
"Eh, ada Pretty di sini," seru Anin yang menghampiri Pretty dan Aya. Anin langsung duduk tanpa disuruh.
Kedua mata Pretty melotot ke arah Aya. Pretty merasa masuk dalam perangkap. Aya sontak tergesa-gesa menyantap soto babat hingga tersedak.
Tak hanya Anin yang datang, yang lainnya ikut menghampiri pertemuan yang seharusnya dihadiri oleh Aya dan Pretty saja. Ada Mareta, Tasya, dan Shania. Mereka bertiga cengar-cengir dan menyodorkan tanda V di tangan sebagai permohonan maaf.
"Ay, kok lu malah kasih tau anak-anak? Gue kan pengen ngobrol berdua aja sama lu, Ay. Kayak Anin, lu, sekarang. Ember."
"Maaf, Pretty, waktu SMS kamu masuk, HP aku lagi ada di tangan Anin."
"Lagian, kenapa harus ngobrol berdua aja? Katanya, sahabat segeng, tapi ngobrolnya cuma berdua aja. Jadi, seorang Pretty Morning Glory Sumaili kayak gini permainannya? Hobi ngumpet-ngumpet, temen-temen, orangnya sekarang. Perlu dibentak nggak, nih?"
"Apa sih lu, Nin?" tukas Pretty.
"Pretty," Shania yang berparas khas India (karena memang berdarah India), angkat bicara. "jujur gue bilang di depan yang lainnya juga, gue sebetulnya tidak terlalu keberatan lu dan Aya ketemu berdua. Itu hak lu dan Aya juga."
__ADS_1
"Iya, nggak bisa gitu, dong, Shan. Kita segeng, kumpulnya harus bertujuh. Kalau ada masalah, diselesaikan bertujuh." protes Anin dengan mata melotot ke arah Shania.
"Lu terlalu berlebihan. Nggak harus begitu juga, Anindita." Hanya Shania yang memanggil Anin dengan sapaan tersebut. Shania berusaha tetap tersenyum menghadapi Anin yang cukup keras kepala (itu menurut anggapan Shania). Memang antara Anin dan Pretty, kedua perempuan itu lebih sering terlibat percekcokan daripada akur.
"Gue setuju sama Shania." ucap Pretty yang amat bahagia dibela Shania. "Lu kadang suka lebay, Nin. Ember juga."
Anin sekonyong-konyong memanggil pelayan dan memesan sepiring nasi goreng. Yang lainnya juga ikut memesan. Pretty mulai pusing. Pretty berharap teman-temannya ini tak minta dibayari.
"Rohaya, lu sudah bilang tentang rencana kita?" tanya Shania tenang kepada Aya. Nama depan Aya sebetulnya Rohaya, dan biasa dipanggil Aya.
"Maaf, deh, Pretty, gue dan lainnya terpaksa. Kalau melibatkan lu, bakal ada drama yang nggak perlu. Lu kan orangnya banyak maunya. Tuntutannya banyak. Mending tanpa lu, dan lu tinggal terima beres." ujar Shania tegas. Raut muka Shania cukup tegang. Jika sudah setegang begitu, susah mendebat seorang Shania Khan.
"Brengsek lu semua!" umpat Pretty. Pretty segera bangkit dari tempat duduk.
"Lu mau ke mana?" tanya Shania menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Ngambekan orangnya," Anin tertawa. "Pretty, inget umur, lah. Lu udah dua puluh dua. Punya adek yang baru masuk SMA juga. Dewasa dikit kenapa? Duduk, lah. Kita mau ngebahas soal Aji. Yang kita mau bahas itu Aji, bukan lu yang lagi naksir Aji."
"Duduk, Pretty Morning Glory," Aura kepemimpinan seorang Shania keluar. Di antara tujuh gadis tersebut, hanya Shania yang berjiwa, pemimpin. "Anin betul. Don't be childish. Please, be mature. Grow up."
"Eh, emang betul yang dibilang Anin, lu naksir Aji?" timpal Mareta.
Pretty memaksakan diri untuk duduk kembali. Ia mendesah lagi.
"Bener, lah. Makanya Pretty juga yang maksain diri buat bawa Aji ke dalem mobil, hahaha..." seru Anin tertawa. Anin selalu puas menertawakan Pretty. Anin dan Pretty merupakan dua orang sahabat yang juga rival. Mereka berdua nyaris selalu bersaing untuk apapun. Yang satu tidak mau kalah dari yang lainnya.
"Cinta pada pandangan pertama. Pretty kayak lagi didatengin pangeran kuda putihnya. Pak ketipak ketipuk." Tasya langsung menirukan suara kuda.
"Eh, tapi aneh juga, kenapa bisa Aji waktu itu muncul mendadak di depan mobil Pretty? Sebelumnya, langitnya sempat agak mendung. Kalau menurut aku, agak ganjil." kata Aya yang segera meluruskan topik pembicaraan. "Apa jangan-jangan Aji itu manusia super--dan bukan manusia biasa?"
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1