aneh. Nalika kowe ngomong basa ngoko." Akhirnya Aji meluapkan uneg-uneg yang selama ini ia pendam. "Apa kowe ora gelem ngeterake aku menyang ratu pesisir kidul?"
"Hah? Nyi Loro Kidul? Laut Selatan jauh dari sini, kok. Sekitar..." Anin langsung menoleh ke arah Shania. "Shan, dari sini ke pantai selatan, butuh berapa jam? Gue belum pernah ke sana, soalnya."
Semua gadis yang berada di dalam mobil terenyak dan sekaligus mau tertawa. Selama ini ternyata Aji berpikir mereka bertujuh sebagai anak buah Ratu Pantai Selatan. Hanya Mareta yang tak bisa menahan tawa.
"Aduh, bilang Aji, butuh waktu sekitar dua harian dua malaman buat ke Pantai Selatan dari sini." jawab Shania ngaco.
"Eh, selama itu, Shan?" tanya balik Anin yang entah betul-betul tidak tahu, entah hanya pura-pura.
__ADS_1
Shania malah makin melotot. "Bilang aja sana!"
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.