Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Aji Mengintip Shania


__ADS_3

Tok, tok, tok,...


Aji mulai berpikir. Apa Shania tengah pergi dari apartemennya? Padahal, Aji disuruh Salman untuk meminta uang saku bulanan ke Shania. Kalau tengah pergi, samar-samar Aji mendengar suara yang menurut Aya, itu suara shower. Aji juga pernah ditunjukkan cara untuk membersihkan diri di dunia ini (atau, di jaman ini).


"Yang ini ditekan ke bawah, kan?" tanya Aji kepada dirinya sendiri. Aji berharap memang itulah caranya untuk membuka benda bernama pintu (dan, berharap tidak dikunci; Aji sudah diajarkan oleh Pretty tentang yang namanya kunci pintu).


Klek.


Terbuka. Aji kaget. Perlahan pemuda dari jaman Hindu-Buddha itu masuk ke dalam. Pertama Aji menyodorkan kepala untuk melihat ke dalam. Yang di saat itulah, Shania keluar dari kamar mandi tanpa busana. Hampir saja Aji mimisan. Kedua mata Aji melotot. Baru kali pertama Aji melihat tubuh tanpa busana lawan jenisnya. Satu lagi, Aji mulai merasakan alat *********** mendadak menegang.


Shania menoleh dan langsung naik pitam. Gadis itu mendatangi Aji dengan mata nyalang. "Brengsek, ketuk pintu dulu kenapa? Bukannya udah pernah dikasih tahu, kalau mau masuk, ketuk pintu dulu."


"Tadi Aji sudah mengetuk pintu, kamu tidak keluar-keluar juga. Ya sudah, Aji memutuskan untuk masuk." dalih Aji.

__ADS_1


"Yah, kan bisa tunggu di luar, Aji," ujar Shania dengan kedua tangan mengepal erat. "Sekarang kamu keluar dulu. Aku mau pakai baju dulu."


Aji tak langsung menurut. Air liurnya tertelan. Naluri lelaki Aji spontan memandangi tubuh Shania dari ujung rambut hingga ujung kaki. Astaga, Shania sungguh perempuan paling indah. Nyatakah pemandangan ini? Ingin rasanya Aji menyentuh buah dada Shania yang Aji sangat tergoda untuk meremasnya. Dengan tinggi di atas rata-rata (yang menurut prediksi Aji, Shania bertinggi badan sekitar 175 centimeter, sebab Shania perempuan paling tinggi di antara tujuh gadis), Shania sangat pantas menjadi permaisuri. Jikalau Aji ini seorang adipati, Shania harus menjadi permaisurinya.


"Ehem," Shania mulai makin geram dengan kelakuan Aji. Apa sebelumnya Aji ini bukan pria baik-baik? Pikiran Shania mulai nakal. Jangan-jangan Aji ini pernah menjadi bandit. Mungkin Aji ini buronan dan tengah dalam pelarian hingga menabrak mobil Pretty.


"Eh, maaf, Shania," Aji langsung membuang muka dengan kedua pipi bersemu merah. Akan tetapi, diam-diam Aji masih coba memandangi kemolekan tubuh Shania. Aji menelan saliva lagi. Pantatnya Shania besar juga, pikir Aji yang lagi-lagi berpikiran untuk meremasnya, khususnya sesuatu di dekat bokong Shania.


"Kamu keluar dulu, Aji. Nanti aku yang ke sana. Kamu ke sini karena disuruh Salman, kan?" ujar Shania yang memberikan kode kepada Aji untuk menutupi mata Aji.


"Maksudnya?" Ingin rasanya Shania menjotos Aji.


"Iya, tidak berpakaian begini. Apa tidak bisa ditutupi dengan kain atau kemban? Kapan saja ada laki-laki yang melihat." kata Aji sok menggurui.

__ADS_1


"Iya, laki-laki itu kamu. Sekarang kamu keluar, buruan. Aku malu, Aji." pinta Shania dengan kedua pipi memerah. Sekonyong-konyong ada perasaan aneh hinggap di Shania. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar. Kedua mata Shania terus saja memandangi kedua mata Aji. Lalu, masing-masing dari tangan keduanya saling menggapai. Sama seperti Pretty saat itu, napas Shania terasa berat. Aji menelan saliva. Hasrat kelelakiannya seperti akan menang. Tinggal sedikit lagi, impian Aji tercapai. Sejak dulu, Aji ingin sekali memeluk lawan jenisnya. Apa ini satu kesempatan yang diberikan Dewa Wisnu?


"Ehem,..." Ternyata Pretty berdiri tepat di belakang Aji. "Ini yang gak gue suka dari lu, Shan. Bisanya ceramahin, tapi gak dilakuin. Gue dituduh ciuman sama Aji, eh sendirinya lebih gila dari gue. Shan, inget, kasihan Aji. Masih lu mau manfaatin. Cowok kan banyak, kenapa harus Aji?"


Shania tergesa-gesa untuk melepaskan pegangan tersebut. "Apa sih lu, Pretty? Yang tadi itu gak kayak yang lu pikirin."


"Nah, gue juga sama kalau gitu. Waktu itu nggak sengaja juga. Tapi, yang gue lihat, lu kayaknya sengaja. Salman sepupu lu, kan?" ujar Pretty ofensif. "Ngaku aja, deh."


"Maksud lu apa?" tanya Shania meradang.


Pretty menarik tangan Aji. "Ji, ayo ikut gue. Dan, lu, Shania, buruan pake baju. Nggak malu apa dilihat banyak orang?"


Benar saja, orang-orang yang melintas apartemen Shania seperti mendapatkan pemandangan panas secara gratis. Langsung saja Shania mendorong Pretty dan Aji untuk keluar, dan segera mengunci pintu.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2