
Pretty menundukkan kepala dan kedua pipinya bersemu merah. Bibir bawah ia gigit. Tak sengaja ia menelan air liur. Di pikiran Pretty, apa dia lagi nembak gue, jantung gue berdebar-debar gini, gini yah rasanya ditaksir balik sama gebetan.
Pretty dan Aji saling menatap. Di luar, pencahayaannya agak temaram. Sudah malam juga. Sudah di atas jam delapan malam. Tempat di mana Pretty memarkirkan mobil juga kurang pencahayaan. Lampu jalan agak terpisah dari mobil Pretty.
"Aji..." desis Pretty menggigit bibir bawah. Jantung Pretty berdebar-debar. Kali ini tiga kali lebih berdebar. Berisiknya bukan main, namun Pretty sepertinya sangat menikmati.
"Pretty..." desah Aji yang sepertinya juga tak kalah berdebar-debar. Detak jantung Aji dan Pretty seperti tengah berlomba. Adu siapakah yang berdetak lebih kencang dan keras?
"Kamu bicara begitu, nembak aku yah?" Untuk kali pertama Pretty mengajukan pertanyaan yang sepertinya pertanyaan bodoh. Untuk apa ditanyakan ke seseorang yang ditaksir?
"Nembak? Seperti orang memanah, maksud kamu, Pretty?" tanya Aji lugu. Ada beberapa idiom di jaman ini yang belum dipahami Aji. Aji belum mengerti arti kata 'nembak'. Aji mengira 'nembak' adalah sejenis aktivitas yang sama persis dengan aktivitas memanah di jamannya.
Pretty tertawa terbahak-bahak.
Aji ikut tertawa pula.
__ADS_1
"Bukan itu, maksud aku, Aji," ujar Pretty tersipu malu. Lagi-lagi Pretty gelisah menatap Aji.
"Kamu baru kali ini berbicara ke aku dengan aku-kamu, Pretty." ucap Aji langsung saja mengutarakan apa yang berkecamuk di kepalanya. "Apa kamu menyukai aku?"
"Eh?" Pretty kaget. Ini maksudnya apa? Pretty mengira Aji tidak akan menyadari bahwa cara berbicaranya berubah. Nyatanya laki-laki yang ia taksir menyadari perubahan tersebut. Apakah ini artinya doanya dikabulkan Tuhan?
Aji dan Pretty saling menatap. Keduanya dalam ritme yang sama menelan air liur. Sama-sama menggigit bibir bawah. Yang berbeda itu hanyalah denyut jantungnya. Denyut jantung Pretty berdetak lebih cepat, sementara denyut jantung Aji berusaha mengejar. Kejar-kejaran denyut jantung.
"Pretty," ucap Aji memecah keheningan.
"Kamu cantik, Pretty."
"Makasih."
Yah, Aji dan Pretty saling menatap lagi. Berlomba lagi denyut jantung mereka berdua. Saling berbagi senyum. Dengan saling berbagi senyum inilah, seharusnya ini sudah bisa dikatakan sebagai saling menyatakan perasaan. Ada yang bilang, sebuah senyuman itu sama berartinya dengan kata-kata 'aku sayang kamu'.
__ADS_1
"Oh iya, Pretty, bagaimana dengan pertanyaan yang tadi?"
"Kamu juga belum jawab pertanyaan aku, Aji."
"Nembak itu memanah, yah? Aku memanah kamu dengan busur dan panah. Seperti seorang serdadu dalam peperangan. Begitu?"
Pretty menggeleng, tertawa. "Aji, bukan itu. Maksud aku, apa kamu tadi lagi menyatakan..." Pretty terdiam sebentar dan agak ragu. Pada akhirnya, kata-kata itu keluar juga. "... kamu tadi lagi mau bilang kamu suka aku, kan? Kamu lagi menggombali aku? Merayu, maksud aku, Aji. Ya, kan?"
Aji spontan mengangguk, tersenyum tipis. "Aku baru pertama kali ini melihat perempuan secantik kamu. Suka? Aku suka sekali dengan kamu. Mungkin benar aku lagi merayu kamu."
Pretty tak bisa berkata apa-apa lagi. Kedua pipi Pretty bersemu merah. Kepala Pretty tak berani diangkat ke atas. Lalu Pretty membuang muka dan kembali menyetarter mobil. Mobil itu kembali melaju kencang. Sepertinya Pretty tengah kegirangan. Seperti inikah rasanya jika orang yang kita suka malah menyatakan suka lebih dulu dari kita? Pretty mau terbang keluar angkasa saking bahagianya.
Aji hanya tertawa dan sepertinya sudah mulai bisa menebak sendiri kenapa cara bicara Pretty berubah. Dari senyuman lebar Pretty sudah terlihat jelas, bukan? Walau demikian, untuk amannya, dan untuk lebih adil lagi, Pretty juga harus menyatakan suka juga kepada Aji.
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1