Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Pretty & Aya


__ADS_3

"Bener, nih, nggak apa-apa?" tanya Aya ragu-ragu. Dari antara tujuh gadis tersebut, Aya merupakan gadis yang paling kalem. Tidak hanya paling kalem, Aya juga yang sering merasa tidak enak. Paling pendiam dan yang terbijak di antara para gadis.


"Nyante aja lagi, Ay. Kita temenan udah lama. Gue kan udah sering nraktir lu. Buruan, lu mau pesen apa?" kata Pretty tersenyum.


"Nanti aku ganti. Pasti. Aku janji." ucap Aya yang mulai membaca daftar menu.


Mau dibilang "Tak usah pun", pasti Aya akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Pretty hanya bisa tersenyum, lalu menyebutkan pesanannya kepada pelayan, "Satu kerang hijau. Lu apa, Ay?"


"Soto babat aja." ujar Aya.


Sepertinya Pretty tahu alasan Aya memilih soto babat. Dari antara semua yang ada di daftar menu, soto babat termasuk salah satu yang cukup murah. Aya mungkin akan berkata, "Biar nanti aku bayarnya gampang."


Pretty hanya mendesah dan menggelengkan kepala. Percuma didebat juga. Padahal Pretty nyaris tak pernah perhitungan kepada mereka yang sudah Pretty anggap teman. Menurut anggapan Pretty, pantang memberikan hutang kepada teman. Pretty juga memang suka mentraktir teman.


"Jangan lupa nasinya sebakul, yah, Bang. Porsi dua orang."


"Untuk minumannya?"


"Jus alpukat. Lu apa, Ay?"

__ADS_1


"Air putih."


"Ay, air putih pasti dikasih. Yang lain, dong."


Lagi-lagi Aya memesan yang murah: jeruk hangat. Selanjutnya, pelayan itu meninggalkan dua gadis itu berdua saja untuk kembali ke tujuan mereka ke restoran tersebut. Mereka berdua hendak membicarakan tentang Aji.


"Eh, Pretty, maaf yah," Aya membuka obrolan setelah hening beberapa menit. Pandangan Pretty mulai beralih dari televisi yang memutar HBO.


"Iya, nggak apa-apa. Cuman gue masih kesel aja. Kenapa lu juga ikutan yang lain mojokin gue? Kenapa harus gue, sih? Lu gak tau aja se-stress apa gue kemarin. Kayak nyembunyiin buronan aja." tutur Pretty yang mendengus. Tampaknya Pretty cukup penuh perjuangan menyembunyikan Aji di dalam rumahnya.


"Iya, aku mengerti. Jadinya, Aji ada di rumah satpam kamu?"


"Bilang saja, calon menantu." ucap Aya sekenanya dan tentunya dan sepertinya Aya hanya ingin menggodai Pretty.


"Dih, diajarin siapa lu bisa becanda gitu?" Pretty meradang.


"Tapi, kamu suka, kan? Dari antara yang lain, cuma kamu, Pretty, yang antusias dengan laki-laki bernama Aji itu. Ditambah lagi, Aji lebih pantas tinggal di rumah kamu." goda Aya lagi.


"Atas landasan apa lu bilang lebih pantas rumah gue? Karena rumah gue lebih gede? Lu sekarang udah pinter ngomong, yah. Siapa sih yang ngajarin? Anin, yah?" serang balik Pretty. Yah, akhir-akhir ini Aya dan Anin tengah akrab. Pretty heran, bagaimana bisa Aya yang pendiam akrab dengan Anin yang bermulut ember.

__ADS_1


"Ya, maaf. Kalau keberatan, Aji sama aku saja. Nanti bisa aku suruh bantu di toko abang aku."


"Ya udah, Aji di rumah gue aja."


Aya hanya nyengir.


Pesanan lalu datang. Soto babat pesanan Aya diantar.


"Sabar, Pretty. Cuma sementara saja, Aji ada di rumah kamu. Setidaknya sampai kita semua berhasil menyelidiki siapa Aji yang sebenarnya. Tapi, perasaan aku bilang, Aji memang orang baik."


"Semoga."


"Anak-anak bilang, apa sebaiknya Aji di rumah kamu aja?"


"Hah?" Pretty makin emosi. "Yang bener aja, trus gue bilang ke ortu gue? Bisa digorok bokap nanti."


"Sabar, Pretty. Atau, kata Tasya, apa sebaiknya kita patungan buat cari tempat tinggal Aji? Mau?"


"Hmm... boleh juga, sih, itu... "

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2