Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Analisa Shania - Bagian Kedua


__ADS_3

Semua mata memandang ke arah Aji. Oke, ralat, hanya enam orang yang memandangi Aji. Aji risih dipandangi seperti itu. Laki-laki berpenampilan biasa saja itu terkekeh-kekeh. Ia tergesa-gesa menyesap teh tawarnya.


Sekonyong-konyong Pretty mengusap-usap punggung Aji. "Pelan-pelan minumnya, Aji. Nanti kesedak."


Shania memicingi Pretty. Jantung Shania berdebar lebih kencang. Inikah yang namanya cemburu? Shania kurang menyukai cara pandang Pretty yang menurut Shania sedikit aneh. Kenapa juga cara bicara Pretty menjadi sedikit lebih imut? Apakah sudah terjadi sesuatu antara Pretty dan Aji?


"Aji," seru Anin galak. "Jelasin ke kita semua, lu itu siapa sebetulnya? Jangan suka ngilang mendadak gitu. Takut banget gitu, loh."


"Hehe..." balas Aji nyengir. "Iya, aku minta maaf. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa. Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku datang dari dunia yang berbeda dari yang sekarang. Mungkin aku datang dari masa lalu, atau masa depan, aku juga kurang begitu tahu. Dan, karena lubang hitam di langit itu, aku pindah dan muncul mendadak di hadapan kalian semua. Lalu, aku juga tidak tahu kenapa bisa berpindah-pindah dari dunia aku ke dunia kalian."


Aya mengangguk-angguk. "Iya, sebelumnya kamu pernah bilang gitu ke kita semua."


"Lu nggak punya semacam aji-aji, kan?" tuduh Mareta langsung.


"Aji-aji?" Sepertinya Aji betul-betul kebingungan dengan kata 'aji-aji' tersebut.


Iya, aji-aji. Semacam ilmu kebatinan gitu. Sya, jelasin, bantuin gue." Mareta melirik Tasya yang langsung ikut kebingungan.

__ADS_1


Tasya bangkit berdiri sembari kebingungan. Sekerjap saja Tasya mempraktekkan gaya ala pendekar-pendekar silat yang ia pernah tonton di televisi. Salah satunya, gaya Angling Dharma tengah bersemedi. Beberapa pengunjung restoran ikut memperhatikan dan tertawa. Wajah Tasya memerah, lalu terburu-buru duduk.


"Kayak tadi gitu, Aji. Lu gak kayak gitu, kan?" tuduh Anin yang hendak menerkam Aji.


"Oh, seperti yang sering dipraktekkan empu-empu atau patih-patih itukah?" tanya balik Aji mengangguk-angguk.


"Eeee... iya, gitulah," kali ini Mareta yang menimpali.


Aji tertawa terbahak-bahak.


Entah kenapa ketujuh gadis itu ikut tertawa terbahak-bahak mengikuti Aji tertawa. Beberapa pengunjung ikut memperhatikan ke arah meja di mana Aji dan tujuh gadis duduk. Tampaknya pengunjung-pengunjung itu penasaran dengan apa yang tengah terjadi. Sepertinya ketujuh gadis dan Aji itu bukan orang biasa. Seperti pemain FTV yang tengah bercengkerama sembari mempraktekkan kemampuan akting mereka sebelum menjalani proses syuting. Begitulah pikiran dari pengunjung-pengunjung restoran yang ada.


"Yang bener?" tanya Anin yang masih memandang Aji dengan tatapan galak. "Lu nggak bohong, kan?"


Shania memandangi baik-baik wajah Aji. Begini-begini Shania jago membaca wajah seseorang. Gadis itu begitu tahu apakah seseorang berbohong atau tidak dari raut muka orang tersebut.


Aji kikuk. Ia tertawa. "Aku bicara jujur. Buat apa aku berbohong? Ibu juga selalu mengajari aku untuk tidak berbohong."

__ADS_1


"Kayaknya Aji ngomong jujur, teman-teman. Jangan desek Aji kayak dia kriminal aja." ujar Pretty yang begitu membela Aji.


"Pretty, lu kenapa sih?" tanya Anin curiga. "Bener yang dibilang Shania, ada apa sama lu? Udah terjadi sesuatu antara lu dan Aji?"


Pretty terkekeh-kekeh.


Bersamaan dengan itu, speaker restoran itu memperdengarkan lagu "Akulah Dia" dari Drive.


...DRIVE - AKULAH DIA...


...Sesungguhnya dia adalah diriku ...


...Lebih dari sekedar teman dekatmu ...


...Berhentilah mencari ...


...Karena kau tlah menemukannya...

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2