
Aji mendelik ke sana-ke mari. Ia bingung. Super bingung. Sebetulnya dia tengah berada di mana. Bola matanya hampir saja meloncat keluar. Perasaan pemandangan dusunnya itu tak seperti ini. Sejak kapan rusa-rusa jadi memiliki kecepatan luar biasa? Biasanya dirinya bisa menangkap satu rusa. Kini ia yang malah diseruduk.
"Brengsek!!!" hardik salah seorang yang menaiki rusa itu. Ah mungkin itu kuda, bukannya rusa. Dari bentuknya, lebih mirip kuda. "Jangan di jalan kenapa sih!? Dasar udik! Baru pertama ke kota yah?"
Ini kota? pikir Aji berkernyit dahi. Selama ini ia kira tempat ini dusun. Sudah lama sekali ia ingin bisa ke kota. Di kota segalanya serba ada. Berhubung jarak dusun ke kota cukup memakan waktu, ia hanya bisa sekali seminggu ke kota untuk menjual buruannya.
Masih dalam kebingungan, Aji menepi. Berkali-kali lelaki yang mengikat ikat kepala itu mengentak-entakkan kaki. Mengapa tanah ini lebih tinggi daripada yang itu? Apa ini? Ilmu sihir apa yang mereka gunakan? Mereka pasti sungguh memiliki kesaktian mandraguna yang tiada tara.
Aji terus mengentak-entakkan kaki. Tak peduli ia harus diperhatikan beberapa lusin mata. Pemandangan di hadapannya sungguh bikin pusing tujuh kepalang. Gila, daerah apa ini? Ia sama sekali tak paham. Yang ia ingat, ia keluar dari rumah kecilnya yang begitu nyaman sekali untuk pergi berburu. Di sabana, mendadak cuacanya berubah total. Dari cerah menjadi berawan. Angin berembus kencang. Awan kumulo-nimbus yang pekat, datang mengepung langit. Sejenis topan datang. Namun topan yang ini cukup aneh. Lebih tampak sebuah lubang besar yang perlahan beringsut padanya. Entah mengapa ia jadi bergidik. Pikirnya, lubang itu berisi sekumpulan dedemit yang siap menyantapnya. Mau kabur, tapi sudah telat. Lubang itu menelannya hidup-hidup beserta beberapa makhluk hidup yang juga telat melangkah. Hingga, hasil akhirnya, selain bokongnya yang sakit, yah pemandangan absurd depan matanya.
...
Dengan menatap langit perkotaan di dunia Baru yang menurut Aji, aneh bin ajaib, Aji coba mengingat bagaimana caranya ia bisa kembali ke dunia di mana Pretty tinggal. Penuh keajaiban. Aji tak habis pikir, lubang di langit itu bagaimana bisa muncul. Lubang itu lalu mengisap dan membuat bokongnya sakit akibat bergesekan dengan jalan beraspal (di jaman Aji, jalannya belum beraspal yang bisa becek jika turun hujan). Setelah itu, mobil minibus itu muncul--yang disangka Aji sebagai kereta kuda. Yang dari kereta kuda itulah, tujuh orang gadis cantik berhamburan. Pertemuan dengan tujuh gadis itu membuat Aji serasa menjadi Jaka Tarub, idolanya.
Aji tersenyum dan kedua pipinya memerah. Ia senang doanya secepat ini dikabulkan oleh para dewa. Selalu terjadi suatu keajaiban, jika kita sangat mempercayai apa yang kita doakan. Saat Aji menoleh sebentar, ada Pretty. Pretty ditemani Lani.
"Itu, tuh, si Aji, Mbak Pretty," ujar Lani nyengir. "Bapak ke dalam dulu. Silahkan bermesra-mesraan. Udah pada gede ini. Tahu mana yang benar, mana yang salah. Bisa saling bertanggungjawab juga."
__ADS_1
Lani melengos untuk membiarkan Aji dan Pretty berdua saja.
Pretty beringsut ke arah Aji. Gadis itu malu-malu untuk duduk di samping dan menatap Aji.
Aji juga sama, walau lebih malu Aji.
Oh, biar tidak bingung, lupa diberitahukan bahwa Aji diberikan kesempatan untuk tinggal di rumah Pretty. Sulit dipercaya, kedua orang tua Pretty malah mempercayai cerita Pretty tentang Aji yang muncul mendadak di hadapan mobil minibus tersebut. Pretty sempat berpikir, apakah Mommy menduga Pretty naksir Aji. Maka dari itu, Mommy memberikan ijin agar Aji tinggal di dalam rumah. Padahal bahaya, kan, untuk membiarkan seorang Aji tinggal bersama. Pretty sampai menggelengkan kepalanya--yang melihat tingkah laku absurd Mommy. Jika Mommy sudah bersuara, Daddy pasti setuju. Di keluarga Pretty, suara Mommy lebih dominan.
"Aji," desis Pretty menatap ke arah Aji.
"Jangan menghilang lagi."
Entah kenapa Aji menjadi kikuk. "I, iya,..."
Hening.
Aji teringat kejadian aneh sebelumnya. Begitu Aji tidur, ia serasa ada yang mengisapnya dan... blaaaasssttt... pindah tempat, waktu, dunia.
__ADS_1
...
Aji tersenyum dan meninggalkan ibunya sendirian saja di dalam kamar. Sembari berjalan menuju selasar yang berada tak jauh dari rumahnya yang kecil, Aji bersiul-siul sembari menatap bulan purnama. Di penglihatan Aji, bulan purnama itu menjelma menjadi wajah Pretty.
"Pretty, pancen ayu iku sampeyan. Aku pancene pengin nggawe sampeyan bojoku." desah Aji menatap bulan.
Aji sekonyong-konyong duduk di atas atas tempat duduk kecil. Entah ada apa yang terjadi, mata Aji terasa berat, sepertinya dewa-dewi mengabulkan doa Aji juga, Aji sudah berpindah tempat. Di hadapan Aji, seorang ibu paruh baya sontak berteriak. Di saat itulah, perempuan yang didambakan Aji akhirnya muncul di hadapan Aji, yang seperti sekarang, Aji duduk di samping Pretty.
Perasaan aneh ini apa namanya? Jantung Aji makin berdebar-debar. Kedua mata Aji serasa ingin menatap Pretty melulu. Inikah cinta? Apakah setiap pasangan suami-istri di desa Aji pasti ajah merasakan perasaan yang sama?
Tahu tengah ditatap, Pretty melirik sekilas ke arah Aji, lalu memalingkan muka ke arah bawah, yang kebetulan melintaslah seekor kodok. Biasanya Pretty akan langsung berteriak setiap melihat kodok. Kali ini Pretty tidak melakukannya. Perasaan aneh yang tengah menyergap Pretty telah mengalahkan ketakutannya akan kodok.
Salah tingkah. Pretty mengira ia hanya mengucapkannya dalam hati. Nyatanya, suaranya terdengar hingga gendang telinga Aji. Ujar Pretty, "I love you so much, Aji,"
Jawab Aji, "Kamu bicara apa? Bahasa apa itu?"
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1