
"Enak, yah, jadi Aji," desis Salman menatap Aji yang tengah dikelilingi oleh beberapa gadis. Tampak Aji tengah diajarkan membaca oleh Anin dan Tasya.
"Jangan iri, jangan iri," ujar Shania memperingatkan Salman. "Lu mau bernasib yang sama kayak Aji? Dia nggak punya siapa-siapa juga kayaknya."
"Shania, kamu yakin Aji bukan orang jahat? Aku takut dia cuma gelandangan yang cuma mau memanfaatkan keadaan. Kan, sekarang banyak orang-orang kayak begitu, Shania. Mending laporkan ke polisi saja. Mencegah lebih baik daripada mengobati." usul Salman. Saran Salman ini bisa karena iri, bisa pula karena memang ingin menghindarkan sepupu dan teman-temannya dari bahaya kelak.
"Don't thinking negatively. I guess, he is very kind and really need a help from me and my friends." bela Shania defensif. "Menolong orang kayak Aji, ada perasaan berbeda yang gue rasakan, Salman."
"Serious? Are you falling for him, Cousin?" tanya Salman yang seolah mengejek Shania.
Shania tertawa. "Nggak juga. Do I look like that I'm feeling in love with him?"
Salman tertawa terbahak-bahak. "Shania, Shania,... aku sudah lama kenal sama kamu. Aku sudah paham banget sama isi kepala kamu. Don't deny it. Aku cuma mau bilang, nggak salah kalau kamu mau naksir sama cowok kayak begitu." Salman menunjuk ke arah Aji yang tengah disuapi dengan sabar oleh Pretty.
"Oh, really?" tanya balik Shania tertawa. "Jangan suka sok tahu soal gue, Salman."
__ADS_1
Salman tertawa makin kencang. "Whatever, Shania Khan, sepupu aku yang suka sok perfect."
Salman menghampiri Aji yang sibuk disuapi Pretty. Aji tengah mengeja beberapa kata yang disodorkan oleh Tasya. Aji sepertinya laki-laki cerdas yang memiliki keinginan kuat untuk belajar. Tak butuh waktu yang lama, Aji bahkan sudah bisa membaca lima kalimat.
Sementara Shania bergegas kembali ke dalam apartemennya. Ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan oleh dia.
"Kenapa lu, Man?" tanya Pretty memelototi Salman. Pretty terlihat risih dengan keberadaan Salman di sekitarnya. Selidik punya selidik, Salman merupakan mantan kekasih Pretty. Itulah sebabnya Pretty sedikit dingin kepada Shania. Begitu tahu Salman diundang juga, Pretty cukup meradang.
"Kenapa sih kamu, Pretty?" tanya balik Salman terkekeh-kekeh. "Gak suka aku ada di deket kamu? Pengen balikan sama aku nih ceritanya?"
"Bener, nih?" goda Salman mencolek pipi Pretty. "Cewek aku sekarang lebih cantik dari kamu. Mau lihat fotonya?"
Saat Salman hendak menunjukkan foto pacar terbarunya, Pretty langsung berseru, "Bodoh amat! Nggak penting buat gue!"
Salman tertawa dan bergegas menuju kamar mandi. "Kebelet. Mendadak perut aku mules."
__ADS_1
"Kenapa sih sama sepupunya Shania? Lu beneran pernah jadian sama dia, Pretty?" selidik Tasya.
Pretty hanya mendesah dan bersiul-siul sendiri. Gadis itu menyiulkan lagu "Enchanted" dari Taylor Swift.
Anin menyenggol Tasya dan berbisik. "Nanti gue jelasin kalau nggak ada Pretty. Untuk saat ini, gue cuma mau bilang, iya, pernah ada cerita antara Pretty dan Salman. Tapi, bukan pacaran juga. Salman aja yang kepedean. Pretty aja nolak Salman sampai tiga kali."
"Tapi, Pretty bilang, dia dan Salman udah putus," desis Tasya yang kebingungan.
Jangankan Tasya, Mareta dan Febe yang ikut mendengar turut kebingungan.
"Pernah dengar fake love? Nah, itu yang terjadi. Sebetulnya nggak pernah ada cerita jadian antara Pretty dan Salman. Ceritanya panjang dan rumit banget. Bahkan, sinetron 'Terpaksa Menikahi Tuan Muda' yang tayang di Anteve aja kalah drama sama cerita antara Pretty dan Salman. Nanti gue jelasin. Nggak di sini."
"Ehem,..." Pretty berdeham. "Enak, yah, gosipin gue pas ada gue?! Wei, gue denger semua, wei!"
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.